Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jepara Kini Punya Pusat Jajanan Kuliner, Ini Lokasinya

Ali Mustofa • Selasa, 20 September 2022 | 01:53 WIB
RAMAI: Warga sekitar mengunjungi Mangunsarkoro Street, pusat jajanan dan kuliner yang terselenggara di Jalan Mangunsarkoro, Kelurahan Panggang, Jepara (18/09). (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
RAMAI: Warga sekitar mengunjungi Mangunsarkoro Street, pusat jajanan dan kuliner yang terselenggara di Jalan Mangunsarkoro, Kelurahan Panggang, Jepara (18/09). (NIBROS HASSANI/JAWA POS RADAR KUDUS)
JEPARA – Warga Jepara kini memiliki pusat jajanan dan kuliner setiap Minggu pagi. Sebutannya Mangunsarkoro Street (MSS). Menyediakan kuliner asli Jepara, kerajinan tangan, hingga pakaian.

Dari pantauan wartawan kemarin (18/09) pada sekitar pukul 08.30 pagi, Jalan Mangunsarkoro tersebut ditutup untuk para pengendara motor dan mobil. Mulai dari perempatan kantor Gabungan Organisasi Wanita hingga perempatan berikutnya. Tampak ada bambu yang disusun tinggi membentuk huruf M, dibawahnya bertuliskan “Paguyuban Mangunsarkoro Street”.

Di belakang bambu tersebut berdiri tenda-tenda putih yang menjual berbagai macam makanan. Tampak Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta bersama istri juga mendatangi lokasi tersebut.

Sekitar pukul 09.00, Ada pengunjung dari luar Jepara yang kebetulan juga mampir di acara kuliner tersebut. Adalah Cintya, warga Semarang yang sedang berkunjung ke Jepara baru-baru ini. Ia mendapat informasi dari temannya bahwa ada pusat kuliner Minggu pagi di Jalan Mangunsarkoro. “Rencananya mau beli makanan, sama lihat-lihat baju. Mungkin nanti beli (makanan) Rp 50 ribu,” ujar Cintya bersama temannya.

MSS sendiri sudah dimulai 16 Mei 2022 saat itu dilaunching oleh Bupati yangbertugas Dian Kristiandi. Kini MSS masih berjalan dan kian dikenal oleh masyarakat. Ahmad Sholichin, Lurah Panggang menjelaskan ada sekitar 80 tenda yang ada di MSS. “70 untuk UMKM yang menampung warga panggang, 10 untuk dari luar atau sponsorship,” ungkapnya.

Bila ada gelaran ini setiap minggunya rata-rata ada perputaran uang sekitar Rp 60-70 juta. Keuangan dikelola sendiri oleh paguyuban kelurahan.  Namun tidak ada bagi hasil, jadi semua keuntungan untuk warga. “Kami hanya fasilitasi saja,” jelas Sholichin.

Untuk kedepannya, Sholichin mengusulkan agar MSS bisa dikonsep mirip yang ada di Malioboro, Yogyakarta. Namun pihaknya membutuhkan bantuan dari pemerintah agar jembatan sekitar bisa ditutup. Sehingga jalan lebih lebar dan pedagang mendapat tempat yang lebih luas.

Yunus, salah satu pedagang yang menjual dagangannya di MSS mengaku senang. Yunus adalah pedagang adon-adon coro, minuman tradisional khas Jepara. Dalam sehari di MSS, ia bisa menjual 150 porsi mangkuk adon-adon coro. Penghasilannya juga meningkat dibanding saat berjualan sendiri. “Senang, ada temannya juga dari pedagang lain. Jadi di jalan ramai,” jelas Yunus yang juga merupakan warga asli Kelurahan Panggang. (nib/him) Editor : Ali Mustofa
#kerajinan tangan #jepara #kuliner jepara #pusat jajanan