alexametrics
30 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Kos Digunakan untuk Praktik Prostitusi Gay, Pemilik Kos Terkejut

SOLO – Pemilik kos YT, 53, terkejut saat kosnya digerebek karena kasus prostitusi gay yang berkedok sebagai layanan pijat terapis pada Sabtu (25/9). Dia juga tidak menyangka bahwa penghuni kosnya tersebut memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Semua terapis yang melayani praktik prostitusi sesama jenis di kos milik YT ini sebenarnya sudah memiliki anak istri di daerah asal mereka masing-masing. Bahkan DY, 47, yang berperan sebagai mucikari selama ini tinggal di kos bersama anak laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun.

Menurut YT, secara fisik, kalau terapis yang ternyata menjajakan tubuh mereka ke sesama pria itu seperti laki-laki pada umumnya. “Tidak ada yang aneh mas. Badannya ya tegap-tegap. Kemudian cara biasanya juga biasa, tidak kemayu,” ujar YT ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumahnya kemarin (28/9).


Bahkan para terapis ini memiliki keluarga di kampung mereka masing-masing. Hal ini diketahui YT dari mulut mereka sendiri.

“Istri saya buka usaha warung di samping kos, mereka sering makan di situ. Cerita juga kalau misal ada istrinya yang mau melahirkan, waktunya bayaran sekolah. Tapi anak istrinya memang tidak pernah di bawa ke sini,” ujarnya.

Paling yang terlihat adalah DY, sang mucikari. Dia memang tinggal bersama anak laki-lakinya di kos. Dia cukup lama menjadi penghuni indekos. Dia menyewa dua kamar. Satu untuk tempat tinggal bersama sang anak  sedangkan satu untuk membuka praktik pijat.

Ya, selama ini YT memang mengetahui kalau DY dan teman-temannya membuka praktik pijat. Namun pijat biasa, bukan layanan pijat plus-plus, apalagi praktik prostitusi sesama jenis. Dia baru mengetahui setelah lokasi ini digrebeg jajaram Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng Sabtu (25/9) petang lalu.

“Tidak pernah menyangka. Saya kira kasus apa, ternyata kasus prostitusi gay,” papar YT

Lalu, di mana sekarang anak DY, YT mengaku setelah sang ayah diciduk aparat bersama lima rekannya, sang anak langsung pindah dari kos tersebut. “Anaknya langsung kemas-kemas pindah entah ke mana, cuma bilang mau pindah kos gitu,” pungkas YT.

Baca Juga :  Mau Hapus Tato Gratis? Komunitas Hijrah Solusinya

Hal senada juga diungkapkan SE, istri dari YT. Dia juga tak menyangka kalau selama ini bangunan dua lantai yang memiliki 19 kamar ini dijadikan praktik prostitusi gay.

“Saya takutnya dikira saya dan suami yang buka praktik. Padahal yang buka penghuni kos. Mudah-mudahan stigma ini tidak melekat. Kos ini murni untuk usaha mas, tidak ada embel-embel esek-esek,” urai SE.

SE mengaku memang kerap melihat pria keluar masuk ke dalam kamar yang disewa DY. Namun, dia mengira mereka adalah rekan DY atau sang anak atau pelanggan pijat dia.

“Ya karena sesama laki-laki saya tidak pernah curiga. Kecuali yang masuk wanita pasti langsung saya tegur. Karena ini memang kos pria. Kalau toh yang sewa pria dan wanita, harus suami istri. Dibuktikan dengan surat nikah,” ujarnya.

SE yang saat penggerebekan berada dirumah menjelaskan, sekitar pukul 17.30, ada sejumlah pria mengaku sebagai polisi masuk ke kosnya guna mencari DY dan rekan-rekannya.

“Waktu itu saya sedang memasak, soalnya pembantu saya kebetulan lagi libur. Saat ditanya kamarnya DY langsung saya tunjukkan,” katanya.

Sekitar satu jam aparat kepolisian melakukan penggeledahan di kosnya. Setelah itu DY dan rekan-rekannya langsung dimasukkan ke dalam mobil polisi.

“Saya sempat tanya sama polisi yang masuk, DY kena kasus apa, katanya prostitusi sesama jenis,” tuturnya.

Mendengar itu SE kaget. Dia kemudian bertanya lagi kepada polisi dari mana mereka buka praktik. Padahal selama ini dia dan suami sama sekali tidak tahu. “Ternyata tahu dari Twitter. Lha aku ora mudeng, wong aku wes tua, gaptek. Ramudeng Twitteran, mudeng e ya sambel pecel,” papar SE.

SOLO – Pemilik kos YT, 53, terkejut saat kosnya digerebek karena kasus prostitusi gay yang berkedok sebagai layanan pijat terapis pada Sabtu (25/9). Dia juga tidak menyangka bahwa penghuni kosnya tersebut memiliki perilaku seksual yang menyimpang.

Semua terapis yang melayani praktik prostitusi sesama jenis di kos milik YT ini sebenarnya sudah memiliki anak istri di daerah asal mereka masing-masing. Bahkan DY, 47, yang berperan sebagai mucikari selama ini tinggal di kos bersama anak laki-lakinya yang berusia sekitar 20 tahun.

Menurut YT, secara fisik, kalau terapis yang ternyata menjajakan tubuh mereka ke sesama pria itu seperti laki-laki pada umumnya. “Tidak ada yang aneh mas. Badannya ya tegap-tegap. Kemudian cara biasanya juga biasa, tidak kemayu,” ujar YT ditemui Jawa Pos Radar Solo di rumahnya kemarin (28/9).

Bahkan para terapis ini memiliki keluarga di kampung mereka masing-masing. Hal ini diketahui YT dari mulut mereka sendiri.

“Istri saya buka usaha warung di samping kos, mereka sering makan di situ. Cerita juga kalau misal ada istrinya yang mau melahirkan, waktunya bayaran sekolah. Tapi anak istrinya memang tidak pernah di bawa ke sini,” ujarnya.

Paling yang terlihat adalah DY, sang mucikari. Dia memang tinggal bersama anak laki-lakinya di kos. Dia cukup lama menjadi penghuni indekos. Dia menyewa dua kamar. Satu untuk tempat tinggal bersama sang anak  sedangkan satu untuk membuka praktik pijat.

Ya, selama ini YT memang mengetahui kalau DY dan teman-temannya membuka praktik pijat. Namun pijat biasa, bukan layanan pijat plus-plus, apalagi praktik prostitusi sesama jenis. Dia baru mengetahui setelah lokasi ini digrebeg jajaram Unit Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng Sabtu (25/9) petang lalu.

“Tidak pernah menyangka. Saya kira kasus apa, ternyata kasus prostitusi gay,” papar YT

Lalu, di mana sekarang anak DY, YT mengaku setelah sang ayah diciduk aparat bersama lima rekannya, sang anak langsung pindah dari kos tersebut. “Anaknya langsung kemas-kemas pindah entah ke mana, cuma bilang mau pindah kos gitu,” pungkas YT.

Baca Juga :  Sasar 47 Ribu Lansia, Vaksinasi Booster di Kota Solo Mulai Besok

Hal senada juga diungkapkan SE, istri dari YT. Dia juga tak menyangka kalau selama ini bangunan dua lantai yang memiliki 19 kamar ini dijadikan praktik prostitusi gay.

“Saya takutnya dikira saya dan suami yang buka praktik. Padahal yang buka penghuni kos. Mudah-mudahan stigma ini tidak melekat. Kos ini murni untuk usaha mas, tidak ada embel-embel esek-esek,” urai SE.

SE mengaku memang kerap melihat pria keluar masuk ke dalam kamar yang disewa DY. Namun, dia mengira mereka adalah rekan DY atau sang anak atau pelanggan pijat dia.

“Ya karena sesama laki-laki saya tidak pernah curiga. Kecuali yang masuk wanita pasti langsung saya tegur. Karena ini memang kos pria. Kalau toh yang sewa pria dan wanita, harus suami istri. Dibuktikan dengan surat nikah,” ujarnya.

SE yang saat penggerebekan berada dirumah menjelaskan, sekitar pukul 17.30, ada sejumlah pria mengaku sebagai polisi masuk ke kosnya guna mencari DY dan rekan-rekannya.

“Waktu itu saya sedang memasak, soalnya pembantu saya kebetulan lagi libur. Saat ditanya kamarnya DY langsung saya tunjukkan,” katanya.

Sekitar satu jam aparat kepolisian melakukan penggeledahan di kosnya. Setelah itu DY dan rekan-rekannya langsung dimasukkan ke dalam mobil polisi.

“Saya sempat tanya sama polisi yang masuk, DY kena kasus apa, katanya prostitusi sesama jenis,” tuturnya.

Mendengar itu SE kaget. Dia kemudian bertanya lagi kepada polisi dari mana mereka buka praktik. Padahal selama ini dia dan suami sama sekali tidak tahu. “Ternyata tahu dari Twitter. Lha aku ora mudeng, wong aku wes tua, gaptek. Ramudeng Twitteran, mudeng e ya sambel pecel,” papar SE.

Most Read

Artikel Terbaru

/