alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Miris! Ada 17 Ribu Anak di Jepara Tak Sekolah

JEPARA  –  Menurut data dari Susenas tahun 2019 terdapat sekitar 4,3 juta anak usia sekolah (7-18 tahun) di Indonesia tidak sekolah. Sekitar 17 ribu di antaranya ada di Kabupaten Jepara. Sebab itu, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara berupaya memberdayakan mereka agar bisa kembali melanjutkan sekolah.

Bappeda juga mengupayakan agar mereka diberi keterampilan sesuai dengan perkembangan teknologi. Kepala Bappeda Jepara Subiyanto melalui Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Natanael Hadisiswoyo menyebut, ada empat desa yang menjadi pilot project program tersebut. Yaitu Desa Nalumsari, Kecamatan Nalumsari; Tegalsambi, Tahunan; Tubanan, Kembang; dan Tulakan, Donorojo.

”Sebelumnya telah kami data. Mulai tingkat kecamatan hingga desa. Hasilnya empat desa itu angka anak tidak sekolah (ATS)-nya paling tinggi,” ujar Natanael.


Untuk mensukseskan program itu, Bappeda Jepara menggandeng United Nations Children’s Fund (Unicef) Indonesia. Program pertama yang dilakukan adalah Gerakan Sekolah Meneh. Atau gerakan kembali ke sekolah.

Baca Juga :  Kasus Positif Aktif Minim, Kenapa PPKM di Jepara Malah Turun Level?

Inti kegiatan ini adalah menemukan anak-anak yang tidak sekolah usia 7 sampai 18 tahun, dengan toleransi sampai 21 tahun. Mereka akan diberdayakan. Lalu pada saatnya bersama-sama dikembalikan ke sekolah sesuai dengan spesifikasi satuan pendidikan yang diminati.

Kegiatan ini dilakukan bersama-sama antara desa, fasilitator Unicef, dan tim kabupaten. Selanjutnya berupa pendampingan anak rentan putus sekolah.

Faktor banyaknya ATS di Jepara beragam. Bisa karena faktor ekonomi, tingkat kemalasan anak, atau bisa juga faktor pribadi anak itu sendiri. Termasuk akibat adanya pandemic Covid-19. Sebab itu, supaya anak yang telah sekolah tidak sampai keluar.

“Kami carikan beasiswa, orang tua asuh, atau upaya lain untuk mengatasi agar tidak putus sekolah,” terang Direktur Kerjasama LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Unicef untuk program OOSC Out of School Children (OOC) Jawa Tengah Jasman Indradno.

JEPARA  –  Menurut data dari Susenas tahun 2019 terdapat sekitar 4,3 juta anak usia sekolah (7-18 tahun) di Indonesia tidak sekolah. Sekitar 17 ribu di antaranya ada di Kabupaten Jepara. Sebab itu, Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Kabupaten Jepara berupaya memberdayakan mereka agar bisa kembali melanjutkan sekolah.

Bappeda juga mengupayakan agar mereka diberi keterampilan sesuai dengan perkembangan teknologi. Kepala Bappeda Jepara Subiyanto melalui Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Natanael Hadisiswoyo menyebut, ada empat desa yang menjadi pilot project program tersebut. Yaitu Desa Nalumsari, Kecamatan Nalumsari; Tegalsambi, Tahunan; Tubanan, Kembang; dan Tulakan, Donorojo.

”Sebelumnya telah kami data. Mulai tingkat kecamatan hingga desa. Hasilnya empat desa itu angka anak tidak sekolah (ATS)-nya paling tinggi,” ujar Natanael.

Untuk mensukseskan program itu, Bappeda Jepara menggandeng United Nations Children’s Fund (Unicef) Indonesia. Program pertama yang dilakukan adalah Gerakan Sekolah Meneh. Atau gerakan kembali ke sekolah.

Baca Juga :  Sekolah Nekat Tetap PTM di Jepara akan Diperingatkan

Inti kegiatan ini adalah menemukan anak-anak yang tidak sekolah usia 7 sampai 18 tahun, dengan toleransi sampai 21 tahun. Mereka akan diberdayakan. Lalu pada saatnya bersama-sama dikembalikan ke sekolah sesuai dengan spesifikasi satuan pendidikan yang diminati.

Kegiatan ini dilakukan bersama-sama antara desa, fasilitator Unicef, dan tim kabupaten. Selanjutnya berupa pendampingan anak rentan putus sekolah.

Faktor banyaknya ATS di Jepara beragam. Bisa karena faktor ekonomi, tingkat kemalasan anak, atau bisa juga faktor pribadi anak itu sendiri. Termasuk akibat adanya pandemic Covid-19. Sebab itu, supaya anak yang telah sekolah tidak sampai keluar.

“Kami carikan beasiswa, orang tua asuh, atau upaya lain untuk mengatasi agar tidak putus sekolah,” terang Direktur Kerjasama LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan Unicef untuk program OOSC Out of School Children (OOC) Jawa Tengah Jasman Indradno.

Most Read

Artikel Terbaru

/