JEPARA — Duka menyelimuti Desa Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, Jepara. Tangis pecah dari sebuah rumah yang kini dipasangi garis polisi, Selasa (10/2) siang.
Rumah itu bukan sekadar tempat tinggal warga, melainkan titik awal tragedi jamu gingseng yang merenggut lima nyawa dan membuat tiga orang lainnya kritis.
Sekitar pukul 14.00 WIB, suasana RT 3/RW 3 terasa mencekam. Warga berkerumun dari kejauhan, sebagian memilih diam, sebagian lain berbisik pelan. Semua mata tertuju pada satu rumah—lokasi penjualan jamu tradisional yang selama ini dianggap biasa, bahkan dipercaya.
Tak ada yang menyangka, minuman herbal yang dikenal luas sebagai penambah stamina justru berubah menjadi racun mematikan.
Awal Mula
Peristiwa ini bermula pada Sabtu (7/2) sore, ketika jamu gingseng tiba di rumah penjual berinisial R.
Jamu tersebut dikirim dalam wadah satu galon dari wilayah Bulungan, sebagaimana pasokan sebelumnya.
Namun kali ini ada yang berbeda.
Eko, pelayan sekaligus orang kepercayaan R, menjadi orang pertama yang mencurigai isi galon tersebut.
Dari pengakuannya, aroma jamu yang diterima terasa tidak lazim—bukan bau rempah atau akar herbal seperti biasanya, melainkan wangi menyengat menyerupai sabun.
Meski demikian, Eko tetap mencicipinya. Tak ada reaksi spontan. Tak ada rasa pahit berlebih, juga tak ada efek langsung.
Dengan keyakinan bahwa jamu tersebut aman, minuman itu pun mulai diperjualbelikan kepada pelanggan.
Keputusan itulah yang kelak menjadi titik balik tragedi.
Kematian Beruntun Mulai Terungkap
Dua hari berselang, Senin (9/2), kabar duka pertama datang. Nur Amin, warga Desa Suwawal Timur, ditemukan meninggal dunia sekitar pukul 08.00 WIB di rumahnya. Awalnya, kematian ini belum memicu kecurigaan.
Namun, selang lima jam kemudian, Sholeh, warga desa yang sama, menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 13.00 WIB. Pola mulai terasa janggal.
Petang harinya, sekitar pukul 18.00 WIB, Dul Hadi, warga Desa Bulungan, juga dilaporkan meninggal dunia.
Tiga kematian dalam satu hari, dari wilayah berbeda, dengan latar belakang yang tak saling berkaitan—kecuali satu hal: konsumsi jamu gingseng.
Keesokan paginya, Selasa (10/2), dua korban tambahan menyusul. Kupat dan Ary, keduanya warga Desa Suwawal, meninggal dunia pada pagi hari.
Ary bahkan telah dimakamkan sekitar pukul 13.00 WIB, sebelum fakta tragis sepenuhnya terkuak.
Total, lima orang meninggal dunia. Sebagian wafat di rumah, sebagian lain sempat dibawa ke fasilitas kesehatan.
Tiga Orang Masih Berjuang Hidup
Selain korban jiwa, tiga orang lainnya masih dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Mereka adalah:
-
Eko, warga Slagi, yang pertama kali mencicipi jamu,
-
Miun, warga Desa Suwawal,
-
Ely, warga Desa Suwawal Timur.
Ketiganya menunjukkan gejala serius pascakonsumsi jamu gingseng. Aparat kesehatan masih melakukan penanganan maksimal sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan.
Korban Berusia Produktif, Profesi Sederhana
Seluruh korban diketahui merupakan orang dewasa, dengan rentang usia 30 hingga 40 tahun. Mereka berasal dari latar belakang ekonomi sederhana—tukang parkir pasar, tukang kayu, hingga pekerja serabutan.
Fakta ini menegaskan bahwa korban bukan kelompok rentan medis, melainkan masyarakat produktif yang sehari-hari mengandalkan jamu tradisional sebagai penunjang stamina.
Garis Polisi dan Penyelidikan Mendalam
Menyusul laporan kematian beruntun, aparat kepolisian bergerak cepat. R, penjual jamu, telah dibawa ke Polres Jepara untuk dimintai keterangan.
Pada Selasa siang sekitar pukul 11.00 WIB, Tim Inafis dan Resmob turun langsung ke lokasi. Rumah R dipasangi garis polisi, sejumlah barang diamankan, dan sampel jamu dikumpulkan untuk keperluan uji laboratorium.
Penyelidikan kini difokuskan pada dua hal krusial:
-
Kandungan jamu gingseng yang beredar,
-
Rantai distribusi, termasuk pihak penyetor dari Bulungan.
Aparat belum menyimpulkan penyebab pasti kematian para korban. Namun, dugaan kuat mengarah pada kontaminasi zat berbahaya dalam jamu tersebut.
Kepercayaan yang Berujung Duka
Tragedi ini mengguncang kepercayaan warga terhadap jamu tradisional yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Jawa.
“Biasanya aman, diminum turun-temurun. Tidak pernah ada masalah,” ujar salah satu warga setempat.
Kini, kepercayaan itu berubah menjadi trauma.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa produk tradisional sekalipun tetap membutuhkan pengawasan ketat, mulai dari bahan baku, proses distribusi, hingga penjualan ke konsumen.
Editor : Mahendra Aditya