alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Nguri-uri Tradisi, Warga Kawak Jepara Arak Puluhan Jondang Keliling Desa

JEPARA – Setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, Desa Kawak, Pakisaji, Jepara, kembali menggelar Festival Jondang kemarin. Sebanyak 22 jondang yang berisi beragam jenis barang diarak keliling desa.

Prosesi arak-arakan tersebut, dimulai dari kompleks MTs Taslihul Muhtadin ke Masjid Wali Desa Kawak. Jaraknya sekitar satu kilometer. Warga antusias menyaksikan prosesi arak-arakan jondang tersebut. Mereka menyaksikan dari pinggir jalan yang dilalui rombongan arak-arakan.

Dari 22 jondang itu, ada dua buah jondang utama. Sisanya, 20 jondang dibawa dari 20 RT yang ada di Desa Kawak. Masing-masing jondang yang dibawa isinya beragam. Ada yang berupa perabotan, makanan, juga adapula hasil bumi.


Masing-masing jondang yang dibawa tiap RT diiringi dengan karnaval yang ditunjukkan tiap RT pula. Ada yang menghias diri menjadi sosok Ratu Kalinyamat. Ada yang mengiringi jondang dengan membawa gunungan berisi hasil bumi dan lain sebagainya.

Jondang sendiri merupakan sebuah benda berbentuk persegi panjang. Panjangnya sekitar satu meter dan lebar 40 hingga 50 sentimeter. Benda tersebut memiliki empat buah kaki. Masing-masing ujungnya berlubang di atasnya agar bisa dimasuki kayu panjang atau bambu sebagai pikulan. Satu jondang biasa dipikul dua orang. Sementara bagian tengahnya kosong. Di situlah beragam barang diletakkan.

Baca Juga :  Internet Byar Pet, Asesmen Nasional Dua SMP di Jepara Ditunda

Petinggi atau Kepala Desa Kawak Eko Heri Purwanto menjelaskan, pada zaman dahulu jondang sering dijadikan alat penyimpanan barang atau makanan. Juga jondang sering dibawa saat pria mempersunting gadis. ”Jadi tempat membawa makanan. Namun saat ini, jondang mulai punah. Padahal ini peninggalan nenek moyang,” terangnya kemarin.

Oleh sebab itu, sebagai bentuk tradisi dalam nguri-uri budaya dan sedekah bumi, Desa Kawak rutin menggelar Festival Jondang. Juga untuk memupuk kerukunan antarwarga desa. ”Selain itu, dari petinggi terdahulu setiap selametan ke Mbah Wali selalu membawa jondang untuk membawa alat-alat selametan,” imbuh Eko.

Festival Jondang tersebut, masih satu rangkaian dalam kegiatan sedekah bumi Desa Kawak. Sebelum Festival Jondang terlebih dahulu telah dilaksanakan manganan dan sepak bola api. Dan rangkaian terakhir, wayangan yang dilaksanakan tadi malam. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Setelah vakum selama dua tahun akibat pandemi Covid-19, Desa Kawak, Pakisaji, Jepara, kembali menggelar Festival Jondang kemarin. Sebanyak 22 jondang yang berisi beragam jenis barang diarak keliling desa.

Prosesi arak-arakan tersebut, dimulai dari kompleks MTs Taslihul Muhtadin ke Masjid Wali Desa Kawak. Jaraknya sekitar satu kilometer. Warga antusias menyaksikan prosesi arak-arakan jondang tersebut. Mereka menyaksikan dari pinggir jalan yang dilalui rombongan arak-arakan.

Dari 22 jondang itu, ada dua buah jondang utama. Sisanya, 20 jondang dibawa dari 20 RT yang ada di Desa Kawak. Masing-masing jondang yang dibawa isinya beragam. Ada yang berupa perabotan, makanan, juga adapula hasil bumi.

Masing-masing jondang yang dibawa tiap RT diiringi dengan karnaval yang ditunjukkan tiap RT pula. Ada yang menghias diri menjadi sosok Ratu Kalinyamat. Ada yang mengiringi jondang dengan membawa gunungan berisi hasil bumi dan lain sebagainya.

Jondang sendiri merupakan sebuah benda berbentuk persegi panjang. Panjangnya sekitar satu meter dan lebar 40 hingga 50 sentimeter. Benda tersebut memiliki empat buah kaki. Masing-masing ujungnya berlubang di atasnya agar bisa dimasuki kayu panjang atau bambu sebagai pikulan. Satu jondang biasa dipikul dua orang. Sementara bagian tengahnya kosong. Di situlah beragam barang diletakkan.

Baca Juga :  Operasi Pasar, Pemkab Jepara Siapkan Lebih dari 8.000 Liter Minyak Goreng

Petinggi atau Kepala Desa Kawak Eko Heri Purwanto menjelaskan, pada zaman dahulu jondang sering dijadikan alat penyimpanan barang atau makanan. Juga jondang sering dibawa saat pria mempersunting gadis. ”Jadi tempat membawa makanan. Namun saat ini, jondang mulai punah. Padahal ini peninggalan nenek moyang,” terangnya kemarin.

Oleh sebab itu, sebagai bentuk tradisi dalam nguri-uri budaya dan sedekah bumi, Desa Kawak rutin menggelar Festival Jondang. Juga untuk memupuk kerukunan antarwarga desa. ”Selain itu, dari petinggi terdahulu setiap selametan ke Mbah Wali selalu membawa jondang untuk membawa alat-alat selametan,” imbuh Eko.

Festival Jondang tersebut, masih satu rangkaian dalam kegiatan sedekah bumi Desa Kawak. Sebelum Festival Jondang terlebih dahulu telah dilaksanakan manganan dan sepak bola api. Dan rangkaian terakhir, wayangan yang dilaksanakan tadi malam. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/