alexametrics
30.7 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Duh, Sampah Medis Berbahaya di Jepara Dibuang Begitu Saja di Ruang Terbuka

KUDUS – Bertahun-tahun sampah medis tidak dikelola seperti seharusnya. Mulai dari tenaga yang kewalahan dan tidak mumpuni hingga tidak adanya ruang khusus bagi sampah medis. Limbah medis yang tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3) dibiarkan di ruangan terbuka.

Demikian penjelasan Nuraini, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ia menjelaskan, rata-rata puskesmas di Jepara sudah miliki lokasi tempat penanganan sampah (TPS) khusus medis. Meski begitu, kondisinya tidak semua baik.

“Yang bagus ya puskesmas yang punya gedung baru, karena sekalian sudah dibangunkan (lokasinya),” jelas Nuraini.


Ia menilai, mayoritas puskesmas tidak memiliki tenaga khusus pemilah sampah. Di beberapa tempat, ia menemukan sampah medis dan non medis masih bercampur.

Padahal, kata Nuraini, yang demikian membahayakan lingkungan dan manusia. “Bayangkan kalo sampah suntik bekas, yang nemukan anak kecil, dibuat mainan, ngeri itu,” jelas Nuraini.

Ke depannya, pihaknya ingin menambahkan ketentuan pada regulasi yang sudah ada.

Kepala Puskesmas Welahan 1, dr. Nurikan mengatakan hal serupa. Akhir tahun 2021, pihaknya sempat ditegur DLH karena kondisi sampah medis belum sesuai. Meski begitu, saat ini pihaknya telah memisahkan sampah medis dan non medis.

Baca Juga :  Modus Sembuhkan Penyakit, Dukun di Jepara Cabuli Pasien Berulang Kali

“Untuk sampah medis, kami taruh di salah satu ruangan yang bisa tertutup,” jelasnya sambil memperlihatkan foto sampah medis tersebut.

Hal berbeda dialami oleh puskesmas Kalinyamatan. Dr. Lupi Murwani, kepala puskesmas Kalinyamatan mengaku pihaknya kewalahan mengurus limbah medis. Ia mengaku, tidak ada ruangan khusus yang ia miliki. Sehingga, sampah medis masih dibiarkan berada di ruangan terbuka.

‘Tenaga sanitarian saya merangkap bendahara dan input data vaksin, kami juga sudah MoU dengan perusahaan pengelola limbah,” jelas Lupi.

Namun, sampai saat ini pihak perusahaan tidak kontinyu dalam mengambil sampah. Kata Lupi, pihaknya pernah menggunakan mesin pembakar sampah medis saat itu namun dilarang sebab membahayakan lingkungan. “Padahal waktu itu sampah medis jadi tertib,” jelas Lupi.

Saat ini pihaknya menunggu komando dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) terkait hal tersebut. “Kalau kami tangani sendiri boleh ya kami tangani sendiri, tapi kan tidak boleh,” tandas Lupi. (nib/him)

KUDUS – Bertahun-tahun sampah medis tidak dikelola seperti seharusnya. Mulai dari tenaga yang kewalahan dan tidak mumpuni hingga tidak adanya ruang khusus bagi sampah medis. Limbah medis yang tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3) dibiarkan di ruangan terbuka.

Demikian penjelasan Nuraini, Kabid Pengendalian Pencemaran dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Ia menjelaskan, rata-rata puskesmas di Jepara sudah miliki lokasi tempat penanganan sampah (TPS) khusus medis. Meski begitu, kondisinya tidak semua baik.

“Yang bagus ya puskesmas yang punya gedung baru, karena sekalian sudah dibangunkan (lokasinya),” jelas Nuraini.

Ia menilai, mayoritas puskesmas tidak memiliki tenaga khusus pemilah sampah. Di beberapa tempat, ia menemukan sampah medis dan non medis masih bercampur.

Padahal, kata Nuraini, yang demikian membahayakan lingkungan dan manusia. “Bayangkan kalo sampah suntik bekas, yang nemukan anak kecil, dibuat mainan, ngeri itu,” jelas Nuraini.

Ke depannya, pihaknya ingin menambahkan ketentuan pada regulasi yang sudah ada.

Kepala Puskesmas Welahan 1, dr. Nurikan mengatakan hal serupa. Akhir tahun 2021, pihaknya sempat ditegur DLH karena kondisi sampah medis belum sesuai. Meski begitu, saat ini pihaknya telah memisahkan sampah medis dan non medis.

Baca Juga :  Kabar Baik, Bandara Dewandaru di Karimunjawa Beroperasi Lagi

“Untuk sampah medis, kami taruh di salah satu ruangan yang bisa tertutup,” jelasnya sambil memperlihatkan foto sampah medis tersebut.

Hal berbeda dialami oleh puskesmas Kalinyamatan. Dr. Lupi Murwani, kepala puskesmas Kalinyamatan mengaku pihaknya kewalahan mengurus limbah medis. Ia mengaku, tidak ada ruangan khusus yang ia miliki. Sehingga, sampah medis masih dibiarkan berada di ruangan terbuka.

‘Tenaga sanitarian saya merangkap bendahara dan input data vaksin, kami juga sudah MoU dengan perusahaan pengelola limbah,” jelas Lupi.

Namun, sampai saat ini pihak perusahaan tidak kontinyu dalam mengambil sampah. Kata Lupi, pihaknya pernah menggunakan mesin pembakar sampah medis saat itu namun dilarang sebab membahayakan lingkungan. “Padahal waktu itu sampah medis jadi tertib,” jelas Lupi.

Saat ini pihaknya menunggu komando dari Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) terkait hal tersebut. “Kalau kami tangani sendiri boleh ya kami tangani sendiri, tapi kan tidak boleh,” tandas Lupi. (nib/him)


Most Read

Artikel Terbaru

/