Peduli Mahasiswa NTT Terdampak Bencana, Ahmad Luthfi Bantu Biaya Kuliah dan Kos

SEMARANG — Kepedulian terhadap mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tengah menempuh pendidikan di Jawa Tengah ditunjukkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan bantuan untuk meringankan beban mahasiswa yang terdampak bencana gempa di daerah asal mereka.
Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa kebutuhan pokok, tetapi juga mencakup keringanan biaya kuliah serta bantuan biaya tempat tinggal atau kos.
Bantuan tersebut diserahkan kepada perwakilan mahasiswa NTT ketika Ahmad Luthfi mengunjungi tempat kos mahasiswa di Jalan Pawiyatan Luhur Selatan III, Bendan Duwur, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Senin (7/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Luthfi didampingi Ketua Baznas Jawa Tengah Ahmad Darodji, Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widiyatmoko, sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta Rektor Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag) Semarang.
Saat berdialog dengan mahasiswa, Luthfi menegaskan bahwa para mahasiswa NTT yang berada di Jawa Tengah merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah daerah.
"Kalian di sini anak saya. Apa yang menjadi kekurangan dan keluh kesah adik-adik mahasiswa dan masyarakat NTT juga saya rasakan. Pelajar dan mahasiswa di Jateng itu tanggung jawab saya," ujar Luthfi.
Luthfi juga mendengarkan langsung berbagai persoalan yang dihadapi mahasiswa akibat bencana di daerah asal. Di antaranya kondisi ekonomi masyarakat yang lumpuh di sejumlah wilayah NTT, orangtua yang masih berada di lokasi pengungsian, hingga daerah yang belum tersentuh bantuan.
Ia meminta para mahasiswa tidak terlalu khawatir selama berada di Jawa Tengah.
"Sampaikan kepada orangtua kalian di kampung, di sini (Jateng) kalian sudah ada orangtua yang memperhatikan. Saya juga sudah perintahkan Dinas Pendidikan, Baznas, dan Bank Jateng berkoordinasi dengan seluruh perguruan tinggi, kita minta keringanan atau kita tanggung biaya kuliah, juga biaya kos selama 1-3 bulan," katanya.
Suasana haru sempat mewarnai pertemuan tersebut. Maria Riani Nake, salah seorang mahasiswi Untag Semarang, tak kuasa menahan tangis ketika mengingat kondisi orangtua dan keluarganya di kampung halaman.



