alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Undang Wakil Direktur Jawa Pos Group, UNISNU Jepara Gelar Seminar Nasional Literasi Digital

JEPARA  – Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fadakom) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menghadirkan tiga narasumber seminar nasional literasi digital di ruang pascasarjana, Rabu (11/8). Mengupas tips aman dan nyaman berselancar di media sosial.

Seminar itu mengangkat tema “Digital Native dan Literasi Digital, Aman dan Nyaman Berselancar di Media Sosial”. Pematerinya berasal dari kalangan akademisi dan praktisi. Mereka Wakil Direktur Jawa Pos Group sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Kudus, Baehaqi; akademisi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr. Lintang Ratri Rahmiaji; dan akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta Dr. Novi Kurnia.

Seminar tersebut membahas karakter media sosial, sifat penggunanya, dampak baik dan buruk serta tips bagaimana mengatasinya. Diselenggarakan luring dan daring, hadir lebih dari 200 peserta.


Baehaqi memaparkan soal permasalahan gap antargenerasi. Ia menilai, perlu adanya jembatan komunikasi antara generasi Z dan baby boomer. “Budaya yang dialami baby boomer jauh berbeda dengan generasi X dan Z, apakah keduanya nyambung, ya jelas tidak,” kata pimpinan Jawa Pos Group itu.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar Resmikan Laboratorium Saintek Unisnu Jepara

Ia menambahkan, generasi baby boomer perlu belajar dan banyak beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain itu, perubahan media saat ini telah ikut merubah tatanan politik, sosial, dan budaya.

Sementara itu, Dr. Lintang melalui zoom, mengingatkan soal nilai-nilai yang perlu dijaga oleh pengguna media sosial. Ia menilai, nilai-nilai ke-Islaman seperti tabayyun (konfirmasi ulang), tawasuth (moderat) tidak banyak diterapkan para digital native. “Karenanya banyak bullying, pelecehan, orang bicara tidak manfaat, dan ujaran kebencian,” ungkap akademisi Semarang itu.

Senada, Novi Kurnia melalui zoom memaparkan potensi media sosial bila digunakan dengan bijak. Ia juga mengajak kepada hadirin untuk waspada terhadap kejahatan digital. Seperti cybercrime dan pembobolan data yang tengah banyak memakan korban. “Maka bermedsos dengan bijak. Posting yang penting. Jangan yang penting posting,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fadakom Unisnu Jepara Abdul Wahab berharap apa yang disampaikan narasumber tidak hanya berhenti di acara seminar saja. Namun dapat dijadikan referensi peserta dalam bermedsos. (nib/war)






Reporter: Nibros Hassani

JEPARA  – Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Fadakom) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara menghadirkan tiga narasumber seminar nasional literasi digital di ruang pascasarjana, Rabu (11/8). Mengupas tips aman dan nyaman berselancar di media sosial.

Seminar itu mengangkat tema “Digital Native dan Literasi Digital, Aman dan Nyaman Berselancar di Media Sosial”. Pematerinya berasal dari kalangan akademisi dan praktisi. Mereka Wakil Direktur Jawa Pos Group sekaligus Direktur Jawa Pos Radar Kudus, Baehaqi; akademisi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Dr. Lintang Ratri Rahmiaji; dan akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta Dr. Novi Kurnia.

Seminar tersebut membahas karakter media sosial, sifat penggunanya, dampak baik dan buruk serta tips bagaimana mengatasinya. Diselenggarakan luring dan daring, hadir lebih dari 200 peserta.

Baehaqi memaparkan soal permasalahan gap antargenerasi. Ia menilai, perlu adanya jembatan komunikasi antara generasi Z dan baby boomer. “Budaya yang dialami baby boomer jauh berbeda dengan generasi X dan Z, apakah keduanya nyambung, ya jelas tidak,” kata pimpinan Jawa Pos Group itu.

Baca Juga :  Tetap Jaga Prokes, PLTU Tanjung Jati B Adakan Donor Darah

Ia menambahkan, generasi baby boomer perlu belajar dan banyak beradaptasi dengan perubahan zaman. Selain itu, perubahan media saat ini telah ikut merubah tatanan politik, sosial, dan budaya.

Sementara itu, Dr. Lintang melalui zoom, mengingatkan soal nilai-nilai yang perlu dijaga oleh pengguna media sosial. Ia menilai, nilai-nilai ke-Islaman seperti tabayyun (konfirmasi ulang), tawasuth (moderat) tidak banyak diterapkan para digital native. “Karenanya banyak bullying, pelecehan, orang bicara tidak manfaat, dan ujaran kebencian,” ungkap akademisi Semarang itu.

Senada, Novi Kurnia melalui zoom memaparkan potensi media sosial bila digunakan dengan bijak. Ia juga mengajak kepada hadirin untuk waspada terhadap kejahatan digital. Seperti cybercrime dan pembobolan data yang tengah banyak memakan korban. “Maka bermedsos dengan bijak. Posting yang penting. Jangan yang penting posting,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fadakom Unisnu Jepara Abdul Wahab berharap apa yang disampaikan narasumber tidak hanya berhenti di acara seminar saja. Namun dapat dijadikan referensi peserta dalam bermedsos. (nib/war)






Reporter: Nibros Hassani

Most Read

Artikel Terbaru