alexametrics
24.9 C
Kudus
Saturday, May 14, 2022

PLTS Parang Diambil Alih PLN, Pemkab Jepara Subsidi Rp 1,5 M Per Tahun

JEPARA – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Desa Parang, Karimunjawa, Jepara, diserahkan ke PT PLN (Persero). Penyerahan itu sudah dilakukan sekitar dua bulan lalu.

”Ini masih proses peralihan ke PLN. Semoga secepatnya bisa terlakasana,” jelas Bupati Jepara Dian Kristiandi kemarin.

Ia menjelaskan ada tiga desa yang tahun ini dialihkan ke PT. PLN (Persero). Yaitu Desa Parang terdiri dari 394 KK, Desa Nyamuk sekitar 170 KK, dan Desa Genting 600 KK.


”Warga secara bertahap akan dimasukkan langganan listrik PLN,” ujarnya.

Andi-sapaan Dian Kristiandi- mengaku tidak paham secara spesifik apakah PLN akan memanfaatkan listrik dari PLTS yang sudah ada atau ke tenaga lain. Seperti solar atau gas.

”Teknis tenaganya diserahkan ke PLN dalam hal ini PLN Indonesia Power. Misal di pusat Desa Karimunjawa dan Kemojan tenaga disel. Apakah nanti PLTS atau solar atau gas di tiga wilayah itu (Desa Parang, Nyamuk, dan Getting, Red), itu kewenangan PLN,” ucapnya.

Selama ini PLTS di Desa Parang dikelola Pemkab Jepara. Per tahun pemkab menganggarkan untuk PLTS Parang itu sekitar Rp 1,5 miliar. Anggaran itu untuk pengelolaan dan perawatan.

Untuk diketahui baterai di PLTS Desa Parang tak berfungsi maksimal. Sehingga ketersediaan listrik di Karimunjawa terbatas.

MATI: Salah satu petugas memerlihatkan kepada wartawan baterai PLTS yang telah tidak berfungsi. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Kepala Desa atau Petinggi Desa Parang Zaenal Arifin menyampaikan apabila satu hari pemakaian dilakukan berlebih, maka listrik warga dalam satu rumah otomatis akan mati. Dan harus menunggu sampai baterai terisi kembali.

Baca Juga :  Disapu Angin Kencang, Pohon Tumbang Timpa Bangunan Sekolah di Jepara

”Penggunaan listrik dari seluruh Kartu Keluarga (KK) belum terpenuhi. Jatahnya 1.500 watt per rumah untuk 24 jam,” jelasnya.

Dia menjelaskan di Desa Parang ada 394 KK. Sementara itu untuk rumah yang difasilitasi PLTS 397.

Ia menyampaikan, Pemerintah Desa Parang berharap penggunaan listrik suatu hari bisa maksimal. Soal tidak berfungsinya baterai ini juga sudah disampaikan oleh Aminun Khakim, operator PLTD/S Desa Parang.

Menurutnya peralatan PLTS harus segera diganti.

Aminun Khakim mengakatan sejak bantuan PLTS diberikan, sudah ada peringatan baterai tidak bertahan lama. Sebab, daya tahannya hanya berkisar empat tahun. Selanjutnya harus diganti.

”Makanya genset itu yang biasanya untuk cadangan di kita malah jadi utama,” ungkap Amin.

Ia di Desa Parang ada listrik 2002. Saat itu menggunakan genset. Pada 2014 ada bantuan PLTS dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kapasitas 75 Kw. Terakhir, pada 2018 ada bantuan dari Denmark berupa PLTD/S.

Ia mengatakan akan ada anggaran untuk penggantian baterai tahun ini. Namun masih belum pasti. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini juga sempat melihat langsung lokasi PLTS. Ada dua bangunan berisi baterai. Satu bangunan kondisi mesinnya menyala. Satu bangunan lain mesinnya mati. (nib/zen)

JEPARA – Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Desa Parang, Karimunjawa, Jepara, diserahkan ke PT PLN (Persero). Penyerahan itu sudah dilakukan sekitar dua bulan lalu.

”Ini masih proses peralihan ke PLN. Semoga secepatnya bisa terlakasana,” jelas Bupati Jepara Dian Kristiandi kemarin.

Ia menjelaskan ada tiga desa yang tahun ini dialihkan ke PT. PLN (Persero). Yaitu Desa Parang terdiri dari 394 KK, Desa Nyamuk sekitar 170 KK, dan Desa Genting 600 KK.

”Warga secara bertahap akan dimasukkan langganan listrik PLN,” ujarnya.

Andi-sapaan Dian Kristiandi- mengaku tidak paham secara spesifik apakah PLN akan memanfaatkan listrik dari PLTS yang sudah ada atau ke tenaga lain. Seperti solar atau gas.

”Teknis tenaganya diserahkan ke PLN dalam hal ini PLN Indonesia Power. Misal di pusat Desa Karimunjawa dan Kemojan tenaga disel. Apakah nanti PLTS atau solar atau gas di tiga wilayah itu (Desa Parang, Nyamuk, dan Getting, Red), itu kewenangan PLN,” ucapnya.

Selama ini PLTS di Desa Parang dikelola Pemkab Jepara. Per tahun pemkab menganggarkan untuk PLTS Parang itu sekitar Rp 1,5 miliar. Anggaran itu untuk pengelolaan dan perawatan.

Untuk diketahui baterai di PLTS Desa Parang tak berfungsi maksimal. Sehingga ketersediaan listrik di Karimunjawa terbatas.

MATI: Salah satu petugas memerlihatkan kepada wartawan baterai PLTS yang telah tidak berfungsi. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Kepala Desa atau Petinggi Desa Parang Zaenal Arifin menyampaikan apabila satu hari pemakaian dilakukan berlebih, maka listrik warga dalam satu rumah otomatis akan mati. Dan harus menunggu sampai baterai terisi kembali.

Baca Juga :  Kompor Induksi Ramaikan Pasar Peralatan Rumah Tangga

”Penggunaan listrik dari seluruh Kartu Keluarga (KK) belum terpenuhi. Jatahnya 1.500 watt per rumah untuk 24 jam,” jelasnya.

Dia menjelaskan di Desa Parang ada 394 KK. Sementara itu untuk rumah yang difasilitasi PLTS 397.

Ia menyampaikan, Pemerintah Desa Parang berharap penggunaan listrik suatu hari bisa maksimal. Soal tidak berfungsinya baterai ini juga sudah disampaikan oleh Aminun Khakim, operator PLTD/S Desa Parang.

Menurutnya peralatan PLTS harus segera diganti.

Aminun Khakim mengakatan sejak bantuan PLTS diberikan, sudah ada peringatan baterai tidak bertahan lama. Sebab, daya tahannya hanya berkisar empat tahun. Selanjutnya harus diganti.

”Makanya genset itu yang biasanya untuk cadangan di kita malah jadi utama,” ungkap Amin.

Ia di Desa Parang ada listrik 2002. Saat itu menggunakan genset. Pada 2014 ada bantuan PLTS dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kapasitas 75 Kw. Terakhir, pada 2018 ada bantuan dari Denmark berupa PLTD/S.

Ia mengatakan akan ada anggaran untuk penggantian baterai tahun ini. Namun masih belum pasti. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini juga sempat melihat langsung lokasi PLTS. Ada dua bangunan berisi baterai. Satu bangunan kondisi mesinnya menyala. Satu bangunan lain mesinnya mati. (nib/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/