alexametrics
25.4 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Alasan Data Berubah, Sembako 2021 di Jepara Baru Tersalurkan

JEPARA – Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Kementerian Sosial tahun 2021 sedang dalam proses penyaluran bulan ini. Terkendala data, penyaluran sembako terhambat dari yang seharusnya sudah tersalur 2021. Tidak semua menerima secara tepat waktu. Ada yang terlambat sejak pertengahan 2021.

Keterlambatan ini disebabkan pengiriman data dari pusat yang tidak segera dikirimkan. Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Anto menjelaskan pihaknya tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu data dari pusat (Kemensos, Red).

Sementara itu, untuk jatah tahun 2022 ini pihaknya belum mendapat info dari Kemensos. Pihaknya juga diberi tenggat waktu untuk penyaluran jatah tahun 2021. Maksimal 14 Januari 2022. Selanjutnya, dana akan kembali ke kas negara. Saat ini pihaknya baru menerima sekitar 110 ribu data penerima manfaat. Ia mengaku selama ini data juga sering berubah.


Wartawan menemui salah satu penyalur BPNT di Demaan, Kecamatan Jepara. Ninik, namanya. Ia telah menjadi penyalur bantuan dari Kemensos selama dua tahun. Untuk penyaluran saat ini atas nama suaminya. Namun, untuk rincian dan proses pengambilan ia mengaku lebih mengerti.

Di rumah Ninik, tampak mobil pengangkut telur memasuki gerbang. Di halaman rumahnya, plastic-plastik berwarna merah berisikan telur siap diambil. Di sisi kiri rumah, tumpukan beras tampak tertata rapi. Dua hingga tiga warga juga terlihat sedang mengepak kemasan sembako.

Baca Juga :  Antrean Penyaluran Bansos Membeludak, Pukul 09.30 Petugas Baru Datang

Setiap penerima manfaat mendapat jatah senilai Rp 200 ribu. Dalam sembako itu terdapat jenis barang yang telah disepakati saat rapat di kecamatan kecamatan. Sementara, jenis komoditasnya sesuai dengan yang ditentukan pusat. Dalam satu sembako, pihaknya membagikan 10 kilo beras seharga Rp 118 ribu, 9 ons ayam seharga Rp 37 ribu, ¾ kilo telur seharga Rp 19.500, 4 ons buah anggur seharga 19 ribu, serta ¼ kilo kacang hijau seharga Rp 6.500. Sebelumnya sempat untuk protein ia menggunakan setengah kilo daging seharga Rp 55 ribu.

“Prinsipnya fleksibel, dan kita se-kecamatan selalu berkoordinasi bersama semisal ada yang kekurangan stok. Jadi bisa saling membantu,” ungkapnya.

Ia juga menghadapi kendala saat data terlambat. “Pernah ada yang terlambat enam bulan baru diambil Jadinya rapel,” jelasnya.

Meski begitu, bagi warga yang mau mengambil secara mencicil juga boleh. “Terlambat enam bulan, tidak harus langsung ambil enam jatah. Bisa dua dulu,” ungkapnya. (nib/him)

JEPARA – Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) Kementerian Sosial tahun 2021 sedang dalam proses penyaluran bulan ini. Terkendala data, penyaluran sembako terhambat dari yang seharusnya sudah tersalur 2021. Tidak semua menerima secara tepat waktu. Ada yang terlambat sejak pertengahan 2021.

Keterlambatan ini disebabkan pengiriman data dari pusat yang tidak segera dikirimkan. Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermasdes) Anto menjelaskan pihaknya tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu data dari pusat (Kemensos, Red).

Sementara itu, untuk jatah tahun 2022 ini pihaknya belum mendapat info dari Kemensos. Pihaknya juga diberi tenggat waktu untuk penyaluran jatah tahun 2021. Maksimal 14 Januari 2022. Selanjutnya, dana akan kembali ke kas negara. Saat ini pihaknya baru menerima sekitar 110 ribu data penerima manfaat. Ia mengaku selama ini data juga sering berubah.

Wartawan menemui salah satu penyalur BPNT di Demaan, Kecamatan Jepara. Ninik, namanya. Ia telah menjadi penyalur bantuan dari Kemensos selama dua tahun. Untuk penyaluran saat ini atas nama suaminya. Namun, untuk rincian dan proses pengambilan ia mengaku lebih mengerti.

Di rumah Ninik, tampak mobil pengangkut telur memasuki gerbang. Di halaman rumahnya, plastic-plastik berwarna merah berisikan telur siap diambil. Di sisi kiri rumah, tumpukan beras tampak tertata rapi. Dua hingga tiga warga juga terlihat sedang mengepak kemasan sembako.

Baca Juga :  Produk Unggulan Kabupaten Jepara Dipamerkan di Bogor Creative Center

Setiap penerima manfaat mendapat jatah senilai Rp 200 ribu. Dalam sembako itu terdapat jenis barang yang telah disepakati saat rapat di kecamatan kecamatan. Sementara, jenis komoditasnya sesuai dengan yang ditentukan pusat. Dalam satu sembako, pihaknya membagikan 10 kilo beras seharga Rp 118 ribu, 9 ons ayam seharga Rp 37 ribu, ¾ kilo telur seharga Rp 19.500, 4 ons buah anggur seharga 19 ribu, serta ¼ kilo kacang hijau seharga Rp 6.500. Sebelumnya sempat untuk protein ia menggunakan setengah kilo daging seharga Rp 55 ribu.

“Prinsipnya fleksibel, dan kita se-kecamatan selalu berkoordinasi bersama semisal ada yang kekurangan stok. Jadi bisa saling membantu,” ungkapnya.

Ia juga menghadapi kendala saat data terlambat. “Pernah ada yang terlambat enam bulan baru diambil Jadinya rapel,” jelasnya.

Meski begitu, bagi warga yang mau mengambil secara mencicil juga boleh. “Terlambat enam bulan, tidak harus langsung ambil enam jatah. Bisa dua dulu,” ungkapnya. (nib/him)

Most Read

Artikel Terbaru

/