alexametrics
24.7 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Tahun 2022, Pengusulan Ratu Kalinyamat Jadi Pahlawan Nasional Di-launching

JEPARA – Tahun ini, sosok Ratu Kalinyamat kembali diusulkan mendapatkan gelar pahlawan nasional. Dimulainya pengusulan ini, di-launching di Pendapa Kabupaten Jepara kemarin. Hadir dalam acara ini, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Habib Luthfi bin Yahya.

Ini merupakan kali ke tiga upaya pengusulan sosok Ratu Kalinyamat memperoleh gelar pahlawan nasional RI. Sosok Ratu Kalinyamat pernah diajukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menjadi pahlawan nasional sekitar 1995 dan 2007 lalu. Namun, usulan tersebut ditolak. ”Sudah dua kali penolakan. Secara undang-undang, hanya memiliki tiga kali kesempatan,” terang Lestari Moerdijat kemarin.

Pengusulan kali ini, merupakan evaluasi dari pengusulan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya dengan berupaya menemukan sumber primer yang membuktikan sosok yang lahir dengan nama Retno Kencono tersebut nyata adanya. ”Kami bersyukur menemukan jalan seorang kandidat doktor yang sekolah di Portugal dan menemukan dokumen-dokumen di sana yang membuktikan keberadaan Ratu Kalinyamat. Catatan itu ditulis para misioanaris. Ditemukan delapan sumber primer,” papar perempuan yang akrab disapa Rerie ini.


Penemuan tersebut, disusun menjadi sebuah naskah akademis berupa buku. Itu hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Yayasan Dharma Bakti Lestari sejak 2018 lalu. Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Prof Ratno Lukito mengatakan, naskah tersebut diberi judul Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579.

Baca Juga :  Pintu Syphon SWD Bocor di Desa Batukali Jepara Tak Kunjung Diperbaiki

Dengan hal itu, dirinya menegaskan sosok Ratu Kalinyamat bukan mitos. Harus ada pelurusan sejarah di dalamnya. Sebab, sebagian besar masyarakat hanya mengenalnya dengan lakon topo wudo.

Bupati Jepara Dian Kristiandi mengungkapkan, Ratu Kalinyamat memiliki peran besar dalam sejarah peradaban berdirinya Kabupaten Jepara. Oleh sebab itu, dirinya turut mendukung pengusulan gelar pahlawan kepada Ratu Kalinyamat. ”Semoga dapat kita wujudkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan mauidloh hasanah. Menurutnya, bukti sejarah bangsa harus selalu dijaga dan diperkuat. Sebab, dengan itu menjadi bukti kebesaran bangsa Indonesia. ”Saya mendukung sekali Ratu Kalinyamat diangkat jadi pahlawan nasional,” tegasnya.

Launching pengusulan gelar pahlawan itu, ditandai dengan penabuhan terbang. Usai dari Pendapa Kabupaten Jepara, para rombongan meliputi bupati Jepara, Lestari Moerdijat, dan Habib Luthfi, berziarah ke kompleks Makam Mantingan –tempat makan Ratu Kalinyamat beserta Sultan Hadlirin, suaminya. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

JEPARA – Tahun ini, sosok Ratu Kalinyamat kembali diusulkan mendapatkan gelar pahlawan nasional. Dimulainya pengusulan ini, di-launching di Pendapa Kabupaten Jepara kemarin. Hadir dalam acara ini, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Lestari Moerdijat dan Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Habib Luthfi bin Yahya.

Ini merupakan kali ke tiga upaya pengusulan sosok Ratu Kalinyamat memperoleh gelar pahlawan nasional RI. Sosok Ratu Kalinyamat pernah diajukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menjadi pahlawan nasional sekitar 1995 dan 2007 lalu. Namun, usulan tersebut ditolak. ”Sudah dua kali penolakan. Secara undang-undang, hanya memiliki tiga kali kesempatan,” terang Lestari Moerdijat kemarin.

Pengusulan kali ini, merupakan evaluasi dari pengusulan yang telah dilakukan sebelumnya. Salah satunya dengan berupaya menemukan sumber primer yang membuktikan sosok yang lahir dengan nama Retno Kencono tersebut nyata adanya. ”Kami bersyukur menemukan jalan seorang kandidat doktor yang sekolah di Portugal dan menemukan dokumen-dokumen di sana yang membuktikan keberadaan Ratu Kalinyamat. Catatan itu ditulis para misioanaris. Ditemukan delapan sumber primer,” papar perempuan yang akrab disapa Rerie ini.

Penemuan tersebut, disusun menjadi sebuah naskah akademis berupa buku. Itu hasil penelitian yang dilakukan tim peneliti dari Yayasan Dharma Bakti Lestari sejak 2018 lalu. Ketua Tim Pakar Ratu Kalinyamat Prof Ratno Lukito mengatakan, naskah tersebut diberi judul Ratu Kalinyamat: Perempuan Perintis Antikolonialisme 1549-1579.

Baca Juga :  Mulai Hari Ini Seluruh Objek Wisata di Jepara Ditutup

Dengan hal itu, dirinya menegaskan sosok Ratu Kalinyamat bukan mitos. Harus ada pelurusan sejarah di dalamnya. Sebab, sebagian besar masyarakat hanya mengenalnya dengan lakon topo wudo.

Bupati Jepara Dian Kristiandi mengungkapkan, Ratu Kalinyamat memiliki peran besar dalam sejarah peradaban berdirinya Kabupaten Jepara. Oleh sebab itu, dirinya turut mendukung pengusulan gelar pahlawan kepada Ratu Kalinyamat. ”Semoga dapat kita wujudkan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan mauidloh hasanah. Menurutnya, bukti sejarah bangsa harus selalu dijaga dan diperkuat. Sebab, dengan itu menjadi bukti kebesaran bangsa Indonesia. ”Saya mendukung sekali Ratu Kalinyamat diangkat jadi pahlawan nasional,” tegasnya.

Launching pengusulan gelar pahlawan itu, ditandai dengan penabuhan terbang. Usai dari Pendapa Kabupaten Jepara, para rombongan meliputi bupati Jepara, Lestari Moerdijat, dan Habib Luthfi, berziarah ke kompleks Makam Mantingan –tempat makan Ratu Kalinyamat beserta Sultan Hadlirin, suaminya. (rom/lin)






Reporter: Moh. Nur Syahri Muharrom

Most Read

Artikel Terbaru

/