25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Membahayakan! Siswa SD di Jepara Ini Belajar di Bawah Plafon yang Disangga Bambu

JEPARA – Tiga ruang kelas di SDN 3 Nalumsari temboknya telah retak. Kelas 4 hingga kelas 6. Retakan-retakan tersebut membuat konstruksi tembok melengkung. Demi menjaga tembok tetap berdiri, sisi luar tembok itu disangga dengan bilah-bilah bambu. Di dalam kelas, siswa belajar di bawah plafon yang disangga bambu.

Selain itu, agar tak membahayakan para siswa, tembok dengan meja para siswa diberi jarak sekitar semeter. Di tiga kelas tersebut, bagian tengahnya juga diberi penyangga atap yang terbuat dari bambu. ”Karena bangunan. Kan satu kesatuan. Jadi waspada,” ungkap Zaenuri, 57, penjaga sekolah tersebut.

SDN 3 Nalumsari dibangun sekitar tahun 1980-an. Sementara Zaenuri telah bekerja di SD tersebut sejak tahun 1990-an. Ia mengungkapkan, tiga ruang yang mengalami kerusakan saat ini itu terakhir mendapat rehab sekitar tahun 2007 lalu. Saat itu ruang kelas tersebut diganti kusen pintu dan jendelanya. Temboknya di lapisi semen ulang. Namun kondisi baik tersebut tak berlangsung lama.

Baca Juga :  Miris! Korban Tewas usai Pesta Miras di Jepara Jadi 9 Orang

Pasalnya, retakan-retakan di tembok kembali muncul. Ia berusaha menambal retakan-retakan itu dengan semen. ”Tapi dari tahun ke tahun semakin parah,” ujar Zaenuri.

Menurutnya, ada beberapa faktor kerusakan di SD tersebut terjadi. Mulai dari usia bangunan, hingga karena kondisi tanah yang labil. Dengan kondisi tersebut, yang paling dikhawatirkan adalah saat kondisi hujan lebat disertai angin kencang.

Sebab itulah, Kepala SDN 3 Nalumsari Noor Fadhilah memasang penyangga dari bambu di tembok bagian luar sekolah. Agar tak membahayakan siswa bila terjadi sesuatu. ”Baru sekitar empat atau lima bulan lalu,” ungkapnya perempuan yang menjabat kepala sekolah di SD tersebut sejak pertangahan tahun ini. (rom/war)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Tiga ruang kelas di SDN 3 Nalumsari temboknya telah retak. Kelas 4 hingga kelas 6. Retakan-retakan tersebut membuat konstruksi tembok melengkung. Demi menjaga tembok tetap berdiri, sisi luar tembok itu disangga dengan bilah-bilah bambu. Di dalam kelas, siswa belajar di bawah plafon yang disangga bambu.

Selain itu, agar tak membahayakan para siswa, tembok dengan meja para siswa diberi jarak sekitar semeter. Di tiga kelas tersebut, bagian tengahnya juga diberi penyangga atap yang terbuat dari bambu. ”Karena bangunan. Kan satu kesatuan. Jadi waspada,” ungkap Zaenuri, 57, penjaga sekolah tersebut.

SDN 3 Nalumsari dibangun sekitar tahun 1980-an. Sementara Zaenuri telah bekerja di SD tersebut sejak tahun 1990-an. Ia mengungkapkan, tiga ruang yang mengalami kerusakan saat ini itu terakhir mendapat rehab sekitar tahun 2007 lalu. Saat itu ruang kelas tersebut diganti kusen pintu dan jendelanya. Temboknya di lapisi semen ulang. Namun kondisi baik tersebut tak berlangsung lama.

Baca Juga :  Investasi Triwulan Pertama Kabupaten Jepara Tembus Rp 9,9 Triliun

Pasalnya, retakan-retakan di tembok kembali muncul. Ia berusaha menambal retakan-retakan itu dengan semen. ”Tapi dari tahun ke tahun semakin parah,” ujar Zaenuri.

Menurutnya, ada beberapa faktor kerusakan di SD tersebut terjadi. Mulai dari usia bangunan, hingga karena kondisi tanah yang labil. Dengan kondisi tersebut, yang paling dikhawatirkan adalah saat kondisi hujan lebat disertai angin kencang.

Sebab itulah, Kepala SDN 3 Nalumsari Noor Fadhilah memasang penyangga dari bambu di tembok bagian luar sekolah. Agar tak membahayakan siswa bila terjadi sesuatu. ”Baru sekitar empat atau lima bulan lalu,” ungkapnya perempuan yang menjabat kepala sekolah di SD tersebut sejak pertangahan tahun ini. (rom/war)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/