alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Perbaikan Jembatan Jebol Mayong Butuh Waktu Satu Bulan

JEPARA – Jembatan yang ambrol di Desa Jebol, Mayong, saat ini sudah diperbaiki. Kendaraan juga sudah diperkenankan lewat di atasnya. Hanya saja, perbaikan jembatan tersebut belum sepenuhnya rampung. Paling tidak, masih butuh waktu sebulan lagi. Sementara saat ini kendaraan diperbolehkan melintas sekaligus memadatkan urukan.

Pasalnya, masih ada beberapa komponen jembatan yang belum terpasang. Di antaranya adalah pembatas sisi jembatan atau leneng. Juga pengerasan bagian jalannya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara Ary Bachtiar menjelaskan saat ini perbaikan jembatan tersebut masih berupa pengurukan di atas kontruksi jembatan. Saat ini jembatan tersebut kontruksinya berupa box culvert.


Itu adalah jenis beton pracetak berbentuk kotak yang diproduksi dengan menggunakan cetakan besi. Tujuan pembuatannya untuk kepentingan saluran dalam tanah atau gorong-gorong, beton ini juga merupakan salah satu dari jenis reinforced concrete. Yaitu beton bertulang yang memiliki kekuatan tarik yang lebih tinggi.

”Telah terpasang. Tapi perlu urukan di atasnya sebelum dilakukan pengerasan dengan aspal. Sebab itu sementara waktu jalurnya dibuka agar pemadatan bisa maksimal. Karena kalau pemadatan pakai tandem roller kurang maksimal,” terang Ary.

Baca Juga :  Korean Center Pertama di Jateng Resmi Berdiri

Pemadatannya diperkirakan butuh waktu sekitar sepuluh hari. ”Jadi dilewati, diuruk lagi, dilewati lagi, diuruk lagi. Kalau sudah betul-betul padat, baru dilakukan pengerasan dengan aspal,” tandas Ary.

Diketahui, jembatan ruas jalan Kabupaten di Desa Jebol, Mayong, ambrol Rabu (8/6) sekitar pukul 17.30. Jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Mayong dan Pancur dan daerah sekitarnya. Untuk memudahkan proses perbaikan, ruas jalan di sana sempat ditutup total.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus, jembatan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1970. Sejak saat itu, jembatan tersebut belum pernah mengalami perbaikan. Sementara, kendaraan yang melintas didominasi kendaraan truk bermuatan berat. Rata-rata truk tersebut memiliki beban gandar 14 hingga 15 ton beratnya. Padahal, maksimal beban gandar maksimal yang bisa dilalui adalah delapan ton. (rom/war)






Reporter: Nibros Hassani

JEPARA – Jembatan yang ambrol di Desa Jebol, Mayong, saat ini sudah diperbaiki. Kendaraan juga sudah diperkenankan lewat di atasnya. Hanya saja, perbaikan jembatan tersebut belum sepenuhnya rampung. Paling tidak, masih butuh waktu sebulan lagi. Sementara saat ini kendaraan diperbolehkan melintas sekaligus memadatkan urukan.

Pasalnya, masih ada beberapa komponen jembatan yang belum terpasang. Di antaranya adalah pembatas sisi jembatan atau leneng. Juga pengerasan bagian jalannya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara Ary Bachtiar menjelaskan saat ini perbaikan jembatan tersebut masih berupa pengurukan di atas kontruksi jembatan. Saat ini jembatan tersebut kontruksinya berupa box culvert.

Itu adalah jenis beton pracetak berbentuk kotak yang diproduksi dengan menggunakan cetakan besi. Tujuan pembuatannya untuk kepentingan saluran dalam tanah atau gorong-gorong, beton ini juga merupakan salah satu dari jenis reinforced concrete. Yaitu beton bertulang yang memiliki kekuatan tarik yang lebih tinggi.

”Telah terpasang. Tapi perlu urukan di atasnya sebelum dilakukan pengerasan dengan aspal. Sebab itu sementara waktu jalurnya dibuka agar pemadatan bisa maksimal. Karena kalau pemadatan pakai tandem roller kurang maksimal,” terang Ary.

Baca Juga :  Latifun Kembali Nakhodai Demokrat Jepara

Pemadatannya diperkirakan butuh waktu sekitar sepuluh hari. ”Jadi dilewati, diuruk lagi, dilewati lagi, diuruk lagi. Kalau sudah betul-betul padat, baru dilakukan pengerasan dengan aspal,” tandas Ary.

Diketahui, jembatan ruas jalan Kabupaten di Desa Jebol, Mayong, ambrol Rabu (8/6) sekitar pukul 17.30. Jembatan tersebut merupakan akses utama yang menghubungkan Mayong dan Pancur dan daerah sekitarnya. Untuk memudahkan proses perbaikan, ruas jalan di sana sempat ditutup total.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Kudus, jembatan tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1970. Sejak saat itu, jembatan tersebut belum pernah mengalami perbaikan. Sementara, kendaraan yang melintas didominasi kendaraan truk bermuatan berat. Rata-rata truk tersebut memiliki beban gandar 14 hingga 15 ton beratnya. Padahal, maksimal beban gandar maksimal yang bisa dilalui adalah delapan ton. (rom/war)






Reporter: Nibros Hassani

Most Read

Artikel Terbaru

/