alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Meriahnya Festival Penjor, Sedekah Bumi di Bangsri Libatkan 500 Penari

JEPARA – Tari Kolosal Warokan dan sendratari sejarah Desa Bangsri yang melibatkan 500 penari serta Festival Penjor memeriahkan rangkaian Sedekah Bumi Desa Bangsri, kemarin. Itu gelaran pertama Festival ini disambut antusias ribuan warga. Mereka rela kehujanan sejak awal hingga selesainya acara.

Petinggi Bangsri Sunaryo mengatakan, sejak ratusan tahun lalu budaya Jawa menempatkan penjor sebagai simbol kekayaan alam semesta. Karena itulah penjor dihadirkan sebagai ungkapan syukur warganya atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Sedangkan sepasang kembang mayang pelengkap penjor, ditempatkan sebagai simbol kerukunan seluruh warga.

“Festival ini muncul sebagai usulan saat rapat persiapan sedekah bumi yang melibatkan seluruh elemen desa,” katanya.


Rupanya usulan ini disambut antusias. Dari 18 RW yang ada di desa itu, 16 di antaranya mengirim penjor yang ditancapkan berjajar rapi di sisi barat lapangan.

Antusiasme juga tercermin dari kesediaan para sponsor dan pengusaha di desa itu membiayai berbagai rangkaian kegiatan dalam prosesi sedekah bumi.

Pada kesempatan tersebut, digelar pula pentas sendratari berjudul Suronggotho – Dewi Wiji yang menceritakan sejarah Desa Bangsri. Lalu tari kolosal berjudul Warokan yang melibatkan 500 penari. Para penari terdiri dari siswa se-Kecamatan Bangsri serta para guru dan pembimbing dari Bangsri, Kembang, dan Mlonggo. Tak peduli diguyur hujan. Demikian juga dengan para pesilat yang melakukan pertunjukan.

Baca Juga :  Karya Seniman Kota Ukir Dipamerkan di Taman Budaya Jateng

“Antusiasme seperti ini kami lihat sejak awal. Bahkan kebutuhan kegiatan spontanitas di luar anggaran yang disediakan juga disambut antusias. Kebutuhan biaya Rp 30 juta lebih, sebagian besar dicukupi sponsor dan masyarakat. Saya hanya mengeluarkan stimulan Rp 10 juta dari kantong pribadi,” kata Sunaryo.

Sunaryo berencana menempatkan festival dan tarian yang berakar dari sejarah desa ini sebagai kegiatan rutin dalam sedekah bumi. Festival Penjor akan dijadikan sebagai pembeda sedekah bumi di Desa Bangsri agar memiliki ciri khas.

“Festival Penjor ke depan akan jadi milik Desa Bangsri sekaligus menggugah kesadaran generasi muda pada budaya kita. Apalagi kami mempersiapkan diri menjadi rintisan desa wisata,” katanya.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Amin Ayahudi menyebut, kesepakatan warga dan pemerintah desa yang menempatkan penjor sebagai kekayaan budaya desa sebagai hal yang sangat positif dalam pelestarian budaya warisan leluhur. Dia membenarkan, Desa Bangsri ditempatkan sebagai rintisan desa wisata di Jepara. Amin Ayahudi juga menyebut, antusiasme yang terlihat dalam penyajian awal kegiatan budaya ini menjadi modal besar Bangsri sebagai Desa Wisata Budaya. (war)






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

JEPARA – Tari Kolosal Warokan dan sendratari sejarah Desa Bangsri yang melibatkan 500 penari serta Festival Penjor memeriahkan rangkaian Sedekah Bumi Desa Bangsri, kemarin. Itu gelaran pertama Festival ini disambut antusias ribuan warga. Mereka rela kehujanan sejak awal hingga selesainya acara.

Petinggi Bangsri Sunaryo mengatakan, sejak ratusan tahun lalu budaya Jawa menempatkan penjor sebagai simbol kekayaan alam semesta. Karena itulah penjor dihadirkan sebagai ungkapan syukur warganya atas segala nikmat yang diberikan Tuhan. Sedangkan sepasang kembang mayang pelengkap penjor, ditempatkan sebagai simbol kerukunan seluruh warga.

“Festival ini muncul sebagai usulan saat rapat persiapan sedekah bumi yang melibatkan seluruh elemen desa,” katanya.

Rupanya usulan ini disambut antusias. Dari 18 RW yang ada di desa itu, 16 di antaranya mengirim penjor yang ditancapkan berjajar rapi di sisi barat lapangan.

Antusiasme juga tercermin dari kesediaan para sponsor dan pengusaha di desa itu membiayai berbagai rangkaian kegiatan dalam prosesi sedekah bumi.

Pada kesempatan tersebut, digelar pula pentas sendratari berjudul Suronggotho – Dewi Wiji yang menceritakan sejarah Desa Bangsri. Lalu tari kolosal berjudul Warokan yang melibatkan 500 penari. Para penari terdiri dari siswa se-Kecamatan Bangsri serta para guru dan pembimbing dari Bangsri, Kembang, dan Mlonggo. Tak peduli diguyur hujan. Demikian juga dengan para pesilat yang melakukan pertunjukan.

Baca Juga :  Tiga Pejabat Diuji Kemendagri untuk Pengisian Kepala Disdukcapil Jepara

“Antusiasme seperti ini kami lihat sejak awal. Bahkan kebutuhan kegiatan spontanitas di luar anggaran yang disediakan juga disambut antusias. Kebutuhan biaya Rp 30 juta lebih, sebagian besar dicukupi sponsor dan masyarakat. Saya hanya mengeluarkan stimulan Rp 10 juta dari kantong pribadi,” kata Sunaryo.

Sunaryo berencana menempatkan festival dan tarian yang berakar dari sejarah desa ini sebagai kegiatan rutin dalam sedekah bumi. Festival Penjor akan dijadikan sebagai pembeda sedekah bumi di Desa Bangsri agar memiliki ciri khas.

“Festival Penjor ke depan akan jadi milik Desa Bangsri sekaligus menggugah kesadaran generasi muda pada budaya kita. Apalagi kami mempersiapkan diri menjadi rintisan desa wisata,” katanya.

Sekretaris Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Amin Ayahudi menyebut, kesepakatan warga dan pemerintah desa yang menempatkan penjor sebagai kekayaan budaya desa sebagai hal yang sangat positif dalam pelestarian budaya warisan leluhur. Dia membenarkan, Desa Bangsri ditempatkan sebagai rintisan desa wisata di Jepara. Amin Ayahudi juga menyebut, antusiasme yang terlihat dalam penyajian awal kegiatan budaya ini menjadi modal besar Bangsri sebagai Desa Wisata Budaya. (war)






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

Most Read

Artikel Terbaru

/