alexametrics
32.1 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Desa Kemujan Karimunjawa Dijadikan Desa Pengawasan Pemilu

KARIMUNJAWA – Desa Kemujan, Karimunjawa jadi desa binaan Bawaslu Jepara sebagai Desa Pengawasan Pemilu kemarin. Pemilihan desa itu dilatar belakangi karena masyarakatnya yang multikultural.

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu Jepara, Kunjariyanto menyatakan, masyarakat yang multikultural itu bisa dijadikan sebagai mitra Bawaslu Jepara dalam mencegah politisasi suku, agama, ras, antargolongan (SARA), berita bohong, dan politik uang. Ia menyebut masyarakat Desa Kemujan terdiri dari beberapa suku dan etnis. Seperti Jawa, Bugis, Madura, Buton, Bajo, dan suku lain. Sehingga rawan menjadi sasaran oknum politik untuk menerapkan sentimen SARA.

“Untuk itu perlu bagi Bawaslu Jepara mengajak masyarakat Desa Kemujan untuk memahami aturan pemilu. Serta menjadi pengawas partisipatif untuk ikut serta mengawasi politik SARA, berita bohong, dan politik uang,” tambahnya.

Baca Juga :  Kabar Baik! Kapal Tujuan Karimunjawa Tetap Beroperasi saat Hari H Lebaran

Selain itu, jarak yang cukup jauh antara pusat kota dengan kepulauan Karimunjawa khususnya Desa Kemujan menjadikannya kawasan yang jauh dari pusat informasi khususnya terkait kepemiluan. “Informasi terkait peraturan pemilu ini selalu dinamis. Sehingga perlu diketahui masyarakat luas. Dengan peresmian ini harapannya informasi dan pengetahuan terkait pengawasan pemilu bisa tersampaikan,” kata Kunjariyanto.

Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa, M. Zarkoni mengatakan peresmian itu hanya awal dari rentetan kegiatan pembinaan di Desa Kemujan ke depan. “Karena Pemilu masih panjang pada 2024 maka perlu mempersiapkan diri lebih baik sejak sekarang. Selain melaksanakan sosialisasi, Bawaslu Jepara juga menjalin mitra dengan desa-desa di Jepara. Salah satunya desa Kemujan,” tuturnya.






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

KARIMUNJAWA – Desa Kemujan, Karimunjawa jadi desa binaan Bawaslu Jepara sebagai Desa Pengawasan Pemilu kemarin. Pemilihan desa itu dilatar belakangi karena masyarakatnya yang multikultural.

Koordinator Divisi Penanganan Pelanggaran Bawaslu Jepara, Kunjariyanto menyatakan, masyarakat yang multikultural itu bisa dijadikan sebagai mitra Bawaslu Jepara dalam mencegah politisasi suku, agama, ras, antargolongan (SARA), berita bohong, dan politik uang. Ia menyebut masyarakat Desa Kemujan terdiri dari beberapa suku dan etnis. Seperti Jawa, Bugis, Madura, Buton, Bajo, dan suku lain. Sehingga rawan menjadi sasaran oknum politik untuk menerapkan sentimen SARA.

“Untuk itu perlu bagi Bawaslu Jepara mengajak masyarakat Desa Kemujan untuk memahami aturan pemilu. Serta menjadi pengawas partisipatif untuk ikut serta mengawasi politik SARA, berita bohong, dan politik uang,” tambahnya.

Baca Juga :  Lima Investor Tertarik Investasi di Jepara, Siapa Saja?

Selain itu, jarak yang cukup jauh antara pusat kota dengan kepulauan Karimunjawa khususnya Desa Kemujan menjadikannya kawasan yang jauh dari pusat informasi khususnya terkait kepemiluan. “Informasi terkait peraturan pemilu ini selalu dinamis. Sehingga perlu diketahui masyarakat luas. Dengan peresmian ini harapannya informasi dan pengetahuan terkait pengawasan pemilu bisa tersampaikan,” kata Kunjariyanto.

Koordinator Divisi Penyelesaian Sengketa, M. Zarkoni mengatakan peresmian itu hanya awal dari rentetan kegiatan pembinaan di Desa Kemujan ke depan. “Karena Pemilu masih panjang pada 2024 maka perlu mempersiapkan diri lebih baik sejak sekarang. Selain melaksanakan sosialisasi, Bawaslu Jepara juga menjalin mitra dengan desa-desa di Jepara. Salah satunya desa Kemujan,” tuturnya.






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

Most Read

Artikel Terbaru

/