alexametrics
23.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Terima Restorative Justice, Tersangka Penipuan di Jepara Berakhir Damai

JEPARA – Kasus penipuan yang melibatkan tersangka Ahmad Pujianto, warga Desa Bawu, Batealit berakhir damai. Korbannya saat itu adalah Ali Subkhan, yang berasal dari desa yang sama dengan tersangka. Tersangka mendapatkan restorative justice karena baru sekali melakukan tindak kejahatan tersebut. Yang ancamannya tak lebih dari empat tahun.

Perdamaian keduanya difasilitasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jepara. Sebelum berhasil didamaikan, tersangka bahkan sudah sampai ditahan di Rutan Kelas II B Jepara sejak 11 Desember 2021 lalu. Ahmad Pujianto dibebaskan dari penjara setelah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyetujui permohonan penghentian penuntutan Senin (14/2) lalu.

Perkara antara Pujianto dan Subkhan terjadi 23 Desember 2019 lalu. Saat itu Pujianto merupakan pegawai dealer motor. Dirinya menjanjikan dan membujuk Subkhan untuk membeli motor lewat dirinya. Subkhan pun membeli sebuah motor Honda CRF 150. Dia membeli secara tunai. Besarannya Rp 32,140 juta.


Uang itu diterima Pujianto. Namun, oleh Pujianto uang tersebut tidak dibayarkan seluruhnya. Melainkan hanya untuk pembayaran uang mua sebesar Rp 15 juta. Sementara sisanya dipakainya untuk memenuhi kebutuhannya. ”Jadi karena dianggap uang muka saja, otomatis korban tidak mendapatkan surat-suratnya. Malah dianggap punya hutang,” terang Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jepara Ayu Agung kemarin.

Baca Juga :  Di Jepara, Tak Ada Antrean Pertalite di SPBU, Warga Bisa Beli Kapan Saja

Atas dasar itulah Pujianto diperkarakan. Karena dia dianggap melanggar Pasal 378 atau 372 KUHP. Namun mulai kemarin dirinya telah dinyatakan bebas. Dan antara keduanya juga telah berdamai yang difasilitasi di Aula Gedung Kejari Jepara kemarin.

Pemberlakuan restorative justice kemarin merupakan yang kedua kali digelar di Jepara. Sebelumnya, Kejari Jepara juga berhasil mengupayakan restorative justice atas perkara penganiayaan, pada 19 November 2021 lalu.

Pemberlakuannya tidak bisa dilakukan serta merta. Melainkan harus memenuhi tiga syarat sesuai dengan peraturan jaksa (Perja) nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan. Yaitu tersangka pertama kali melakukan tindak pidana, tuntutan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun, dan nilai kerugiannya tidak lebih dari Rp 2,5 juta. (war)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Kasus penipuan yang melibatkan tersangka Ahmad Pujianto, warga Desa Bawu, Batealit berakhir damai. Korbannya saat itu adalah Ali Subkhan, yang berasal dari desa yang sama dengan tersangka. Tersangka mendapatkan restorative justice karena baru sekali melakukan tindak kejahatan tersebut. Yang ancamannya tak lebih dari empat tahun.

Perdamaian keduanya difasilitasi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Jepara. Sebelum berhasil didamaikan, tersangka bahkan sudah sampai ditahan di Rutan Kelas II B Jepara sejak 11 Desember 2021 lalu. Ahmad Pujianto dibebaskan dari penjara setelah Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum menyetujui permohonan penghentian penuntutan Senin (14/2) lalu.

Perkara antara Pujianto dan Subkhan terjadi 23 Desember 2019 lalu. Saat itu Pujianto merupakan pegawai dealer motor. Dirinya menjanjikan dan membujuk Subkhan untuk membeli motor lewat dirinya. Subkhan pun membeli sebuah motor Honda CRF 150. Dia membeli secara tunai. Besarannya Rp 32,140 juta.

Uang itu diterima Pujianto. Namun, oleh Pujianto uang tersebut tidak dibayarkan seluruhnya. Melainkan hanya untuk pembayaran uang mua sebesar Rp 15 juta. Sementara sisanya dipakainya untuk memenuhi kebutuhannya. ”Jadi karena dianggap uang muka saja, otomatis korban tidak mendapatkan surat-suratnya. Malah dianggap punya hutang,” terang Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Jepara Ayu Agung kemarin.

Baca Juga :  PLN UIK Tanjung Jati B Beri Bantuan 1.000 Paket Beras kepada Nelayan

Atas dasar itulah Pujianto diperkarakan. Karena dia dianggap melanggar Pasal 378 atau 372 KUHP. Namun mulai kemarin dirinya telah dinyatakan bebas. Dan antara keduanya juga telah berdamai yang difasilitasi di Aula Gedung Kejari Jepara kemarin.

Pemberlakuan restorative justice kemarin merupakan yang kedua kali digelar di Jepara. Sebelumnya, Kejari Jepara juga berhasil mengupayakan restorative justice atas perkara penganiayaan, pada 19 November 2021 lalu.

Pemberlakuannya tidak bisa dilakukan serta merta. Melainkan harus memenuhi tiga syarat sesuai dengan peraturan jaksa (Perja) nomor 15 tahun 2020 tentang penghentian penuntutan. Yaitu tersangka pertama kali melakukan tindak pidana, tuntutan pidana penjara tidak lebih dari lima tahun, dan nilai kerugiannya tidak lebih dari Rp 2,5 juta. (war)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/