alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Sembuhkan RA Kartini, Pengobatan di Kelenteng Welahan Ramai hingga Kini

JEPARA – Setelah berhasil menyembuhkan RA. Kartini, Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, semakin dikenal dengan Kelenteng Dewa Obat. Banyak pengunjung datang untuk meminta obat dan berharap sembuh. Tak hanya di kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat umum.

Di kelenteng itu, ada alemari kayu berisi banyak kolong. Isinya, kertas-kertas kecil yang tersusun rapi. Di bagian atas lemari, tertulis ”Resep Obat Lama”. Tertulis di dalamnya beragam resep obat. Di belakang lemari itu, ada rak kecil dengan fungsi serupa. Namun, untuk resep obat baru. Resep-resep obat ini, kata Suwoto, salah satu pengurus kelenteng, masih digunakan sampai sekarang.

Resep obat lama ada 100 resep. Dan resep obat baru ada 49. ”Untuk resep Go Hwan Low, ada 37 resep,” kata Dicky, pengurus kelenteng lain. ”Semua resep itu intinya sama. Yakni obat dalam bentuk herbal. Mirip jamu godok kalau di Jawa,” lanjutnya.


Suwoto menuturkan, setelah Kartini berobat dan sembuh, Kelenteng Welahan semakin popular dengan obat mujarabnya. Bahkan sampai sekarang.

Jawa Pos Radar Kudus kemarin juga mencoba. Namun bukan untuk berobat, melainkan ”meminta petunjuk kepada dewa”. Langkahnya menggunakan tiga metode. Melalui tulis nama, menulis umur (untuk dilihat shio-nya), dan alamat. Juru kunci kemudian memintakan petunjuk kepada dewa di ruang sembahyang. Petunjuk itu, keluarnya berupa nomor yang ada di dupa setelah dikocok. Nomor itu berisikan petunjuk berikutnya. Nomor itu juga terdapat dalam kertas-kertas resep obat.

Saat nomor keluar, nantinya ada resep yang diambil dari lemari resep. Kertas-kertas resep itu sudah diberi nomor. ”Kalau dapat angka 39, misalnya. Nanti ambil resep nomor 39. Di kertasnya ada resep-resep itu,” kata Suwoto.

Nantinya resep itu dibawa ke apotek tradisional di Semarang atau Solo. Di Jepara ini tidak ada. Mereka yang akan meraciknya.

Saat ini, banyak pasien yang berobat di kelenteng ini. Banyak yang sembuh. ”Di sini (berobat di Kelenteng Welahan, Red) tidak mensyaratkan biaya. Tapi kalau mau menyumbang dipersilakan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Dinas Sebut Kawasan Kumuh di Jepara Tersisa 1,42 Hektare

Wartawan ini juga menemui salah satu pegawai kelenteng yang ikut memintakan petunjuk kepada dewa. Semacam juru kunci. Suwarno, namanya.

Dalam sebulan, Suwarno biasa menerima puluhan orang yang meminta obat. Satu hari biasa ada dua sampai tiga pasien datang. Berasal dari banyak daerah. Termasuk luar Jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi.

Terakhir, ia membantu penyembuhan warga Bogor yang menderita kanker otak. ”Dua kali minum (obat dari resep) langsung sembuh. Sekarang sudah kuliah dan sukses (pasiennya),” katanya yang mengaku itu penyakit terparah yang pernah ia tangani.

Ia juga menjadi saksi atas kesembuhan saudaranya yang menderita penyakit liver. ”Sudah berobat empat kali di rumah sakit, tapi belum sembuh. Setelah minum abu sini langsung sembuh,” katanya.

Soal Kartini, ia mengatakan, Pahlawan Emansipasi Wanita itu, meminum abu kemudian sembuh, itu belum tentu benar untuk orang lain. Sebab, setiap orang bisa mendapatkan petunjuk yang berbeda dari dewa. Tidak semua orang yang sakit lalu diberi abu yang dibakar lalu diminum. Namun, bisa juga obat-obatan herbal.

Suwoto menceritakan, banyak orang datang tidak hanya untuk berobat. Namun, juga untuk meminta agar bisnisnya maju dan mengusir roh jahat.

”Pernah ada orang Demak dan Juwana, Pati, meminta petunjuk soal pekerjaan. Di sana kan laut, ada yang bertanya kapan baiknya melaut,” katanya.

Ia juga menceritakan, pernah kelenteng didatangi orang yang diganggu makhluk halus genderuwo. Ia beberapa kali mencari cara agar genderuwo tidak mengikuti lagi. ”Pernah dia (pasien, Red) tidur di musala. Pas di dalam musala dia tidak diikuti lagi, tapi pas mau kencing di toilet didatangi lagi. Tapi sewaktu ke sini, dia bermalam di sini nggelar kloso dua hari dua malam. Setelah itu, genderuwonya tidak mengikuti lagi,” kenangnya.

Suwoto menambahkan, di moment Hari Kartini ini, dia beserta pengurus Kelenteng Welahan mengucapkan ”Selamat Hari Kartini.” ”Bangga dengan kelenteng ini, yang juga menjadi saksi hidup RA. Kartini,” imbuhnya. (nib/lin)

JEPARA – Setelah berhasil menyembuhkan RA. Kartini, Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, semakin dikenal dengan Kelenteng Dewa Obat. Banyak pengunjung datang untuk meminta obat dan berharap sembuh. Tak hanya di kalangan Tionghoa, tapi juga masyarakat umum.

Di kelenteng itu, ada alemari kayu berisi banyak kolong. Isinya, kertas-kertas kecil yang tersusun rapi. Di bagian atas lemari, tertulis ”Resep Obat Lama”. Tertulis di dalamnya beragam resep obat. Di belakang lemari itu, ada rak kecil dengan fungsi serupa. Namun, untuk resep obat baru. Resep-resep obat ini, kata Suwoto, salah satu pengurus kelenteng, masih digunakan sampai sekarang.

Resep obat lama ada 100 resep. Dan resep obat baru ada 49. ”Untuk resep Go Hwan Low, ada 37 resep,” kata Dicky, pengurus kelenteng lain. ”Semua resep itu intinya sama. Yakni obat dalam bentuk herbal. Mirip jamu godok kalau di Jawa,” lanjutnya.

Suwoto menuturkan, setelah Kartini berobat dan sembuh, Kelenteng Welahan semakin popular dengan obat mujarabnya. Bahkan sampai sekarang.

Jawa Pos Radar Kudus kemarin juga mencoba. Namun bukan untuk berobat, melainkan ”meminta petunjuk kepada dewa”. Langkahnya menggunakan tiga metode. Melalui tulis nama, menulis umur (untuk dilihat shio-nya), dan alamat. Juru kunci kemudian memintakan petunjuk kepada dewa di ruang sembahyang. Petunjuk itu, keluarnya berupa nomor yang ada di dupa setelah dikocok. Nomor itu berisikan petunjuk berikutnya. Nomor itu juga terdapat dalam kertas-kertas resep obat.

Saat nomor keluar, nantinya ada resep yang diambil dari lemari resep. Kertas-kertas resep itu sudah diberi nomor. ”Kalau dapat angka 39, misalnya. Nanti ambil resep nomor 39. Di kertasnya ada resep-resep itu,” kata Suwoto.

Nantinya resep itu dibawa ke apotek tradisional di Semarang atau Solo. Di Jepara ini tidak ada. Mereka yang akan meraciknya.

Saat ini, banyak pasien yang berobat di kelenteng ini. Banyak yang sembuh. ”Di sini (berobat di Kelenteng Welahan, Red) tidak mensyaratkan biaya. Tapi kalau mau menyumbang dipersilakan,” ungkapnya.

Baca Juga :  Banjir di Tegalsambi Jepara Mulai Surut

Wartawan ini juga menemui salah satu pegawai kelenteng yang ikut memintakan petunjuk kepada dewa. Semacam juru kunci. Suwarno, namanya.

Dalam sebulan, Suwarno biasa menerima puluhan orang yang meminta obat. Satu hari biasa ada dua sampai tiga pasien datang. Berasal dari banyak daerah. Termasuk luar Jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi.

Terakhir, ia membantu penyembuhan warga Bogor yang menderita kanker otak. ”Dua kali minum (obat dari resep) langsung sembuh. Sekarang sudah kuliah dan sukses (pasiennya),” katanya yang mengaku itu penyakit terparah yang pernah ia tangani.

Ia juga menjadi saksi atas kesembuhan saudaranya yang menderita penyakit liver. ”Sudah berobat empat kali di rumah sakit, tapi belum sembuh. Setelah minum abu sini langsung sembuh,” katanya.

Soal Kartini, ia mengatakan, Pahlawan Emansipasi Wanita itu, meminum abu kemudian sembuh, itu belum tentu benar untuk orang lain. Sebab, setiap orang bisa mendapatkan petunjuk yang berbeda dari dewa. Tidak semua orang yang sakit lalu diberi abu yang dibakar lalu diminum. Namun, bisa juga obat-obatan herbal.

Suwoto menceritakan, banyak orang datang tidak hanya untuk berobat. Namun, juga untuk meminta agar bisnisnya maju dan mengusir roh jahat.

”Pernah ada orang Demak dan Juwana, Pati, meminta petunjuk soal pekerjaan. Di sana kan laut, ada yang bertanya kapan baiknya melaut,” katanya.

Ia juga menceritakan, pernah kelenteng didatangi orang yang diganggu makhluk halus genderuwo. Ia beberapa kali mencari cara agar genderuwo tidak mengikuti lagi. ”Pernah dia (pasien, Red) tidur di musala. Pas di dalam musala dia tidak diikuti lagi, tapi pas mau kencing di toilet didatangi lagi. Tapi sewaktu ke sini, dia bermalam di sini nggelar kloso dua hari dua malam. Setelah itu, genderuwonya tidak mengikuti lagi,” kenangnya.

Suwoto menambahkan, di moment Hari Kartini ini, dia beserta pengurus Kelenteng Welahan mengucapkan ”Selamat Hari Kartini.” ”Bangga dengan kelenteng ini, yang juga menjadi saksi hidup RA. Kartini,” imbuhnya. (nib/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/