alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Warga Swadaya Tangani Tanggul Jebol di Jepara

JEPARA – Jebolnya tanggul pembatas antara pantai dengan lahan pertanian Pantai Pailus  masih ditangani hingga kemarin. Satu eksavatator dikerahkan untuk membangun kembali tanggul darurat yang sempat jebol. Penanganan tanggul jebol itu swadaya dari warga dibantu pihak desa dan dinas.

Ekskavator itu mengeruk bekas bangunan tanggul. Ditata kembali menjadi tanggul darurat. Sebelumnya, tanggul jebol dihantam ombak. Air laut merangsek ke lahan pertanian. Disertai dengan hujan dengan intensitas tinggi belum lama ini. Ditambah kiriman air dari luapan air sungai. Sekitar 250 hektare lahan pertanian terendam.

Salah satu warga yang pemiliki lahan pertanian, Khonjin, mengeluhkan biaya operasional yang mahal untuk membuat tanggul darurat. “Sehari diperlukan Rp 1 juta untuk operasional ekskavator.  Memakai bahan bakar dexlite, belum termasuk membayar operator,” ungkapnya.

Baca Juga :  Sudah Kondusif, Posko Dapur Umum untuk Korban Bencana di Jepara Ditutup

Ali Ronzi, Petinggi Desa Karanggondang, Mlonggo mengakui secara keseluruhan pemerintah desa memiliki 437 hektar sawah. “Yang terdampak 250 hektar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara Diyar Susanto mengakui pihaknya hanya bisa membantu percepatan fasilitas ekskavator. Koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara.

Kepala Bidang Pengairan pada DPUPR Jepara Agus Priyadi menjelaskan pihaknya membantu menerjunkan satu unit ekskavator. Pihaknya sementara ini fokus pada penanganan tanggul darurat. Terkendala akses ke lokasi. “Kita berusaha menangani yang ini dulu, menuju lokasinya juga agak sulit karena kondisi medan,” tandasnya. (nib/war)

JEPARA – Jebolnya tanggul pembatas antara pantai dengan lahan pertanian Pantai Pailus  masih ditangani hingga kemarin. Satu eksavatator dikerahkan untuk membangun kembali tanggul darurat yang sempat jebol. Penanganan tanggul jebol itu swadaya dari warga dibantu pihak desa dan dinas.

Ekskavator itu mengeruk bekas bangunan tanggul. Ditata kembali menjadi tanggul darurat. Sebelumnya, tanggul jebol dihantam ombak. Air laut merangsek ke lahan pertanian. Disertai dengan hujan dengan intensitas tinggi belum lama ini. Ditambah kiriman air dari luapan air sungai. Sekitar 250 hektare lahan pertanian terendam.

Salah satu warga yang pemiliki lahan pertanian, Khonjin, mengeluhkan biaya operasional yang mahal untuk membuat tanggul darurat. “Sehari diperlukan Rp 1 juta untuk operasional ekskavator.  Memakai bahan bakar dexlite, belum termasuk membayar operator,” ungkapnya.

Baca Juga :  Disapu Angin Kencang, Tiga Rumah di Jepara Rusak

Ali Ronzi, Petinggi Desa Karanggondang, Mlonggo mengakui secara keseluruhan pemerintah desa memiliki 437 hektar sawah. “Yang terdampak 250 hektar,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Jepara Diyar Susanto mengakui pihaknya hanya bisa membantu percepatan fasilitas ekskavator. Koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara.

Kepala Bidang Pengairan pada DPUPR Jepara Agus Priyadi menjelaskan pihaknya membantu menerjunkan satu unit ekskavator. Pihaknya sementara ini fokus pada penanganan tanggul darurat. Terkendala akses ke lokasi. “Kita berusaha menangani yang ini dulu, menuju lokasinya juga agak sulit karena kondisi medan,” tandasnya. (nib/war)

Most Read

Artikel Terbaru

/