alexametrics
28.4 C
Kudus
Wednesday, September 28, 2022

Resmi Jadi Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ilyas Supena Selalu Memotivasi dan Menginspirasi

SEMARANG – Profesor adalah gelar kehormatan dan puncak karier akademik tertinggi yang didamba bagi semua dosen. Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), sebagai fakultas tertua di UIN Walisongo Semarang. Namun ironisnya, dalam masa yang cukup lama, FDK belum memiliki dosen bergelar profesor. Oleh karena itu, pencapaian Profesor Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Filsafat Islam yang dikukuhkan pada Hari Senin, 25 Juli 2022 ini merupakan kebanggaan dan sangat dinantikan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Bahkan Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Capaian Guru Besar yang diraih Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag ini bukan hanya sebagai capaian pribadi, tetapi merupakan capaian kampus yang harus didukung dan menjadi inspirasi bagi semua warga kampus, khususnya para dosen”. Lebih lanjut Rektor UIN Walisongo ini mendorong semua dosen untuk segera menjadi Guru Besar. Agar akselerasi kampus UIN Walisongo sesuai yang dicita-citakan untuk menjadi World Class University segera tercapai.

Ketertarikan Ilyas di bidang Ilmu Filsafat Islam ini telah menstimulasi dan telah menunjukkan kontribusi nyata bagi cikal bakal perumusan paradigma kampus UIN Walisongo Semarang. Ilyas secara kolaboratif bersama para pakar, para dosen dan para senior telah bekerja, mengkaji, meneliti dan merumuskan paradigma Unity of sciences atau Wahdatul ‘Ulm. Rumusan Unity of sciences atau Wahdatul ‘Ulm  ini merupakan jawaban atas kegelisahan munculnya dikotomi ilmu yang menjadi problem klasik di Perguruan Tinggi.


Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag  juga menyampaikan bahwa Sambutan Pengukuhan Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag yang berjudul “Redesain Ilmu-ilmu Keislaman Masa Depan Berbasis Ratio Legis Al- Quran” menghadirkan jawaban atas dialektika yang menjadi problem tradisional dan juga problem rasionalis empirisme tersebut.

Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag yang juga merupakan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini diakui oleh Rektor sebagai salah satu Dekan di UIN Walisongo yang unggul melalui gagasan-gagasannya yang luar biasa.

Satu-satunya Profesor di FDK

Sebagai satu-satunya Profesor yang dimiliki Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo saat ini, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag tak lantas abai dengan perkembangan karier para dosen lainnya. Terlebih statusnya yang juga sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Ilyas merasa perlu meningkatkan kualitas SDM di FDK dengan selalu memotivasi dan menginspirasi para dosen FDK agar bisa segera meningkat gelar akademik maupun jabatan fungsionalnya. “Saya memiliki harapan besar agar FDK UIN Walisongo itu menjadi kiblat bagi Fakultas Dakwah lain di Indonesia”, ungkapnya saat diwawancara. Untuk mewujudkan harapannya tersebut, dalam berbagai forum dan kesempatan Ilyas selalu memotivasi dosen FDK baik yang senior maupun para dosen muda untuk segera melanjutnya studi ke program doktor bagi yang masih magister dan juga selalu mendukung akselerasi kenaikan jabatan ke Lektor Kepala dan Guru Besar bagi koleganya.

Motivasi dan dorongan yang diberikan Ilyas ini dituangkan dalam kebijakannya dengan menyelenggarakan beberapa program yang mendukung ke arah pencapaian tersebut. Di antaranya memfalisitasi para dosen mengikuti Program Klinik Penulisan Jurnal Internasional, Program Review Artikel Jurnal Internasional, atau juga kegiatan Sekolah Penulisan Jurnal Internasional di Yogyakarta. Melalui program-program tersebut diharapkan para dosen FDK mampu meningkatkan publikasi artikel jurnal internasional yang akan memberikan kontribusi bagi akselerasi kenaikan jabatan akademiknya. “Paling tidak harapan ke depan, mudah-mudahan dalam waktu dekat bermunculan Guru Besar-Guru Besar di FDK”, sambungnya.

Baca Juga :  IAIN Pekalongan Kukuhkan Prof Maghfur Jadi Guru Besar Bidang Studi Islam

Di samping itu, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap peningkatan SDM di FDK UIN Walisongo Semarang, Ilyas juga mencoba memetakan solusi bagi beberapa problem yang sedang dihadapi para dosen FDK dalam meningkatkan pencapaian karier masing-masing. Hanya saja Ilyas mendapati respon dosen sangat beragam. “Ketika diberikan stimulan untuk motivasi peningkatan gelar akademik atau jabatan akademik, saya merasa ada yang responnya cepat, ada yang lambat bahkan ada yang tidak merespon sama sekali”, papar Ilyas. “Namun secara keseluruhan saya mensupport semua dosen, baik yang senior maupun dosen muda untuk segera meningkatkan kepangkatan, baik jabatan fungsional akademik maupun dari aspek peningkatan jenjang Pendidikan supaya lebih kontributif”, lanjutnya. Hal ini juga bukan tanpa contoh, sebagaimana yang dialami Ilyas “Meskipun dari sisi keilmuan lain, namun saya tetap bisa memberikan kontribusi terhadap fakultas dakwah”, jelasnya mencontohkan. Bahkan dia juga termotivasi untuk bisa memberikan yang terbaik bagi institusi yang menaunginya. Dia juga selalu menginspirasi dosen muda untuk terus berkarya dan berkontribusi sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Sebagai rekan kerja yang sering mendampingi Ilyas dalam menjalankan tugasnya sebagai Dekan FDK, Drs. H. M. Mudhofi, M.Ag selaku Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan Kelembagaan menyatakan bahwa Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa, disiplin, tanggung jawab, komitmennya sangat tinggi, loyalitas terhadap institusi, dedikasi terhadap pekerjaan, pekerja keras tak kenal lelah dan visioner. “Sepanjang kami (para Wakil Dekan – red) mendampingi Pak Ilyas sebagai Dekan, banyak perubahan yang terjadi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, baik perubahan secara tampilan bangunan fisik maupun substantif akademik, layanan administrasi, dan sebagainya”, ungkap Mudhofi memberi kesaksian. Ilyas juga sosok pemimpin yang bijak, tidak anti kritik, terbuka terhadap masukan. “Asal masukan tersebut realistis, argumentatif, kontributif dan konstruktif terhadap pengembangan FDK, maka akan mudah beliau terima”, ungkap Wakil Dekan 1 ini. Dalam menyelesaikan masalah, Ilyas juga selalu berfikir filosofis dan mencari solusi hingga ke akar-akarnya.

Selain itu, menurut penuturan Mudhofi, Ilyas adalah pibadi yang sangat detail, dalam artian mengetahui segala urusan mulai dari Dekan hingga pramubakti. “Pada umumnya, pemimpin itu tahu segala urusan secara global, tapi beliau berusaha masuk ke wilayah terkecil bukan untuk intervensi ke dalam hal-hal teknis, tetapi dalam rangka agar dapat mengambil kebijakan secara tepat, di mana jika kebijakan yang akan diambil berdampak sampai ke hal-hal terkecil. Sehingga hal ini mampu memberikan kenyamanan bagi partner kerjanya.

Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag adalah seorang pembelajar ulung dan memegang prinsip Lifelong Learning (belajar sepanjang hayat). Hal ini sebagaimana tertuang dalam filosofis pemikiran dan prinsip hidupnya bahwa “Orang yang terpelajar adalah pemilik masa lalu, Orang yang terus belajar adalah pemilik masa depan. Jika Anda ingin mengetahui masa lalu Anda, lihatlah situasi Anda saat ini, jika Anda ingin mengetahui masa depan Anda, lihatlah apa yang Anda lakukan saat ini”. (Uswatun Niswah)

SEMARANG – Profesor adalah gelar kehormatan dan puncak karier akademik tertinggi yang didamba bagi semua dosen. Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), sebagai fakultas tertua di UIN Walisongo Semarang. Namun ironisnya, dalam masa yang cukup lama, FDK belum memiliki dosen bergelar profesor. Oleh karena itu, pencapaian Profesor Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag sebagai Guru Besar di bidang Ilmu Filsafat Islam yang dikukuhkan pada Hari Senin, 25 Juli 2022 ini merupakan kebanggaan dan sangat dinantikan oleh Fakultas Dakwah dan Komunikasi.

Bahkan Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan bahwa “Capaian Guru Besar yang diraih Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag ini bukan hanya sebagai capaian pribadi, tetapi merupakan capaian kampus yang harus didukung dan menjadi inspirasi bagi semua warga kampus, khususnya para dosen”. Lebih lanjut Rektor UIN Walisongo ini mendorong semua dosen untuk segera menjadi Guru Besar. Agar akselerasi kampus UIN Walisongo sesuai yang dicita-citakan untuk menjadi World Class University segera tercapai.

Ketertarikan Ilyas di bidang Ilmu Filsafat Islam ini telah menstimulasi dan telah menunjukkan kontribusi nyata bagi cikal bakal perumusan paradigma kampus UIN Walisongo Semarang. Ilyas secara kolaboratif bersama para pakar, para dosen dan para senior telah bekerja, mengkaji, meneliti dan merumuskan paradigma Unity of sciences atau Wahdatul ‘Ulm. Rumusan Unity of sciences atau Wahdatul ‘Ulm  ini merupakan jawaban atas kegelisahan munculnya dikotomi ilmu yang menjadi problem klasik di Perguruan Tinggi.

Prof. Dr. H. Imam Taufiq, M.Ag  juga menyampaikan bahwa Sambutan Pengukuhan Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag yang berjudul “Redesain Ilmu-ilmu Keislaman Masa Depan Berbasis Ratio Legis Al- Quran” menghadirkan jawaban atas dialektika yang menjadi problem tradisional dan juga problem rasionalis empirisme tersebut.

Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag yang juga merupakan Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini diakui oleh Rektor sebagai salah satu Dekan di UIN Walisongo yang unggul melalui gagasan-gagasannya yang luar biasa.

Satu-satunya Profesor di FDK

Sebagai satu-satunya Profesor yang dimiliki Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Walisongo saat ini, Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag tak lantas abai dengan perkembangan karier para dosen lainnya. Terlebih statusnya yang juga sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Ilyas merasa perlu meningkatkan kualitas SDM di FDK dengan selalu memotivasi dan menginspirasi para dosen FDK agar bisa segera meningkat gelar akademik maupun jabatan fungsionalnya. “Saya memiliki harapan besar agar FDK UIN Walisongo itu menjadi kiblat bagi Fakultas Dakwah lain di Indonesia”, ungkapnya saat diwawancara. Untuk mewujudkan harapannya tersebut, dalam berbagai forum dan kesempatan Ilyas selalu memotivasi dosen FDK baik yang senior maupun para dosen muda untuk segera melanjutnya studi ke program doktor bagi yang masih magister dan juga selalu mendukung akselerasi kenaikan jabatan ke Lektor Kepala dan Guru Besar bagi koleganya.

Motivasi dan dorongan yang diberikan Ilyas ini dituangkan dalam kebijakannya dengan menyelenggarakan beberapa program yang mendukung ke arah pencapaian tersebut. Di antaranya memfalisitasi para dosen mengikuti Program Klinik Penulisan Jurnal Internasional, Program Review Artikel Jurnal Internasional, atau juga kegiatan Sekolah Penulisan Jurnal Internasional di Yogyakarta. Melalui program-program tersebut diharapkan para dosen FDK mampu meningkatkan publikasi artikel jurnal internasional yang akan memberikan kontribusi bagi akselerasi kenaikan jabatan akademiknya. “Paling tidak harapan ke depan, mudah-mudahan dalam waktu dekat bermunculan Guru Besar-Guru Besar di FDK”, sambungnya.

Baca Juga :  Tahir Foundation Hibahkan 8 Mobil Listrik Guna Jelajahi Wisata Solo

Di samping itu, sebagai bentuk kepeduliannya terhadap peningkatan SDM di FDK UIN Walisongo Semarang, Ilyas juga mencoba memetakan solusi bagi beberapa problem yang sedang dihadapi para dosen FDK dalam meningkatkan pencapaian karier masing-masing. Hanya saja Ilyas mendapati respon dosen sangat beragam. “Ketika diberikan stimulan untuk motivasi peningkatan gelar akademik atau jabatan akademik, saya merasa ada yang responnya cepat, ada yang lambat bahkan ada yang tidak merespon sama sekali”, papar Ilyas. “Namun secara keseluruhan saya mensupport semua dosen, baik yang senior maupun dosen muda untuk segera meningkatkan kepangkatan, baik jabatan fungsional akademik maupun dari aspek peningkatan jenjang Pendidikan supaya lebih kontributif”, lanjutnya. Hal ini juga bukan tanpa contoh, sebagaimana yang dialami Ilyas “Meskipun dari sisi keilmuan lain, namun saya tetap bisa memberikan kontribusi terhadap fakultas dakwah”, jelasnya mencontohkan. Bahkan dia juga termotivasi untuk bisa memberikan yang terbaik bagi institusi yang menaunginya. Dia juga selalu menginspirasi dosen muda untuk terus berkarya dan berkontribusi sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Sebagai rekan kerja yang sering mendampingi Ilyas dalam menjalankan tugasnya sebagai Dekan FDK, Drs. H. M. Mudhofi, M.Ag selaku Wakil Dekan 1 Bidang Akademik dan Kelembagaan menyatakan bahwa Prof. Dr. Ilyas Supena, M.Ag memiliki jiwa kepemimpinan yang luar biasa, disiplin, tanggung jawab, komitmennya sangat tinggi, loyalitas terhadap institusi, dedikasi terhadap pekerjaan, pekerja keras tak kenal lelah dan visioner. “Sepanjang kami (para Wakil Dekan – red) mendampingi Pak Ilyas sebagai Dekan, banyak perubahan yang terjadi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi, baik perubahan secara tampilan bangunan fisik maupun substantif akademik, layanan administrasi, dan sebagainya”, ungkap Mudhofi memberi kesaksian. Ilyas juga sosok pemimpin yang bijak, tidak anti kritik, terbuka terhadap masukan. “Asal masukan tersebut realistis, argumentatif, kontributif dan konstruktif terhadap pengembangan FDK, maka akan mudah beliau terima”, ungkap Wakil Dekan 1 ini. Dalam menyelesaikan masalah, Ilyas juga selalu berfikir filosofis dan mencari solusi hingga ke akar-akarnya.

Selain itu, menurut penuturan Mudhofi, Ilyas adalah pibadi yang sangat detail, dalam artian mengetahui segala urusan mulai dari Dekan hingga pramubakti. “Pada umumnya, pemimpin itu tahu segala urusan secara global, tapi beliau berusaha masuk ke wilayah terkecil bukan untuk intervensi ke dalam hal-hal teknis, tetapi dalam rangka agar dapat mengambil kebijakan secara tepat, di mana jika kebijakan yang akan diambil berdampak sampai ke hal-hal terkecil. Sehingga hal ini mampu memberikan kenyamanan bagi partner kerjanya.

Prof. Dr. H. Ilyas Supena, M.Ag adalah seorang pembelajar ulung dan memegang prinsip Lifelong Learning (belajar sepanjang hayat). Hal ini sebagaimana tertuang dalam filosofis pemikiran dan prinsip hidupnya bahwa “Orang yang terpelajar adalah pemilik masa lalu, Orang yang terus belajar adalah pemilik masa depan. Jika Anda ingin mengetahui masa lalu Anda, lihatlah situasi Anda saat ini, jika Anda ingin mengetahui masa depan Anda, lihatlah apa yang Anda lakukan saat ini”. (Uswatun Niswah)


Most Read

Artikel Terbaru