alexametrics
23.7 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Sempat Ditutup Pasca Bentrokan Berujung Maut, Rumah-Toko di Nalumsari Jepara Kembali Buka

JEPARA – Tragedi penganiayaan yang menewaskan MR, 30, warga Muryolobo, Nalumsari, Jepara, telah berlalu empat hari. Situasi sekitar tempat kejadian perkara (TKP) di sekitar Desa Bendanpete, Ngetuk, dan Muryolobo mulai berangsur kondusif. Beberapa toko dan rumah di lokasi kejadian mulai membuka kembali toko.

Masyarakat di tiga desa tersebut kemarin juga beraktivitas seperti biasa. Sekolah semuanya masuk.

Kondisi jalan sekitaran lengang dan lancar. Beberapa pengendara sesekali lewat. ”Setelah kejadian Minggu (15/5) lalu telah dinetralisasi kapolres bersama personel polisi dari Polres Jepara. Warga beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang takut,” tegas Kepala Sat Samaptha Polres Jepara AKP M. Syaifuddin kemarin.


Diberitakan sebelumnya MR bersama dua rekannya dari Desa Muryolobo, Nalumsari, hendak membeli mi ayam di sekitar Pasar Gandu Desa Bendanpete, Nalumsari, Minggu (15/5) sore. Namun dalam perjalanan, mereka dihadang sekelompok pemuda. Jumlahnya sekitar 25 orang. Dari situ terjadilah pengeroyokan terhadap tiga orang tersebut. Bahkan MR ditemukan meninggal dunia di TKP dengan luka sayatan senjata tajam di lehernya. Salah satu temannya, S, 30, mengalami luka-luka. Satu orang lainnya belum diketahui keberadaannya.

Pascakejadian tidak ada yang berani membuka pintu toko atupun rumah. Warga sekitar memilih lebih hati-hati beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga :  Cuaca Buruk, Kapal Penyeberangan Jepara Tertahan di Karimunjawa

Walaupun dianggap kondusif, aparat keamanan tetap disiagakan di sekitar TKP.

Agar kondisi aman tersebut tetap terjaga, aparat kepolisian masih rutin menggelar operasi berseragam lengkap dengan senjata keliling tiga desa di Nalumsari tersebut. Posko keamanan telah didirikan mengantisipasi hal yang tak diinginkan terjadi di sana. Letaknya di perbatasan Muryolobo dengan Ngetuk, Nalumsari. ”Setiap saat kami laksanakan patroli. Sejak kejadian tersebut, hingga kini tidak terjadi apa-apa,” tandas Syaifuddin.

Sementara itu Kapolres Jepara AKBP Warsono menegaskan tewasnya MR bukan karena perang atau tawuran antar pemuda desa. Melainkan murni pengeroyokan. Pasalnya, menurut Warsono masyarakat sering mengaitkan kejadian pengeroyokan yang terjadi Minggu (15/5) lalu dengan kejadian yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mulai dari ungkapan dendam lama antara desa satu dengan desa yang lainnya.

”Motifnya belum diketahui sampai nanti pelaku tertangkap,” ungkapnya.

Diterjunkannya aparat keamanan di sekitar Desa Muryolobo, Ngetuk, dan Bendanpete bertujuan untuk mengedukasi masyarakat di sana. Sehingga masyarakat di sana bisa menahan diri dan tidak terprovokasi dengan informasi yang beredar.

Saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut. Ada empat orang warga sekitar TKP yang telah dimintai keterangan. Begitu pula korban yang masih hidup. (rom/zen)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Tragedi penganiayaan yang menewaskan MR, 30, warga Muryolobo, Nalumsari, Jepara, telah berlalu empat hari. Situasi sekitar tempat kejadian perkara (TKP) di sekitar Desa Bendanpete, Ngetuk, dan Muryolobo mulai berangsur kondusif. Beberapa toko dan rumah di lokasi kejadian mulai membuka kembali toko.

Masyarakat di tiga desa tersebut kemarin juga beraktivitas seperti biasa. Sekolah semuanya masuk.

Kondisi jalan sekitaran lengang dan lancar. Beberapa pengendara sesekali lewat. ”Setelah kejadian Minggu (15/5) lalu telah dinetralisasi kapolres bersama personel polisi dari Polres Jepara. Warga beraktivitas seperti biasa. Tidak ada yang takut,” tegas Kepala Sat Samaptha Polres Jepara AKP M. Syaifuddin kemarin.

Diberitakan sebelumnya MR bersama dua rekannya dari Desa Muryolobo, Nalumsari, hendak membeli mi ayam di sekitar Pasar Gandu Desa Bendanpete, Nalumsari, Minggu (15/5) sore. Namun dalam perjalanan, mereka dihadang sekelompok pemuda. Jumlahnya sekitar 25 orang. Dari situ terjadilah pengeroyokan terhadap tiga orang tersebut. Bahkan MR ditemukan meninggal dunia di TKP dengan luka sayatan senjata tajam di lehernya. Salah satu temannya, S, 30, mengalami luka-luka. Satu orang lainnya belum diketahui keberadaannya.

Pascakejadian tidak ada yang berani membuka pintu toko atupun rumah. Warga sekitar memilih lebih hati-hati beraktivitas di luar rumah.

Baca Juga :  Bupati Jepara Nyetir Mobil Dalmas, Hibah untuk Polres

Walaupun dianggap kondusif, aparat keamanan tetap disiagakan di sekitar TKP.

Agar kondisi aman tersebut tetap terjaga, aparat kepolisian masih rutin menggelar operasi berseragam lengkap dengan senjata keliling tiga desa di Nalumsari tersebut. Posko keamanan telah didirikan mengantisipasi hal yang tak diinginkan terjadi di sana. Letaknya di perbatasan Muryolobo dengan Ngetuk, Nalumsari. ”Setiap saat kami laksanakan patroli. Sejak kejadian tersebut, hingga kini tidak terjadi apa-apa,” tandas Syaifuddin.

Sementara itu Kapolres Jepara AKBP Warsono menegaskan tewasnya MR bukan karena perang atau tawuran antar pemuda desa. Melainkan murni pengeroyokan. Pasalnya, menurut Warsono masyarakat sering mengaitkan kejadian pengeroyokan yang terjadi Minggu (15/5) lalu dengan kejadian yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya. Mulai dari ungkapan dendam lama antara desa satu dengan desa yang lainnya.

”Motifnya belum diketahui sampai nanti pelaku tertangkap,” ungkapnya.

Diterjunkannya aparat keamanan di sekitar Desa Muryolobo, Ngetuk, dan Bendanpete bertujuan untuk mengedukasi masyarakat di sana. Sehingga masyarakat di sana bisa menahan diri dan tidak terprovokasi dengan informasi yang beredar.

Saat ini polisi masih mendalami kasus tersebut. Ada empat orang warga sekitar TKP yang telah dimintai keterangan. Begitu pula korban yang masih hidup. (rom/zen)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/