alexametrics
31.6 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Sulit Diakses Publik, Jaringan Komunitas Gay di Solo Aktif di Aplikasi

SOLO – Komunitas pria sesama jenis atau gay di Kota Solo sudah terorganisasi sejak 10 tahun yang lalu. Adanya kebutuhan hubungan seksual antar pria sesama jenis ini menimbulkan praktik prostitusi gay.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Argyo Demartoto yang pernah meneliti komunitas sesama jenis di Kota Bengawan ini mengatakan, selama ini komunitas ini sangat jarang muncul ke permukaan dan sangat tertutup. Tak heran komunitas mereka jarang diketahui oleh publik.

“Karena anggotanya kalangan tertentu saja jadi jarang sekali bisa terungkap. Yang bisa mengakses juga hanya orang-orang tertentu, bahkan dari luar mereka terlihat normal,” ujarnya.


Jaringan komunitas mereka juga bukan hanya warga lokal, namun sudah antarkota. Namun dengan kemajuan teknologi, muncul sejumlah aplikasi yang kemudian menjadi cara bagi komunitas gay ini mencari pasangan.

“Contohnya Grinder, Planet Romeo, dan lain sebagainya, tinggal cari saja di internet. Tapi saya kurang tahu apakah aplikasi itu masih aktif atau sudah di-takedown oleh pemerintah,” papar Argyo.

Ketika ada konsumen, lanjut Argyo otomatis ada produsen. Inilah yang kemudian memunculkan praktik prostitusi hubungan sesama jenis ini. Di mana para pekerja seks komersial (PSK) gay ini mendapat julukan ‘kucing’ dari komunitas mereka. “Jadi kita berbicara tentang identitas seksual dan orientasi seksual,” kata Argyo.

Identitas seksual ini di mana mereka memang memiliki hasrat yang menyimpang dalam pemuasan nafsu seksualnya. Sedangkan orientasi seksual adalah faktor pendorong mereka mau melakukan hubungan sesama jenis.

Ada non komersil dan komersil. Komersiĺ inilah yang membentuk prostitusi itu. Sebab, hasratnya bukan hanya pemuasan hawa nafsu, melainkan ekonomi demi mendapat sejumlah uang.

Dalam perannya dalam hubungan seksualitas, dalam dunia gay ini dibagi menjadi dua. Ada yang menjadi top ada bottom. Top ini merupakan gay yang berperan sebagai laki-laki atau yang melakukan penetrasi, sedangkan bottom yang berperan sebagai wanita. Mucikari gay ini juga menyediakan dua tipe tersebut bagi para pelanggannya.

Baca Juga :  Pergantian Tahun 2022, Warga Semarang Ditemani Banjir

“Ini kaitannya dengan selera ya. Seperti layaknya prostitusi wanita. Pelanggan kan beda-beda seleranya. Ada yang mencari yang gemuk, ada yang langsing, yang kulitnya putih atau sawo matang, dan lain sebagainya,” kata dia.

Terjun ke dunia gay ini bukan tanpa risiko. Sebab, banyak dampak yang akan ditimbulkan. Karena kondisi mereka tidak tahu, apakah sehat atau tidak. Bisa saja mereka memiliki riwayat infeksi seksual atau HIV. Apalagi sekarang marak Covid-19.

“Itu baru kesehatan, para pelaku gay ini juga rentan menjadi korban kekerasan dari pasangan sejenisnya. Bisa disiksa, bahkan dibunuh seperti kasus Ryan Jombang hanya karena cemburu. Atau diporotin secara ekonomi. Inilah yang akhirnya muncul komunitas gay,” beber Argyo.

Di sisi lain, Direskrimum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro menjelaskan, dari hasil penyidikan sementara selain melayani pelanggan di lokasi indekos di kawasan Nusukan, para terapis ini juga bisa dipanggil melayani ke luar kos. “Tidak hanya sesama jenis, tapi juga threesome ya. Layanan ini untuk pasutri,” jelasnya.

Praktik prostitusi yang dijalankan DY, 47, sudah berlangsung selama 5 tahun. Pihaknya akan memanggil pemilik kos sebagai saksi guna mengetahui sejauh mana pemilik usaha penginapan ini terkait praktik tersebut.

“Modusnya tertutup rapi. Jadi yang tahu adanya layanan ini cuma orang-orang tertentu saja. Mereka berhubungan lewat grup di medsos. Ini yang sedang fokus kami dalami, apakah ada praktik serupa atau tidak di tempat lain,” ujarnya.

SOLO – Komunitas pria sesama jenis atau gay di Kota Solo sudah terorganisasi sejak 10 tahun yang lalu. Adanya kebutuhan hubungan seksual antar pria sesama jenis ini menimbulkan praktik prostitusi gay.

Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Argyo Demartoto yang pernah meneliti komunitas sesama jenis di Kota Bengawan ini mengatakan, selama ini komunitas ini sangat jarang muncul ke permukaan dan sangat tertutup. Tak heran komunitas mereka jarang diketahui oleh publik.

“Karena anggotanya kalangan tertentu saja jadi jarang sekali bisa terungkap. Yang bisa mengakses juga hanya orang-orang tertentu, bahkan dari luar mereka terlihat normal,” ujarnya.

Jaringan komunitas mereka juga bukan hanya warga lokal, namun sudah antarkota. Namun dengan kemajuan teknologi, muncul sejumlah aplikasi yang kemudian menjadi cara bagi komunitas gay ini mencari pasangan.

“Contohnya Grinder, Planet Romeo, dan lain sebagainya, tinggal cari saja di internet. Tapi saya kurang tahu apakah aplikasi itu masih aktif atau sudah di-takedown oleh pemerintah,” papar Argyo.

Ketika ada konsumen, lanjut Argyo otomatis ada produsen. Inilah yang kemudian memunculkan praktik prostitusi hubungan sesama jenis ini. Di mana para pekerja seks komersial (PSK) gay ini mendapat julukan ‘kucing’ dari komunitas mereka. “Jadi kita berbicara tentang identitas seksual dan orientasi seksual,” kata Argyo.

Identitas seksual ini di mana mereka memang memiliki hasrat yang menyimpang dalam pemuasan nafsu seksualnya. Sedangkan orientasi seksual adalah faktor pendorong mereka mau melakukan hubungan sesama jenis.

Ada non komersil dan komersil. Komersiĺ inilah yang membentuk prostitusi itu. Sebab, hasratnya bukan hanya pemuasan hawa nafsu, melainkan ekonomi demi mendapat sejumlah uang.

Dalam perannya dalam hubungan seksualitas, dalam dunia gay ini dibagi menjadi dua. Ada yang menjadi top ada bottom. Top ini merupakan gay yang berperan sebagai laki-laki atau yang melakukan penetrasi, sedangkan bottom yang berperan sebagai wanita. Mucikari gay ini juga menyediakan dua tipe tersebut bagi para pelanggannya.

Baca Juga :  Isu Gibran di Pilkada 2024, Ketua DPD PDIP Jawa Tengah: Tergantung Partai

“Ini kaitannya dengan selera ya. Seperti layaknya prostitusi wanita. Pelanggan kan beda-beda seleranya. Ada yang mencari yang gemuk, ada yang langsing, yang kulitnya putih atau sawo matang, dan lain sebagainya,” kata dia.

Terjun ke dunia gay ini bukan tanpa risiko. Sebab, banyak dampak yang akan ditimbulkan. Karena kondisi mereka tidak tahu, apakah sehat atau tidak. Bisa saja mereka memiliki riwayat infeksi seksual atau HIV. Apalagi sekarang marak Covid-19.

“Itu baru kesehatan, para pelaku gay ini juga rentan menjadi korban kekerasan dari pasangan sejenisnya. Bisa disiksa, bahkan dibunuh seperti kasus Ryan Jombang hanya karena cemburu. Atau diporotin secara ekonomi. Inilah yang akhirnya muncul komunitas gay,” beber Argyo.

Di sisi lain, Direskrimum Polda Jawa Tengah Kombes Pol Djuhandani Rahardjo Puro menjelaskan, dari hasil penyidikan sementara selain melayani pelanggan di lokasi indekos di kawasan Nusukan, para terapis ini juga bisa dipanggil melayani ke luar kos. “Tidak hanya sesama jenis, tapi juga threesome ya. Layanan ini untuk pasutri,” jelasnya.

Praktik prostitusi yang dijalankan DY, 47, sudah berlangsung selama 5 tahun. Pihaknya akan memanggil pemilik kos sebagai saksi guna mengetahui sejauh mana pemilik usaha penginapan ini terkait praktik tersebut.

“Modusnya tertutup rapi. Jadi yang tahu adanya layanan ini cuma orang-orang tertentu saja. Mereka berhubungan lewat grup di medsos. Ini yang sedang fokus kami dalami, apakah ada praktik serupa atau tidak di tempat lain,” ujarnya.

Most Read

Artikel Terbaru

/