alexametrics
28 C
Kudus
Tuesday, July 5, 2022

Air Mampet, Sekolah di Jepara Ini Terpaksa Numpang di Toilet Warga

JEPARA – Di Jepara, masih terdapat sekolah yang miliki sarana belum layak. Termasuk kamar mandi. Bahkan siswa dan guru harus menumpang toilet masjid dan milik warga karena kamar mandi tidak bisa digunakan.

Sofi, guru kelas SDN 3 Ujungpandan  menceritakan dirinya harus pergi ke tempat lain untuk buang air. Sebab, saat jam sekolah air sering mampet. Sebelum kamar mandi dibangun, ia dan siswa di sekolah itu sering meminjam masjid dan toilet warga untuk keperluan buang air.

Setelah kamar mandi yang baru dibangun, pihak sekolah juga jarang menggunakannya. Sebab, tidak bisa digunakan. Yang sering menggunakan ialah warga sekitar. Utamanya pada malam hari. Katanya, air hanya menyala pada malam hari. Diketahui air tak bersumber dari sumur. Melainkan sambungan dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Jepara.


Dari penelusuran wartawan di area kamar mandi kemarin, air tak bisa mengalir dari keran. Saat itu masih jam sekolah. Selain itu, kamar mandi tampak kotor. Tidak ada lampu yang menyala. Gedung kamar mandi juga belum dicat.

Sutomo, Kepala SDN 3 Ujungpandan ikut mengeluhkan hal tersebut. Ia tidak mengetahui kenapa kamar mandi belum bisa digunakan. Kata Sutomo, dari pihak rekanan sudah menyatakan selesai. Namun tak bisa difungsikan. Sementara ini penghuni sekolah menggunakan kamar mandi warga di sekitar sekolah. “Dapat rehab selesai awal tahun lalu. Namun tak bisa difungsikan,” keluhnya.

Baca Juga :  DPRD Jepara Kaji Sanksi Perda Minuman Keras

Kepala Bidang SD Widiyantoro pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Widiyantoro mengaku, masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana prasarana yang layak. Selain SDN 3 Ujungpandan, ada juga SDN 4 Balong Kecamatan Kembang, SDN 4 Plajan Kecamatan Pakis Aji, SDN 6 Karimunjawa, dan SDN 1 Pecangaan. “Banyak sekolah dasar punya kamar mandi, tapi tidak layak,” jelas Widiyantoro.

Selain menganggarkan bangunan fisik, ia meminta kepada sekolah untuk memerhatikan pemerliharaan sarana. “Bukan semata bangunan yang terlihat saja, tapi juga air, dan lain sebagainya,” kata Widi.

Tahun ini pihaknya menganggarkan Rp 11 miliar rehab sekolah, ruangan, dan sarana utilitas. Termasuk kamar mandi.

Ia menceritakan, awalnya ia mengusulkan dua kali lipatnya. Namun, yang disetujui separonya. Nantinya, bidang SD akan rapat untuk menentukan pembangunan prioritas. Melihat situasi dan kondisi di lapangan. (nib/war)

JEPARA – Di Jepara, masih terdapat sekolah yang miliki sarana belum layak. Termasuk kamar mandi. Bahkan siswa dan guru harus menumpang toilet masjid dan milik warga karena kamar mandi tidak bisa digunakan.

Sofi, guru kelas SDN 3 Ujungpandan  menceritakan dirinya harus pergi ke tempat lain untuk buang air. Sebab, saat jam sekolah air sering mampet. Sebelum kamar mandi dibangun, ia dan siswa di sekolah itu sering meminjam masjid dan toilet warga untuk keperluan buang air.

Setelah kamar mandi yang baru dibangun, pihak sekolah juga jarang menggunakannya. Sebab, tidak bisa digunakan. Yang sering menggunakan ialah warga sekitar. Utamanya pada malam hari. Katanya, air hanya menyala pada malam hari. Diketahui air tak bersumber dari sumur. Melainkan sambungan dari Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Jepara.

Dari penelusuran wartawan di area kamar mandi kemarin, air tak bisa mengalir dari keran. Saat itu masih jam sekolah. Selain itu, kamar mandi tampak kotor. Tidak ada lampu yang menyala. Gedung kamar mandi juga belum dicat.

Sutomo, Kepala SDN 3 Ujungpandan ikut mengeluhkan hal tersebut. Ia tidak mengetahui kenapa kamar mandi belum bisa digunakan. Kata Sutomo, dari pihak rekanan sudah menyatakan selesai. Namun tak bisa difungsikan. Sementara ini penghuni sekolah menggunakan kamar mandi warga di sekitar sekolah. “Dapat rehab selesai awal tahun lalu. Namun tak bisa difungsikan,” keluhnya.

Baca Juga :  DPRD Jepara Kaji Sanksi Perda Minuman Keras

Kepala Bidang SD Widiyantoro pada Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Jepara Widiyantoro mengaku, masih banyak sekolah yang belum memiliki sarana prasarana yang layak. Selain SDN 3 Ujungpandan, ada juga SDN 4 Balong Kecamatan Kembang, SDN 4 Plajan Kecamatan Pakis Aji, SDN 6 Karimunjawa, dan SDN 1 Pecangaan. “Banyak sekolah dasar punya kamar mandi, tapi tidak layak,” jelas Widiyantoro.

Selain menganggarkan bangunan fisik, ia meminta kepada sekolah untuk memerhatikan pemerliharaan sarana. “Bukan semata bangunan yang terlihat saja, tapi juga air, dan lain sebagainya,” kata Widi.

Tahun ini pihaknya menganggarkan Rp 11 miliar rehab sekolah, ruangan, dan sarana utilitas. Termasuk kamar mandi.

Ia menceritakan, awalnya ia mengusulkan dua kali lipatnya. Namun, yang disetujui separonya. Nantinya, bidang SD akan rapat untuk menentukan pembangunan prioritas. Melihat situasi dan kondisi di lapangan. (nib/war)


Most Read

Artikel Terbaru

/