alexametrics
24.7 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Positif Covid-19, 19 Santri di Jepara Karantina di Balai Latihan Kerja

JEPARA – Sebanyak 19 santri pondok pesantren (ponpes) di Bangsri tekonfirmasi positif Covid-19. Tanpa gejala. Seluruhnya sedang menjalani isolasi terpusat di Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan, Senin (31/1).

Di BLK itu, terlihat belasan remaja duduk mengantre panggilan. Ada dua petugas kesehatan yang sedang duduk sambil mewawancarai remaja yang mendapat giliran dipanggil. Dua petugas kesehatan itu mengenakan alat pelindung diri.

Dengan mengenakan masker ganda dan mengambil jarak, wartawan sempat menanyakan salah satu remaja yang diketahui santri itu. Ia  baru datang ke BLK pagi itu, bersama dengan teman-teman lainnya.  Katanya, saat dipanggil petugas, ia diperiksa tensi darah dan kondisinya. Ia tidak merasa sakit.


Sekretariat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Muh Ali mengabarkan, saat ini pihaknya menyediakan fasilitas dan tenaga kesehatan yang berjaga di sana. Juga untuk makan. Pihaknya akan terus memantau keadaan para santri di lokasi isolasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Jepara Eko Cahyo Supeno menceritakan, kasus ini bermula dari salah satu putra pengasuh ponpes yang terkonfirmasi positif. Nyatanya, ia memiliki riwayat pergi ke Jakarta.

Baca Juga :  Kejurprov Sepak Takraw Digelar di Jepara untuk Jaring Atlet ke PON

Dilanjut dengan tracing dan screening kepada sekitar 140 santri. DKK menemukan adanya enam orang telah kontak erat. Juga, sebanyak 19 orang dikonfirmasi positif setelah melalui tes PCR.

Ia menjelaskan, setelah ditemukannya kasus ini pihak desa langsung menyemprotkan desinfektan di area pondok pesantren.

Eko belum bisa memastikan apakah varian Omicron terdeteksi. Pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan pihak terkait di Semarang dan Salatiga. Sebab, untuk mendeteksi Omicron perlu  dilakukan tes khusus.

“Kita lagi koordinasi dengan Salatiga untuk tes Whole Genome Sequencing (WGS),” kata Eko.

Setelah ditemukannya kasus ini, pesantren terkait diliburkan selama 14 hari. Sementara untuk mereka yang terkonfirmasi positif melakukan isolasi terpusat di BLK.

Terkait level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), akan muncul keterangan baru di kemudian hari. “Masa berlaku level 1 ini kan sampai 31 Januari. Setelah kasus ini muncul mungkin akan berubah,” jelasnya kepada wartawan. (nib/war)

JEPARA – Sebanyak 19 santri pondok pesantren (ponpes) di Bangsri tekonfirmasi positif Covid-19. Tanpa gejala. Seluruhnya sedang menjalani isolasi terpusat di Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan, Senin (31/1).

Di BLK itu, terlihat belasan remaja duduk mengantre panggilan. Ada dua petugas kesehatan yang sedang duduk sambil mewawancarai remaja yang mendapat giliran dipanggil. Dua petugas kesehatan itu mengenakan alat pelindung diri.

Dengan mengenakan masker ganda dan mengambil jarak, wartawan sempat menanyakan salah satu remaja yang diketahui santri itu. Ia  baru datang ke BLK pagi itu, bersama dengan teman-teman lainnya.  Katanya, saat dipanggil petugas, ia diperiksa tensi darah dan kondisinya. Ia tidak merasa sakit.

Sekretariat Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Jepara Muh Ali mengabarkan, saat ini pihaknya menyediakan fasilitas dan tenaga kesehatan yang berjaga di sana. Juga untuk makan. Pihaknya akan terus memantau keadaan para santri di lokasi isolasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada DKK Jepara Eko Cahyo Supeno menceritakan, kasus ini bermula dari salah satu putra pengasuh ponpes yang terkonfirmasi positif. Nyatanya, ia memiliki riwayat pergi ke Jakarta.

Baca Juga :  Kejurprov Sepak Takraw Digelar di Jepara untuk Jaring Atlet ke PON

Dilanjut dengan tracing dan screening kepada sekitar 140 santri. DKK menemukan adanya enam orang telah kontak erat. Juga, sebanyak 19 orang dikonfirmasi positif setelah melalui tes PCR.

Ia menjelaskan, setelah ditemukannya kasus ini pihak desa langsung menyemprotkan desinfektan di area pondok pesantren.

Eko belum bisa memastikan apakah varian Omicron terdeteksi. Pihaknya sedang melakukan koordinasi dengan pihak terkait di Semarang dan Salatiga. Sebab, untuk mendeteksi Omicron perlu  dilakukan tes khusus.

“Kita lagi koordinasi dengan Salatiga untuk tes Whole Genome Sequencing (WGS),” kata Eko.

Setelah ditemukannya kasus ini, pesantren terkait diliburkan selama 14 hari. Sementara untuk mereka yang terkonfirmasi positif melakukan isolasi terpusat di BLK.

Terkait level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), akan muncul keterangan baru di kemudian hari. “Masa berlaku level 1 ini kan sampai 31 Januari. Setelah kasus ini muncul mungkin akan berubah,” jelasnya kepada wartawan. (nib/war)

Most Read

Artikel Terbaru

/