alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Belajar Kebhinekaan dan Toleransi dari Membatik

KUDUS – Sebanyak 12 mahasiswa dari beragam daerah dan agama belajar kebhinekaan dan toleransi dari membatik. Mereka ikut dalam program modul nusantara. Belajar bersama di Kudus.

Dari pantauan wartawan koran ini, dengan difasilitasi Universitas Muria Kudus (UMK) mereka membatik bersama di salah satu rumah batik di Kudus. Tampak mereka membuat motif unik. Yakni gambar beragam tempat ibadah dari agama-agama yang ada di nusantara.

Dosen pembimbing program modul Nusantara dari UMK Syaiful Muzid menyebut dalam membatik kali ini mahasiswa diajarkan toleransi dan kebhinekaan. Sehingga motif batik yang digarap mencerminkan beragam tempat ibadah dari agama yang berbeda. Dari masjid, gereja, wihara hingga lainnya.


“12 mahasiswa ini mengikuti program yang dicanangkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Mereka belajar ke luar daerah mengenai kebhinekaan dan toleransi. Dan UMK menjadi salah satu tujuan itu,” jelasnya.

Membatik ini menurutnya juga dalam rangka mengenalkan budaya Kudus kepada para mahasiswa itu. Yang berasal dari sembilan kampus berbeda. Mulai dari Universitas Mulawarman, Universitas Udayana Bali, Universitas Undiksa Bali, Universitas Nusa Cendana Kupang, hingga Universitas Cokroaminoto Palopo Makasar.

Baca Juga :  Bupati Kudus Tegaskan Tutup Sekolah jika Langgar Protokol Kesehatan

“Secara agama, mereka juga beragam. Dari Islam, Hindu, Budha, Katolik, dan Kristen,” terangnya.

Seorang mahasiswa yang ikut yakni Ni Wayan Mutia Dewi Artawati dari Universitas Udayana menyebut melalui program modul nusantara ini dirinya bisa mengenal budaya di Kudus. Salah satunya membatik. Menurutnya menjadi bukti kebhinekaan yang ada di Indonesia.

“Kesannya sangat menyenangkan dan luar biasa. Karena saya dapat ilmu pengetahuan baru. Ternyata kebudayaan di sini luas dan besar,” jelasnya.

Dengan menggambar batik beragam motif tempat ibadah yang ada di Indonesia, menurutnya menjadi bukti bahwa Indonesia memang berbeda. Yakni terdiri dari beragam suku, agama, dan lain sebagianya. Sehingga kegiatan kali ini dinilai sebagai simbol kebhinekaan itu.

“Dan ini sesuai slogan negara kita. Berbeda-beda namun tetap satu jua. Ini kami rasa sebagai implementasi dari nilai-nilai kebhinekaan itu,” katanya. (war)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Sebanyak 12 mahasiswa dari beragam daerah dan agama belajar kebhinekaan dan toleransi dari membatik. Mereka ikut dalam program modul nusantara. Belajar bersama di Kudus.

Dari pantauan wartawan koran ini, dengan difasilitasi Universitas Muria Kudus (UMK) mereka membatik bersama di salah satu rumah batik di Kudus. Tampak mereka membuat motif unik. Yakni gambar beragam tempat ibadah dari agama-agama yang ada di nusantara.

Dosen pembimbing program modul Nusantara dari UMK Syaiful Muzid menyebut dalam membatik kali ini mahasiswa diajarkan toleransi dan kebhinekaan. Sehingga motif batik yang digarap mencerminkan beragam tempat ibadah dari agama yang berbeda. Dari masjid, gereja, wihara hingga lainnya.

“12 mahasiswa ini mengikuti program yang dicanangkan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan. Mereka belajar ke luar daerah mengenai kebhinekaan dan toleransi. Dan UMK menjadi salah satu tujuan itu,” jelasnya.

Membatik ini menurutnya juga dalam rangka mengenalkan budaya Kudus kepada para mahasiswa itu. Yang berasal dari sembilan kampus berbeda. Mulai dari Universitas Mulawarman, Universitas Udayana Bali, Universitas Undiksa Bali, Universitas Nusa Cendana Kupang, hingga Universitas Cokroaminoto Palopo Makasar.

Baca Juga :  Aparat dan Ormas Bersitegang di Kawasan Jongke Solo, Ini Masalahnya

“Secara agama, mereka juga beragam. Dari Islam, Hindu, Budha, Katolik, dan Kristen,” terangnya.

Seorang mahasiswa yang ikut yakni Ni Wayan Mutia Dewi Artawati dari Universitas Udayana menyebut melalui program modul nusantara ini dirinya bisa mengenal budaya di Kudus. Salah satunya membatik. Menurutnya menjadi bukti kebhinekaan yang ada di Indonesia.

“Kesannya sangat menyenangkan dan luar biasa. Karena saya dapat ilmu pengetahuan baru. Ternyata kebudayaan di sini luas dan besar,” jelasnya.

Dengan menggambar batik beragam motif tempat ibadah yang ada di Indonesia, menurutnya menjadi bukti bahwa Indonesia memang berbeda. Yakni terdiri dari beragam suku, agama, dan lain sebagianya. Sehingga kegiatan kali ini dinilai sebagai simbol kebhinekaan itu.

“Dan ini sesuai slogan negara kita. Berbeda-beda namun tetap satu jua. Ini kami rasa sebagai implementasi dari nilai-nilai kebhinekaan itu,” katanya. (war)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/