Didapuk sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Jepara periode 2025–2030, Junarso menapaki kepemimpinan partai berbekal kaderisasi panjang dan pengalaman tiga periode di DPRD.
Mantan guru SMA ini mengonsolidasikan ideologi partai melalui penguatan sinergi tiga pilar. Struktur partai, legislatif, dan kepala daerah.
Seraya tetap aktif di bidang pendidikan dan kerja sosial melalui penyaluran bantuan serta pemberdayaan masyarakat di wilayah Jepara.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus
SENYUM anak-anak SMK Al Husain Keling tampak lepas pagi itu. Sumringah. Satu per satu, mereka menerima beasiswa Program Indonesia Pintar (PIP) yang diserahkan langsung oleh Junarso.
Tak ada panggung besar, tak ada seremoni berlebihan. Junarso menyapa, menyalami, lalu berbincang singkat dengan para siswa.
Menanyakan kabar sekolah, rencana setelah lulus, dan harapan mereka ke depan.
Suasana berlangsung akrab, nyaris seperti pertemuan guru dengan murid. Barangkali karena Junarso memang pernah berdiri di posisi itu. Di ruang kelas, mendampingi anak-anak muda menata masa depan mereka.
Momen tersebut menjadi potret keseharian Junarso, Ketua DPC PDI Perjuangan Jepara periode 2025–2030, dalam menjalankan peran politiknya.
Politik yang tidak dilepaskan dari dunia pendidikan dan kerja sosial, dua bidang yang sejak lama lekat dalam perjalanan hidupnya.
Junarso dipercaya memimpin DPC PDI Perjuangan Jepara melalui Konferensi Cabang (Konfercab) yang digelar pada akhir pekan lalu.
Dalam pidato pembukaannya, ia menegaskan kepemimpinan partai sebagai amanah organisasi.
“Puji syukur ke hadirat Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya, Konfercab PDI Perjuangan Kabupaten Jepara bisa terselenggara dengan baik dan sudah terbentuk kepengurusan partai periode 2025–2030,” ujar Junarso.
Pidato tersebut disampaikan di hadapan fungsionaris DPP dan DPD PDI Perjuangan, serta KSB PAC se-Kabupaten Jepara.
Forum itu menjadi titik awal konsolidasi struktur partai lima tahun ke depan.
Bagi Junarso, konsolidasi tidak sekadar pengisian jabatan, melainkan penguatan ideologi dan disiplin organisasi hingga tingkat paling bawah.
Struktur partai, menurutnya, harus hidup dan bekerja bersama rakyat, bukan sekadar administratif.
Ia menyampaikan terima kasih atas penugasan yang diberikan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, sekaligus menegaskan komitmen menjalankan perintah partai.
“Sebagai petugas partai yang diberi amanat untuk memimpin Jepara, saya akan menjalankan perintah partai sebaik-baiknya dan penuh tanggung jawab,” katanya.
Rekam jejak Junarso di PDI Perjuangan menunjukkan proses kaderisasi yang panjang.
Ia meniti jalur kepartaian dari tingkat ranting, PAC, hingga dipercaya menjadi Sekretaris DPC PDI Perjuangan Jepara sebelum akhirnya kini didapuk sebagai ketua.
Proses tersebut membentuk karakter kepemimpinan yang memahami struktur, tradisi organisasi, serta dinamika kader di akar rumput.
Sebagai Ketua DPC sekaligus Wakil Ketua DPRD Jepara, Junarso menempatkan sinergi tiga pilar partai—struktur partai, legislatif, dan kepala daerah—sebagai kerangka kerja politik di daerah.
Prinsip ini menjadi garis yang terus ia sampaikan dalam forum-forum internal partai.
“Yang segera kami siapkan adalah mempersiapkan barisan yang solid dan kompak untuk menjalankan tugas-tugas kepartaian,” tegasnya.
Sinergi tersebut diarahkan untuk menjaga kepercayaan rakyat terhadap PDI Perjuangan sebagai partai yang konsisten memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.
“Semoga ke depan PDI Perjuangan Kabupaten Jepara bisa lebih dipercaya oleh rakyat sebagai partai yang mampu memperjuangkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Di DPRD Jepara, Junarso tercatat sebagai anggota dewan selama tiga periode berturut-turut: 2009–2014, 2014–2019, dan 2019–2024. Ia juga pernah menjabat Ketua DPRD Jepara pada 2017.
Saat ini, ia mengemban amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Jepara, mewakili daerah pemilihan Kembang, Keling, dan Donorojo—wilayah utara Jepara dengan karakter geografis dan sosial yang khas.
Di mana sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan menjadi tumpuan hidup banyak keluarga.
Peran ganda sebagai pimpinan partai dan pimpinan legislatif menempatkan Junarso pada posisi strategis dalam menghubungkan keputusan politik dengan kebutuhan riil masyarakat.
Latar belakang Junarso di dunia pendidikan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas sosialnya.
Ia merupakan mantan guru SMA dan Ketua Yayasan Syeh Maulana Ahmad Husain, yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan keagamaan.
Melalui yayasan tersebut, Junarso membina berbagai lembaga pendidikan, mulai dari PAUD, TK, MI, MTs, SMK, Madrasah Diniyah, hingga TPQ.
Yayasan ini juga menaungi Pondok Pesantren Al Husain serta Panti Asuhan Al Husain, yang menjadi ruang pengabdian sosial bagi anak-anak yatim dan dhuafa.
Di luar pendidikan formal, Junarso juga dikenal sebagai pembina relawan sosial dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Ia aktif menyalurkan bantuan sembako, kursi roda bagi warga sakit dan lansia, serta memfasilitasi berbagai pelatihan ekonomi produktif bagi masyarakat desa
Dalam beberapa tahun terakhir, fokus pengabdiannya banyak diarahkan pada sektor pertanian dan ketahanan pangan keluarga.
Salah satu inisiatifnya adalah mendorong terbentuknya ekosistem pertanian terintegrasi melalui Omah Tani di Desa Watu Aji.
Gagasan tersebut bermula dari diskusi-diskusi yang ia jalankan bersama petani milenial. Menurut Junarso, sistem pertanian terintegrasi akan jauh lebih efektif karena antar-komoditas saling mendukung.
Di Omah Tani, kebun alpukat dikelola berdampingan dengan peternakan kambing. Limbah kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik, sehingga seluruh sistem berjalan secara mandiri dan ramah lingkungan.
“Sekecil apa pun lahan yang kita miliki, harus mampu kita kelola untuk ketahanan pangan keluarga,” ucapnya.
Hal tersebut menjadi prinsip yang kerap ia sampaikan kepada para petani. Omah Tani sendiri dirancang bukan sekadar lahan percontohan, tetapi juga ruang diskusi terbuka.
Tempat bertukar gagasan tentang pertanian, perkebunan, peternakan, hingga budidaya ikan air tawar.
Di sana, petani muda diajak belajar mengelola usaha tani secara lebih efektif dan efisien.
Menurut Junarso, jika mampu dikelola dengan baik, sektor pertanian akan memberikan kesejahteraan yang layak bagi petani. Ia menekankan bahwa proses tersebut membutuhkan waktu, kesungguhan, dan pendampingan yang konsisten.
Ia juga mendorong pemerintah daerah agar hadir lebih kuat dalam sektor ini, terutama melalui penyediaan tenaga pendamping pertanian secara maksimal.
Kelembagaan desa seperti gapoktan dan poktan, menurutnya, harus dihidupkan kembali sebagai bagian tulang punggung ekonomi desa.
Selain itu, Junarso juga menjabat sebagai Ketua KSPPS (Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah) Al Husain Prima.
Melalui koperasi ini, ia berupaya memperluas akses permodalan berbasis syariah bagi pelaku usaha kecil dan petani di wilayah Jepara.
Dalam pidatonya sebagai Ketua DPC, Junarso menegaskan arah kerja partai melalui konsep Lima Mantap PDI Perjuangan.
“Kita mewujudkan lima mantap PDI Perjuangan, yaitu mantap ideologi, mantap organisasi, mantap kader, mantap program, dan mantap sumber daya,” terangnya.
Menurutnya, seluruh agenda tersebut hanya dapat terwujud apabila kader menjaga kesatuan dan soliditas. “Ini semua dapat terwujud apabila kita selalu bisa menjaga kesatuan dan persatuan, kompak dan solid,” pungkasnya.
Pria yang lahir pada 24 Desember 1965 ini, telah melalui dinamika panjang dunia pendidikan, organisasi, dan politik lokal Jepara. Dari ruang kelas, struktur partai, hingga ruang sidang DPRD, perannya bergerak dalam satu garis pengabdian.(*/war)
Editor : Ali Mustofa