alexametrics
28.1 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Kasus Sapi Terjangkit PMK Naik Tiga Kali Lipat, Pasar Hewan di Jepara Tutup Tiga Minggu

JEPARA – Sapi yang diduga terjangkit penyakit mulut dan kaki (PMK) bertambah. Melonjak, nyaris tiga kali lipat. Dalam jangka waktu dua hari. Dari 40 ekor sapi Selasa (31/5) menjadi 113 ekor sapi per kemarin.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini mendapat informasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) ada 40 sapi yang terindikasi PMK pada Selasa (31/5). Saat itu, sekretaris DKPP Sujima mengatakan pihaknya masih dalam proses mendata di lapangan. Dilakukan setiap hari. Ia mengaku ada kemungkinan bisa bertambah jumlahnya. Pihaknya juga dibantu oleh petugas laboratorium BBVet Wates Jogjakarta dalam pengambilan sampling. Sejak 19 Mei hingga kemarin (1/6).

”Hasil pastinya belum tahu, kemungkinan antre dengan suspek lain jadi kami tunggu,” kata Sujima belum lama ini.


Kemarin, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Mudhofir pada DKPP mengatakan jumlah sapi terduga PMK bertambah mencapai 113. Semuanya dalam kondisi pengobatan. Serta isolasi mandiri. Pihaknya juga ikut mengedukasi pemilik ternak terduga PMK.

Mudhofir mengatakan terduga PMK terbanyak ada di Kembang sebanyak 55 ekor. Kedua disusul Bangsri sebanyak 32 ekor. Kemudian Kedung sebanyak sembilan. Lainnya atau Batealit sebanyak tujuh ekor, Keling sebanyak enam ekor, Pakis Aji sebanyak tiga ekor, dan Tahunan sebanyak satu ekor.

Kondisi itu memaksa Pemerintah Kabupaten Jepara sementara menutup pasar hewan selama tiga minggu. Hal itu untuk mencegah merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).

Baca Juga :  Awal Tahun, Dinas Kesehatan Jepara Catat Ada 53 Kasus DBD, Satu Meninggal

Kepala Bidang Pasar Himawan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara mengatakan saat ini pihaknya menutup sementara pasar-pasar tersebut. Sembari memonitor kejadian di lapangan serta perkembangan kesehatan sapi.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sujima telah menduga hal itu akan terjadi. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Disperindag bila memang dibutuhkan penutupan. Pasar-pasar yang ditutup di antaranya pasar hewan besar di Bangsri, Keling, dan Mayong.

Tampak salah satu pasar hewan besar di Bangsri ditutup. Di depan gerbang, terpampang spanduk kuning bertuliskan: “Pengumuman!!! Untuk Sementara Pasar Hewan (Pon) Ditutup, karena Adanya Penyakit Kuku dan Mulut”. Pasar tersebut tampak sepi.

Syaifudin, warga sekitar, mengatakan belakangan ini memang sudah jarang terlihat sapi di pasar tersebut. “Biasanya sapi ada banyak, ini tadi yang ternak cuma domba saja,” katanya.

Belum lama ini, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah juga sempat berkomentar soal PMK, yakni dalam kunjungannya ke kota ukir (31/05). Ia meminta kepada pemerintah setempat untuk bisa menahan laju penyakitnya. Termasuk bila perlu menutup pasar hewan.

”Di beberapa kabupaten kemarin bilang saya tutup dulu pak dua minggu. Saya bilang boleh. Yang penting disiapkan karantina hewan. Kementrian sudah disiapkan vaksinnya, sedang diproses. Dinas kami akan membantu,” kata Ganjar. (nib/zen)

JEPARA – Sapi yang diduga terjangkit penyakit mulut dan kaki (PMK) bertambah. Melonjak, nyaris tiga kali lipat. Dalam jangka waktu dua hari. Dari 40 ekor sapi Selasa (31/5) menjadi 113 ekor sapi per kemarin.

Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini mendapat informasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) ada 40 sapi yang terindikasi PMK pada Selasa (31/5). Saat itu, sekretaris DKPP Sujima mengatakan pihaknya masih dalam proses mendata di lapangan. Dilakukan setiap hari. Ia mengaku ada kemungkinan bisa bertambah jumlahnya. Pihaknya juga dibantu oleh petugas laboratorium BBVet Wates Jogjakarta dalam pengambilan sampling. Sejak 19 Mei hingga kemarin (1/6).

”Hasil pastinya belum tahu, kemungkinan antre dengan suspek lain jadi kami tunggu,” kata Sujima belum lama ini.

Kemarin, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Mudhofir pada DKPP mengatakan jumlah sapi terduga PMK bertambah mencapai 113. Semuanya dalam kondisi pengobatan. Serta isolasi mandiri. Pihaknya juga ikut mengedukasi pemilik ternak terduga PMK.

Mudhofir mengatakan terduga PMK terbanyak ada di Kembang sebanyak 55 ekor. Kedua disusul Bangsri sebanyak 32 ekor. Kemudian Kedung sebanyak sembilan. Lainnya atau Batealit sebanyak tujuh ekor, Keling sebanyak enam ekor, Pakis Aji sebanyak tiga ekor, dan Tahunan sebanyak satu ekor.

Kondisi itu memaksa Pemerintah Kabupaten Jepara sementara menutup pasar hewan selama tiga minggu. Hal itu untuk mencegah merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).

Baca Juga :  Pendapatan dan Belanja Daerah Jepara Diusulkan Naik

Kepala Bidang Pasar Himawan pada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara mengatakan saat ini pihaknya menutup sementara pasar-pasar tersebut. Sembari memonitor kejadian di lapangan serta perkembangan kesehatan sapi.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sujima telah menduga hal itu akan terjadi. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Disperindag bila memang dibutuhkan penutupan. Pasar-pasar yang ditutup di antaranya pasar hewan besar di Bangsri, Keling, dan Mayong.

Tampak salah satu pasar hewan besar di Bangsri ditutup. Di depan gerbang, terpampang spanduk kuning bertuliskan: “Pengumuman!!! Untuk Sementara Pasar Hewan (Pon) Ditutup, karena Adanya Penyakit Kuku dan Mulut”. Pasar tersebut tampak sepi.

Syaifudin, warga sekitar, mengatakan belakangan ini memang sudah jarang terlihat sapi di pasar tersebut. “Biasanya sapi ada banyak, ini tadi yang ternak cuma domba saja,” katanya.

Belum lama ini, Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah juga sempat berkomentar soal PMK, yakni dalam kunjungannya ke kota ukir (31/05). Ia meminta kepada pemerintah setempat untuk bisa menahan laju penyakitnya. Termasuk bila perlu menutup pasar hewan.

”Di beberapa kabupaten kemarin bilang saya tutup dulu pak dua minggu. Saya bilang boleh. Yang penting disiapkan karantina hewan. Kementrian sudah disiapkan vaksinnya, sedang diproses. Dinas kami akan membantu,” kata Ganjar. (nib/zen)


Most Read

Artikel Terbaru

/