alexametrics
26.2 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Awal Tahun, Dinas Kesehatan Jepara Catat Ada 53 Kasus DBD, Satu Meninggal

JEPARA – Awal tahun ini sudah ada 53 kasus demam berdarah. Satu dilaporkan meninggal dunia. Ada klaim jumlah ini naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara pemerintah terus mensosialisasikan tindakan pencegahan, kesadaran dari masyarakat dinilai penting.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) melalui Kepala Bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) dr. Eko Cahyo mengatakan pihaknya terus memantau kasus DBD ini. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan termasuk gerakan serentak pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu, DKK mengeluarkan anggaran untuk penyemprotan saat dinilai perlu.

Terakhir, pihaknya mendata ada 416 laporan Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS). Jumlah itu untuk bulan ini.


Kekhawatiran juga disampaikan oleh ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jepara, dr. Edwin Tohaga. Ia melihat ada kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia mengatakan, jumlah DBD ini erat kaitannya dengan cuaca dan faktor geografis. Karena laju pasca covid berubah, masyarakat kini sudah mulai banyak bergerak. Artinya, mulai banyak aktivitas.

Ia menilai, pada tahun 2021 laju masyarakat tidak seramai sekarang. 2021, banyak masyarakat masih berada di rumah.

Sementara itu, kondisi di wilayah Jepara dan hujan deras juga menjadi faktor. Dibandingkan dengan Kudus, Jepara unggul DBD-nya. Karena wilayah Jepara lebih kompleks. “Mungkin karena wilayah Jepara sendiri banyak lautnya, beda dengan Kudus,” ungkap dokter yang baru dilantik menjadi ketua IDI itu.

Baca Juga :  Dinkes: Hampir Kedaluwarsa, Vaksin Covid-19 di Grobogan Ludes dalam Sehari

Ia sering mengingatkan pasiennya terkait cuaca. Ia juga menghimbau pasiennya yang positif DBD untuk melihat kembali area rumahnya. “Jangan jangan area bermain anak itu juga jadi lokasi dinas nyamuknya,” ungkapnya.

Nyamuk aedes aegypti menggigitnya dua kali dalam sehari, kata Edwin. Yakni pada pukul 7-11 pagi, dan 2-5 sore.

Melihat kasus DBD tahun ini, pihaknya menjelaskan peran masyarakat menjadi vital. Sehingga, penanganan akan lebih maksimal pada hulu dan hilir. Seringkali pemerintah mencanangkan program, namun banyak dari masyarakat kurang peduli. Termasuk perihal kebersihan.

Hal sama disampaikan oleh Marwoto, petugas kesehatan desa Kriyan. Sebagai salah satu area endemis, pihaknya sering memantau kebersihan area kamar mandi masyarakat sekitar. Saat bertugas di lapangan, beliau pernah menemukan jentik nyamuk dalam satu tangkup tangan. Ia menemukan ini dalam sebuah bak mandi keramik. “Bayangkan, itu bak keramik, dan memang ketika ditanyakan pemiliknya jarang membersihan (menguras, Red) bak tersebut,” jelas Marwoto. (nib/him)

JEPARA – Awal tahun ini sudah ada 53 kasus demam berdarah. Satu dilaporkan meninggal dunia. Ada klaim jumlah ini naik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara pemerintah terus mensosialisasikan tindakan pencegahan, kesadaran dari masyarakat dinilai penting.

Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) melalui Kepala Bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) dr. Eko Cahyo mengatakan pihaknya terus memantau kasus DBD ini. Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan termasuk gerakan serentak pemberantasan sarang nyamuk. Selain itu, DKK mengeluarkan anggaran untuk penyemprotan saat dinilai perlu.

Terakhir, pihaknya mendata ada 416 laporan Kewaspadaan Dini Rumah Sakit (KDRS). Jumlah itu untuk bulan ini.

Kekhawatiran juga disampaikan oleh ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jepara, dr. Edwin Tohaga. Ia melihat ada kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ia mengatakan, jumlah DBD ini erat kaitannya dengan cuaca dan faktor geografis. Karena laju pasca covid berubah, masyarakat kini sudah mulai banyak bergerak. Artinya, mulai banyak aktivitas.

Ia menilai, pada tahun 2021 laju masyarakat tidak seramai sekarang. 2021, banyak masyarakat masih berada di rumah.

Sementara itu, kondisi di wilayah Jepara dan hujan deras juga menjadi faktor. Dibandingkan dengan Kudus, Jepara unggul DBD-nya. Karena wilayah Jepara lebih kompleks. “Mungkin karena wilayah Jepara sendiri banyak lautnya, beda dengan Kudus,” ungkap dokter yang baru dilantik menjadi ketua IDI itu.

Baca Juga :  Lampu LED Strip Jembatan Kali Kanal Timur DPRD Jepara Mati

Ia sering mengingatkan pasiennya terkait cuaca. Ia juga menghimbau pasiennya yang positif DBD untuk melihat kembali area rumahnya. “Jangan jangan area bermain anak itu juga jadi lokasi dinas nyamuknya,” ungkapnya.

Nyamuk aedes aegypti menggigitnya dua kali dalam sehari, kata Edwin. Yakni pada pukul 7-11 pagi, dan 2-5 sore.

Melihat kasus DBD tahun ini, pihaknya menjelaskan peran masyarakat menjadi vital. Sehingga, penanganan akan lebih maksimal pada hulu dan hilir. Seringkali pemerintah mencanangkan program, namun banyak dari masyarakat kurang peduli. Termasuk perihal kebersihan.

Hal sama disampaikan oleh Marwoto, petugas kesehatan desa Kriyan. Sebagai salah satu area endemis, pihaknya sering memantau kebersihan area kamar mandi masyarakat sekitar. Saat bertugas di lapangan, beliau pernah menemukan jentik nyamuk dalam satu tangkup tangan. Ia menemukan ini dalam sebuah bak mandi keramik. “Bayangkan, itu bak keramik, dan memang ketika ditanyakan pemiliknya jarang membersihan (menguras, Red) bak tersebut,” jelas Marwoto. (nib/him)

Most Read

Artikel Terbaru

/