alexametrics
24.1 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Memprihatinkan, Sekolah di Jepara ini Rusak Parah, Atap dan Plafon Jebol

JEPARA

AMBROL: Guru kelas SDN 4 Ujungpandan menunjukkan plafon yang ambrol karena sudah lapuk. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Dari pantauan wartawan di lokasi kemarin, terlihat kerusakan di banyak sisi. Baik di dalam maupun luar sekolah. Di depan salah satu kelas, tiang bangunan keropos. Terlihat keroposan semen kering di mana-mana. Sementara di salah satu kelas atap dan plafonnya ambrol.

Kelas itu dulunya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekitar beberapa bulan lalu, atapnya rusak dan plafonnya jebol. Kata Sa’adah -guru SDN 4 Ujungpandan- warga sekitar sempat mengingatkan soal ini. ”Terlihat dari luar kerusakan atapnya,” kata Sa’adah kemarin.


Setelah ada peringatan itu, pihaknya langsung memindah kelas. Tepat di samping ruangan itu. ”Terlihat bahaya langsung kami pindah kelas,” ungkap guru kelas VI ini.

Selain kelasnya, ada juga kelas I yang ruangannya rusak. Tampak ruangan itu tidak bisa digunakan. Tidak ada plafon sama sekali. Selain itu, tampak beberapa sisi atap berlubang. Kelas itu, kini menjadi gudang buku dan lembaran soal. ”Penghuni kelas itu pindah ke ruangan perpustakaan,” jelasnya.

Baca Juga :  Pererat Silaturahmi, Dandim Jepara Sambangi Kelenteng Welahan

Tak hanya ruangan kelas, kamar mandi juga tidak dapat digunakan. Ia bercerita, banyak siswa yang pergi ke rumah masing-masing untuk buang air. ”Rumahnya (siswa, Red) memang dekat-dekat. Tidak ada yang jauh,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Widiyantoro mengatakan, sekolah tersebut terakhir mendapat bantuan pada perpustakaan. Berasal dari anggaran dana alokasi khusus (DAK) fisik 2021.

Selain SDN 4 Ujungpandan, di Kota Ukir sekolah yang bangunannya tidak layak masih banyak. Sebab, menggunakan bangunan lama. Di antaranya SD 2 Tempur, SD 2 Kendengsidialit, dan SD 2 Muryolobo.

Selain keterbatasan anggaran, ada survei lokasi untuk mempertimbangkan prioritas sekolah yang akan diperbaiki. ”Ada kategori rusak sedang, berat, dan paling berat. Paling berat itu, termasuk atapnya ada tapi hancur karena bangunan lama,” jelas Widiyantoro. (nib/lin)

JEPARA

AMBROL: Guru kelas SDN 4 Ujungpandan menunjukkan plafon yang ambrol karena sudah lapuk. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Dari pantauan wartawan di lokasi kemarin, terlihat kerusakan di banyak sisi. Baik di dalam maupun luar sekolah. Di depan salah satu kelas, tiang bangunan keropos. Terlihat keroposan semen kering di mana-mana. Sementara di salah satu kelas atap dan plafonnya ambrol.

Kelas itu dulunya digunakan untuk kegiatan belajar mengajar (KBM). Sekitar beberapa bulan lalu, atapnya rusak dan plafonnya jebol. Kata Sa’adah -guru SDN 4 Ujungpandan- warga sekitar sempat mengingatkan soal ini. ”Terlihat dari luar kerusakan atapnya,” kata Sa’adah kemarin.

Setelah ada peringatan itu, pihaknya langsung memindah kelas. Tepat di samping ruangan itu. ”Terlihat bahaya langsung kami pindah kelas,” ungkap guru kelas VI ini.

Selain kelasnya, ada juga kelas I yang ruangannya rusak. Tampak ruangan itu tidak bisa digunakan. Tidak ada plafon sama sekali. Selain itu, tampak beberapa sisi atap berlubang. Kelas itu, kini menjadi gudang buku dan lembaran soal. ”Penghuni kelas itu pindah ke ruangan perpustakaan,” jelasnya.

Baca Juga :  Mobil Pengangkut Minyak Terguling di Jepara, Tak Ada Korban Jiwa

Tak hanya ruangan kelas, kamar mandi juga tidak dapat digunakan. Ia bercerita, banyak siswa yang pergi ke rumah masing-masing untuk buang air. ”Rumahnya (siswa, Red) memang dekat-dekat. Tidak ada yang jauh,” imbuhnya.

Terpisah, Kepala Bidang SD pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Widiyantoro mengatakan, sekolah tersebut terakhir mendapat bantuan pada perpustakaan. Berasal dari anggaran dana alokasi khusus (DAK) fisik 2021.

Selain SDN 4 Ujungpandan, di Kota Ukir sekolah yang bangunannya tidak layak masih banyak. Sebab, menggunakan bangunan lama. Di antaranya SD 2 Tempur, SD 2 Kendengsidialit, dan SD 2 Muryolobo.

Selain keterbatasan anggaran, ada survei lokasi untuk mempertimbangkan prioritas sekolah yang akan diperbaiki. ”Ada kategori rusak sedang, berat, dan paling berat. Paling berat itu, termasuk atapnya ada tapi hancur karena bangunan lama,” jelas Widiyantoro. (nib/lin)


Most Read

Artikel Terbaru

/