25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Khilafatul Muslimin Jepara Sempat Rekrut Tujuh Warga, Dua Orang Bertahan

JEPARA – Murtadho, pimpinan Khilafatul Muslimin ikut mengajak tetangga sekitarnya untuk bergabung dengan kelompoknya. Diketahui, ada tujuh warga yang sempat ikut. Namun hingga kini, hanya menyisakan dua yang masih aktif. Mereka yang ragu lalu keluar sempat dianggap murtad dan masuk neraka oleh kelompok ini.

Sebelumnya, ada penangkapan tiga anggota Khilafatul Muslimin di Kabupaten Jepara. Tiga anggota tersebut, Murtadho warga Desa Kuanyar, Mayong; ZA, warga Desa Kuanyar, Mayong, yang merupakan tetangga Murtadho; dan W, warga Desa Ngeling, Pecangaan. Pada Juni lalu, polisi sempat melepas pelang Khilafatul Muslimin di depan rumah milik Murtadho. Setelah itu, juga sempat ada kesepakatan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara, agar segala aktivitas kelompok berada dalam pantauan.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus kemarin menelurusuri warga-warga yang sempat diajak bergabung Khilafatul Muslimin. Di antaranya, Hasanuddin. Pria yang saat ini menjadi ketua ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Kuanyar, Mayong, bercerita, dirinya sempat diajak bergabung dengan Khilafatul Muslimin. Namun, ia langsung menolak. Sejak awal, ia tidak cocok dengan pemikiran kelompok tersebut.


”Pernah saya diminta jadi narasumber diskusi kelompok itu (Khilafatul Muslimin, Red). Disandingkan dengan orang sana (Khilafatul Muslimin, Red) yang katanya dari luar daerah. Temanya ”Islam Kaffah”. Saya nggak mau. Sudah terbaca pembahasannya ke mana. Buat saya itu malah jadinya debat. Jadi, itu percuma. Memang materi kajian mereka itu Alquran dan Hadits. Tapi penafsirannya versi mereka. Ada ayat yang ditafsirkan perlunya ada khilafah,” jelasnya.

Baca Juga :  BPJS Ketenagakerjaan Jepara Serahkan Santunan Rp 218 Juta untuk Karyawan Korban Kecelakaan

Sebagai ketua ranting NU Kuanyar, Hasanuddin mengaku sempat diminta nasihat oleh warga yang sudah terlanjur dibaiat kelompok Murtadho. Saat itu, beberapa warga merasa ragu dan takut keluar dari baiat. Sebab, konsekuensi keluar dari kelompok bisa dihukumi murtad. Artinya, dianggap masuk neraka oleh kelompok tersebut. Tak hanya itu, ia mendapat info bahwa syahadat yang dilakukan harus melalui pimpinan kelompok.

”Berbeda dengan kita ya. Kalau syahadat kan syahadat saja. Kalau mereka syahadat harus lewat pimpinan. Itu artinya sudah masuk baiat. Kalua sudah dibaiat lalu keluar, nanti dihukumi murtad,” kata pria yang juga pengurus Lembaga Dakwah PC NU Jepara tersebut.

Yang ia tahu, ada tujuh warga sekitar Mustadho yang sempat bergabung dalam Khilafatul Muslimin. Dari tujuh orang itu, yang tersisa hanya dua. Dua orang tersebut, M dan ZA. Keduanya dinilai paling aktif. Kerap bepergian bersama keluar. Entah ke mana perginya.

Murtadho juga diketahui sempat menjadir pengurus NU ranting. Selama setahun Murtadho menjadi koordinator lembaga dakwah. Beberapa kali juga ditunjuk memimpin istighotsah. ”Saat mulai pasang papan nama Khilafatul Muslimin itu, dapat teguran dari MWC (Majelis Wakil Cabang) NU. Kok pengurus ranting ada yang kayak gitu,” jelas Hasanuddin.

Meski begitu, Hasanuddin tidak langsung memberhentikan Murtadho sebagai pengurus NU ranting. Murtadho juga tidak mengundurkan diri. ”Pertimbangan kami saat itu, selama dia tidak mengganggu warga NU dan kegiatan NU ya kami biarkan,” imbuhnya. (nib/lin)






Reporter: Nibros Hassani

JEPARA – Murtadho, pimpinan Khilafatul Muslimin ikut mengajak tetangga sekitarnya untuk bergabung dengan kelompoknya. Diketahui, ada tujuh warga yang sempat ikut. Namun hingga kini, hanya menyisakan dua yang masih aktif. Mereka yang ragu lalu keluar sempat dianggap murtad dan masuk neraka oleh kelompok ini.

Sebelumnya, ada penangkapan tiga anggota Khilafatul Muslimin di Kabupaten Jepara. Tiga anggota tersebut, Murtadho warga Desa Kuanyar, Mayong; ZA, warga Desa Kuanyar, Mayong, yang merupakan tetangga Murtadho; dan W, warga Desa Ngeling, Pecangaan. Pada Juni lalu, polisi sempat melepas pelang Khilafatul Muslimin di depan rumah milik Murtadho. Setelah itu, juga sempat ada kesepakatan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara, agar segala aktivitas kelompok berada dalam pantauan.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus kemarin menelurusuri warga-warga yang sempat diajak bergabung Khilafatul Muslimin. Di antaranya, Hasanuddin. Pria yang saat ini menjadi ketua ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Kuanyar, Mayong, bercerita, dirinya sempat diajak bergabung dengan Khilafatul Muslimin. Namun, ia langsung menolak. Sejak awal, ia tidak cocok dengan pemikiran kelompok tersebut.

”Pernah saya diminta jadi narasumber diskusi kelompok itu (Khilafatul Muslimin, Red). Disandingkan dengan orang sana (Khilafatul Muslimin, Red) yang katanya dari luar daerah. Temanya ”Islam Kaffah”. Saya nggak mau. Sudah terbaca pembahasannya ke mana. Buat saya itu malah jadinya debat. Jadi, itu percuma. Memang materi kajian mereka itu Alquran dan Hadits. Tapi penafsirannya versi mereka. Ada ayat yang ditafsirkan perlunya ada khilafah,” jelasnya.

Baca Juga :  Mangaratua Simbolon Gantikan Mursito jadi Ketua Ikadin

Sebagai ketua ranting NU Kuanyar, Hasanuddin mengaku sempat diminta nasihat oleh warga yang sudah terlanjur dibaiat kelompok Murtadho. Saat itu, beberapa warga merasa ragu dan takut keluar dari baiat. Sebab, konsekuensi keluar dari kelompok bisa dihukumi murtad. Artinya, dianggap masuk neraka oleh kelompok tersebut. Tak hanya itu, ia mendapat info bahwa syahadat yang dilakukan harus melalui pimpinan kelompok.

”Berbeda dengan kita ya. Kalau syahadat kan syahadat saja. Kalau mereka syahadat harus lewat pimpinan. Itu artinya sudah masuk baiat. Kalua sudah dibaiat lalu keluar, nanti dihukumi murtad,” kata pria yang juga pengurus Lembaga Dakwah PC NU Jepara tersebut.

Yang ia tahu, ada tujuh warga sekitar Mustadho yang sempat bergabung dalam Khilafatul Muslimin. Dari tujuh orang itu, yang tersisa hanya dua. Dua orang tersebut, M dan ZA. Keduanya dinilai paling aktif. Kerap bepergian bersama keluar. Entah ke mana perginya.

Murtadho juga diketahui sempat menjadir pengurus NU ranting. Selama setahun Murtadho menjadi koordinator lembaga dakwah. Beberapa kali juga ditunjuk memimpin istighotsah. ”Saat mulai pasang papan nama Khilafatul Muslimin itu, dapat teguran dari MWC (Majelis Wakil Cabang) NU. Kok pengurus ranting ada yang kayak gitu,” jelas Hasanuddin.

Meski begitu, Hasanuddin tidak langsung memberhentikan Murtadho sebagai pengurus NU ranting. Murtadho juga tidak mengundurkan diri. ”Pertimbangan kami saat itu, selama dia tidak mengganggu warga NU dan kegiatan NU ya kami biarkan,” imbuhnya. (nib/lin)






Reporter: Nibros Hassani

Most Read

Artikel Terbaru

/