alexametrics
24.8 C
Kudus
Sunday, June 5, 2022

Dua Tahun Digelar Terbatas, Perang Obor di Jepara Kembali Dibuka untuk Umum

JEPARA – Rangkaian sedekah bumi Desa Tegalsambi, Tahunan, telah dimulai sejak dua pekan lalu. Puncak acaranya berupa rangkaian kirab pusaka dan perang obor pada 20 Juni mendatang. Rencananya, perayaan tersebut berbeda dengan dua tahun lalu yang digelar terbatas, karena pandemi. Tahun ini, terbuka untuk umum.

Dua tahun lalu, perayaan tersebut memang masih diselenggarakan. Namun, secara terutup dan terbatas. Biasanya saat prosesi perang obor menghabiskan ratusan obor. Namun, dalam kurun waktu dua tahun lalu, jumlahnya tak lebih dari 10 obor. Waktunya pun tak diumumkan. Sebab, untuk menghindari kerumunan. Saat penonton telah pulang, baru dilaksanakan perang obor. Hanya sebagai syarat.

”Inshaallah tahun ini boleh dihadiri penonton,” ungkap Kepala Desa atau Petinggi Tegalsambi Agus Susanto kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Baca Juga :  Sambut Hari Raya Nepi, Umat Hindu di Jepara Gelar Mecaru

Ia berharap, tradisi perang obor bisa lancar diselenggarakan. Sebab, tradisi tersebut telah melekat di masyarakat dan jadi rutinitas setiap sedekah bumi. Bahkan, pelaksanaannya pun masuk dalam kalender wisata yang perlu dikunjungi di Kabupaten Jepara.

Tahun ini, agenda sedekah bumi tersebut dimulai dengan kegiatan barikan. Ada lima kali barikan dengan tempat yang berbeda. Masing-masing di tempat para leluhur pendiri atau cikal bakal Desa Tegalsambi. Dilanjutkan kegiatan selametan, tasyakuran, dan khataman Alquran.

Pada 20 Juni mendatang, sebelum dilaksanakan kirab pusaka dan perang obor, dilaksanakan pentas wayangan terlebih dahulu di Pendapa Balai Desa Tegalsambi. Sebagai akhir acara rangkaian sedekah bumi ini, ditutup dengan nyepasar keesokan harinya. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Rangkaian sedekah bumi Desa Tegalsambi, Tahunan, telah dimulai sejak dua pekan lalu. Puncak acaranya berupa rangkaian kirab pusaka dan perang obor pada 20 Juni mendatang. Rencananya, perayaan tersebut berbeda dengan dua tahun lalu yang digelar terbatas, karena pandemi. Tahun ini, terbuka untuk umum.

Dua tahun lalu, perayaan tersebut memang masih diselenggarakan. Namun, secara terutup dan terbatas. Biasanya saat prosesi perang obor menghabiskan ratusan obor. Namun, dalam kurun waktu dua tahun lalu, jumlahnya tak lebih dari 10 obor. Waktunya pun tak diumumkan. Sebab, untuk menghindari kerumunan. Saat penonton telah pulang, baru dilaksanakan perang obor. Hanya sebagai syarat.

”Inshaallah tahun ini boleh dihadiri penonton,” ungkap Kepala Desa atau Petinggi Tegalsambi Agus Susanto kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.

Baca Juga :  Tahun Ini SMP di Jepara Dikucur DAK Senilai Rp 21 Miliar

Ia berharap, tradisi perang obor bisa lancar diselenggarakan. Sebab, tradisi tersebut telah melekat di masyarakat dan jadi rutinitas setiap sedekah bumi. Bahkan, pelaksanaannya pun masuk dalam kalender wisata yang perlu dikunjungi di Kabupaten Jepara.

Tahun ini, agenda sedekah bumi tersebut dimulai dengan kegiatan barikan. Ada lima kali barikan dengan tempat yang berbeda. Masing-masing di tempat para leluhur pendiri atau cikal bakal Desa Tegalsambi. Dilanjutkan kegiatan selametan, tasyakuran, dan khataman Alquran.

Pada 20 Juni mendatang, sebelum dilaksanakan kirab pusaka dan perang obor, dilaksanakan pentas wayangan terlebih dahulu di Pendapa Balai Desa Tegalsambi. Sebagai akhir acara rangkaian sedekah bumi ini, ditutup dengan nyepasar keesokan harinya. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/