alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Belum Signifikan, Penanganan Rob di Jepara Butuh Rekayasa

JEPARA – Di kawasan pesisir Jepara, puncak gelombang pasang terjadi Senin (23/5) lalu. Saat ini, ketinggian air yang menggenang di beberapa titik mulai menurun. Hanya, untuk antisipasi ke depan perlu rekayasa yang tak murah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara Ary Bachtiar melalui Kabid Pengairan Agus Priyadi mengatakan, untuk mengatasi rob di Semarang, pemerintah membuat tanggul penahan. Tentunya untuk membangun itu, butuh rekayasa besar dan tak murah. ”Pembangunan breakwater juga tidak efektif menahan rob. Hanya bisa untuk mencegah abrasi,” terangnya.

Banjir rob di pesisir Jepara terjadi karena faktor pasang air laut. Ditambah dataran Kota Ukir memiliki ketinggian yang sama dengan permukaan air laut. Bila terjadi pasang dengan ketinggian signifikan, rob tak terhindarkan.

Baca Juga :  Sedang Dalam Perbaikan, Jalan Desa Sinanggul Macet Setengah Jam

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menjelaskan, penanganan rob di Jepara belum signifikan. Sebab, datangnya rob hanya di waktu tertentu. Sejauh ini, air pasang hanya siang hari. Mulai sekitar pukul 11.00 hingga 16.30. Pagi dan malam hari air kembali surut.

Adanya rob cukup berdampak bagi sektor pertanian warga yang lokasinya di pesisir. Seperti di Pantai Mpu Rancak rob mengakibatkan sekitar 10 hektare lahan pertanian terancam puso.

Dari pantauan di lapangan kemarin, air rob sudah mulai berkurang drastis. Biasanya menggenangi kawasan kampung nelayan di Desa Jobokuto, Jepara, kemarin tak tampak. Padahal kemarin hujan deras disertai angin kencang. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Di kawasan pesisir Jepara, puncak gelombang pasang terjadi Senin (23/5) lalu. Saat ini, ketinggian air yang menggenang di beberapa titik mulai menurun. Hanya, untuk antisipasi ke depan perlu rekayasa yang tak murah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara Ary Bachtiar melalui Kabid Pengairan Agus Priyadi mengatakan, untuk mengatasi rob di Semarang, pemerintah membuat tanggul penahan. Tentunya untuk membangun itu, butuh rekayasa besar dan tak murah. ”Pembangunan breakwater juga tidak efektif menahan rob. Hanya bisa untuk mencegah abrasi,” terangnya.

Banjir rob di pesisir Jepara terjadi karena faktor pasang air laut. Ditambah dataran Kota Ukir memiliki ketinggian yang sama dengan permukaan air laut. Bila terjadi pasang dengan ketinggian signifikan, rob tak terhindarkan.

Baca Juga :  Terungkap, Kronologi Tewasnya 2 Pemuda di Jepara Usai Pesta Miras Oplosan

Kepala Pelaksana BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menjelaskan, penanganan rob di Jepara belum signifikan. Sebab, datangnya rob hanya di waktu tertentu. Sejauh ini, air pasang hanya siang hari. Mulai sekitar pukul 11.00 hingga 16.30. Pagi dan malam hari air kembali surut.

Adanya rob cukup berdampak bagi sektor pertanian warga yang lokasinya di pesisir. Seperti di Pantai Mpu Rancak rob mengakibatkan sekitar 10 hektare lahan pertanian terancam puso.

Dari pantauan di lapangan kemarin, air rob sudah mulai berkurang drastis. Biasanya menggenangi kawasan kampung nelayan di Desa Jobokuto, Jepara, kemarin tak tampak. Padahal kemarin hujan deras disertai angin kencang. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/