Emprak Menolak Punah, Lestari Moerdijat Tanggap Sebulan Sekali Selama Setahun

JEPARA — Alunan musik tradisional berpadu ritmis. Suara kendang, rebana, saron, hingga organ mengalun mengikuti gerak tubuh para seniman. Enerjik.
Gelak tawa para penonton sesekali memecah suasana di Kelurahan Bapangan, Kecamatan/Kabupaten Jepara, pada Kamis (5/11) malam tersebut.
Sorot lampu panggung sederhana menerangi para seniman yang tampil atraktif. Menyambung hidup kesenian Emprak yang kini kian langka.
Suasana terasa hangat dan guyub di tengah riuhnya penonton yang memadati area pertunjukan.
Pemandangan menarik terlihat di deretan kursi penonton. Tak hanya kalangan sepuh yang hadir melepas rindu pada seni masa lalu, anak-anak dan generasi muda juga tampak antusias. Duduk manis menikmati pertunjukan.
Kehadiran mereka membawa secercah harapan, di tengah kekhawatiran akan hilangnya warisan leluhur.
Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan musiman. Melainkan sebuah gerakan nyata melawan kepunahan.
Di tengah gempuran modernisasi, grup Emprak Sido Mukti ini sengaja dihadirkan kembali ke tengah masyarakat untuk membuktikan bahwa budaya lokal masih memiliki taji dan menolak untuk dilupakan.
Gelaran ini diadakan di antaranya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Nasdem yang ke-15.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Pratikno, yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai NasDem Kabupaten Jepara, turut mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi seni tradisional saat ini.


