alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Tinggal Klik Bisa Bayar Apapun, Transaksi Mudah, Tapi Bikin Khilaf

JEPARA  – Tiiiiiiit… Tiiiiiiiit… Tiiiiiiiiit… Alarm speedometer listrik di coffee shop milik Haris, 27, berbunyi. Pulsa listriknya mau habis. Haris yang masih asyik berbincang dengan rekannya, bergegas berdiri dari tempat duduk.

Dia mencari keberadaan smartphone-nya. Di meja tidak ada. Di kasir juga tidak ada. Ternyata di dalam tas. Tas itu menggantung di paku pada dinding tembok. Ia kembali duduk di tempat semula.

Lalu membuka aplikasi dompet digital, OVO. Menu PLN dipilih. Ia beli pulsa listrik dari aplikasi itu. Setelah dapat token, diinput ke speedometer. Alarm yang semula terus berbunyi tak lagi terdengar. ”Enaknya kalau punya dompet digital pembayaran jadi mudah,” katanya.


Ia membandingkan, sebelum pembayaran lewat digital. Harus cari loket penyedia token listrik. Padahal alarm sudah berbunyi. Sementara ada pelanggan yang sedang menikmati kopi. ”Jadi tidak bisa bekerja cepat. Kalau pakai digital lebih cepat dan mudah,” tuturnya.

Baca Juga :  Mulai Hari Ini Seluruh Objek Wisata di Jepara Ditutup

Selain bayar token listrik, dompet digital dapat digunakan untuk berbagai transaksi. Misalnya pulsa, transfer, paket data, pascabayar, asuransi, TV kabel, dan iuran lingkungan. Di sisi lain kemudahan itu justru membuat ”khilaf”.

Lewat dompet digital itu, bisa transfer untuk isi ShopeePay. Salah satu marketplace yang menyediakan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Menurut Haris, pengeluaran jadi tidak terkontrol. Pengeluaran itu di luar kebutuhan pokok. Seperti beli pakaian atau aksesori.

”Kalau pegang uang tunai, pikir-pikir mau beli ini itu. Giliran pakai aplikasi, masukkan barang ke keranjang terus transfer. Pas barang sampai, nyesel. Barang tidak sesuai, saldo berkurang untuk beli yang sebenarnya tidak terlalu butuh,” tuturnya. (lin)






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

JEPARA  – Tiiiiiiit… Tiiiiiiiit… Tiiiiiiiiit… Alarm speedometer listrik di coffee shop milik Haris, 27, berbunyi. Pulsa listriknya mau habis. Haris yang masih asyik berbincang dengan rekannya, bergegas berdiri dari tempat duduk.

Dia mencari keberadaan smartphone-nya. Di meja tidak ada. Di kasir juga tidak ada. Ternyata di dalam tas. Tas itu menggantung di paku pada dinding tembok. Ia kembali duduk di tempat semula.

Lalu membuka aplikasi dompet digital, OVO. Menu PLN dipilih. Ia beli pulsa listrik dari aplikasi itu. Setelah dapat token, diinput ke speedometer. Alarm yang semula terus berbunyi tak lagi terdengar. ”Enaknya kalau punya dompet digital pembayaran jadi mudah,” katanya.

Ia membandingkan, sebelum pembayaran lewat digital. Harus cari loket penyedia token listrik. Padahal alarm sudah berbunyi. Sementara ada pelanggan yang sedang menikmati kopi. ”Jadi tidak bisa bekerja cepat. Kalau pakai digital lebih cepat dan mudah,” tuturnya.

Baca Juga :  Kerusakan Jalan Nasional di Jepara hanya Ditambal Sulam

Selain bayar token listrik, dompet digital dapat digunakan untuk berbagai transaksi. Misalnya pulsa, transfer, paket data, pascabayar, asuransi, TV kabel, dan iuran lingkungan. Di sisi lain kemudahan itu justru membuat ”khilaf”.

Lewat dompet digital itu, bisa transfer untuk isi ShopeePay. Salah satu marketplace yang menyediakan berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Menurut Haris, pengeluaran jadi tidak terkontrol. Pengeluaran itu di luar kebutuhan pokok. Seperti beli pakaian atau aksesori.

”Kalau pegang uang tunai, pikir-pikir mau beli ini itu. Giliran pakai aplikasi, masukkan barang ke keranjang terus transfer. Pas barang sampai, nyesel. Barang tidak sesuai, saldo berkurang untuk beli yang sebenarnya tidak terlalu butuh,” tuturnya. (lin)






Reporter: Muhammad Khoirul Anwar

Most Read

Artikel Terbaru

/