alexametrics
29.4 C
Kudus
Monday, June 27, 2022

Ndableg! Meski Sudah Dilarang, Pedagang Kambing di Jepara Tetap Ngeyel Jualan

JEPARA – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) masih berlanjut. Di Jepara, hewan ternak yang mati akibat wabah PMK juga bertambah. Di sisi lain, pedagang kambing nekat berjualan meski sudah dilarang.

Solekan, peternak di Desa Batukali tidak menyangka kerbaunya akan mati karena sakit. Ia baru membeli sekitar 20 hari. Ia pun rugi sekitar Rp 20 juta. ”Tutup pasar kan baru-baru ini. Saya tidak tahu (sapi yang dibeli menderita PMK) saat beli,” katanya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara Zamroni Lestiaza mengaku, kejadian itu menambah jumlah kematian akibat ternak. Sementara kasus PMK masih berlanjut, ia menyayangkan pedagang kambing yang masih nekat berjualan. Sebelumnya Pemkab Jepara telah melarang penjualan kambing di pasar hewan. Namun, tetap saja para pedagang tetap berjualan.


”Yang dilarang itu kan semua. Tidak hanya pedagang sapi dan kerbau. Termasuk kambing seharusnya tidak boleh. Tapi, susah mengendalikan penjual. Mereka masih tetap menjual di pasar hewan, walau sudah ditertibkan polisi dan satpol PP” katanya. ”Pemkab juga sudah mengajukan obat ke provinsi, tapi belum datang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Cabuli Anak Dibawah Umur saat Mabuk, Polisi Amankan Dua Pemuda asal Jepara

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada DKPP Jepara Mudhofir mengatakan, hingga kini ada 21 ternak yang mati. Pihaknya terus memantau perkembangan PMK setiap hari. Ia menduga kasus ini akan berjalan lama. Tidak hanya dua atau tiga bulan. Mungkin hingga tahun depan. ”Kasus ini mirip Covid-19, tapi menimpa hewan. Asal muasalnya virus. Jadi tidak sebentar,” katanya.

Meski begitu, beberapa ternak juga ada yang sembuh. Trimo, peternak asal Desa Batukali mengatakan, belum lama ini kerbaunya menunjukkan gejala klinis seperti PMK. Tidak nafsu makan dan ada bagian badan melepuh.

Trimo lalu mengundang mantri hewan. Tak lama kerbaunya membaik. ”Ini sudah berkeringat (kerbaunya). Kemarin tidak. Sudah membaik,” jelas Trimo. (nib/lin)

JEPARA – Kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) masih berlanjut. Di Jepara, hewan ternak yang mati akibat wabah PMK juga bertambah. Di sisi lain, pedagang kambing nekat berjualan meski sudah dilarang.

Solekan, peternak di Desa Batukali tidak menyangka kerbaunya akan mati karena sakit. Ia baru membeli sekitar 20 hari. Ia pun rugi sekitar Rp 20 juta. ”Tutup pasar kan baru-baru ini. Saya tidak tahu (sapi yang dibeli menderita PMK) saat beli,” katanya.

Terpisah, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Jepara Zamroni Lestiaza mengaku, kejadian itu menambah jumlah kematian akibat ternak. Sementara kasus PMK masih berlanjut, ia menyayangkan pedagang kambing yang masih nekat berjualan. Sebelumnya Pemkab Jepara telah melarang penjualan kambing di pasar hewan. Namun, tetap saja para pedagang tetap berjualan.

”Yang dilarang itu kan semua. Tidak hanya pedagang sapi dan kerbau. Termasuk kambing seharusnya tidak boleh. Tapi, susah mengendalikan penjual. Mereka masih tetap menjual di pasar hewan, walau sudah ditertibkan polisi dan satpol PP” katanya. ”Pemkab juga sudah mengajukan obat ke provinsi, tapi belum datang,” imbuhnya.

Baca Juga :  Gelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, Mas Gilang: Jadikan Perbedaan sebagai Penguat Kebersamaan

Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) pada DKPP Jepara Mudhofir mengatakan, hingga kini ada 21 ternak yang mati. Pihaknya terus memantau perkembangan PMK setiap hari. Ia menduga kasus ini akan berjalan lama. Tidak hanya dua atau tiga bulan. Mungkin hingga tahun depan. ”Kasus ini mirip Covid-19, tapi menimpa hewan. Asal muasalnya virus. Jadi tidak sebentar,” katanya.

Meski begitu, beberapa ternak juga ada yang sembuh. Trimo, peternak asal Desa Batukali mengatakan, belum lama ini kerbaunya menunjukkan gejala klinis seperti PMK. Tidak nafsu makan dan ada bagian badan melepuh.

Trimo lalu mengundang mantri hewan. Tak lama kerbaunya membaik. ”Ini sudah berkeringat (kerbaunya). Kemarin tidak. Sudah membaik,” jelas Trimo. (nib/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/