alexametrics
25.2 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Keren, Siswa SDN 2 Butuhan Klaten Bikin Automatic Ozone Machine

Kreatif. Apa yang dilakukan dua siswa SD ini patut diacungi jempol. Dua siswa SDN 2 Butuhan di Klaten ini berhasil menciptakan automatic ozone machine. Alat ini diklaim mampu menetralkan ruangan dari virus, termasuk Covid-19.

ANGGA PURENDA, Solo, Radar Solo

Kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas menjadi angin segar bagi siswa yang sudah hampir dua tahun belajar daring. Kondisi ini menginspirasi dua siswa di SDN 2 Butuhan, Kecamatan Delanggu untuk berkarya. Kedua siswa kelas V ini adalah Muhammad Eko Pujiyanto, 11, dan Adiyatma Faturohman, 11.


Mereka menciptakan sebuah alat yang diklaim mampu menetralkan ruangan dari virus termasuk Covid-19 dengan tingkat keakuratan hingga 90 persen. Mengingat anak 12 tahun ke bawah belum menjalani vaksinasi sehingga memiliki resiko untuk terpapar.

Di bawah bimbingan LKP Autobot School, Eko dan Adiyatma lantas mulai menyusun komponen untuk dirangkai. Mulai dari satu bulan lalu dengan merogoh kocek Rp 750 ribu untuk pembelian bahan utama. Seperti generator ozon, kipas hingga timer serta saklar hingga alat pengaman lainnya dari terjadinya hubungan arus pendek.

Mereka berdua mengaku tidak mudah untuk menciptakan alat itu hingga akhirnya dapat dioperasionalkan. Meski begitu, keinginan agar bisa memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 terus bersemangat merangkai komponen. Sekalipun kedua masih duduk di bangku SD tetapi ingin memberikan manfaat bagi siswa dan guru di sekolahnya.

“Titik awalnya tercetus membuat alat ini ya ketika kami hendak masuk sekolah. Kami menginginkan agar ruangan kelas bisa steril dari virus. Soalnya kan saat hendak PTM terbatas itu kondisinya masih pandemi Covid-19,” ucap Adiyatma, Kamis (21/10).

Dia mengungkapkan, alat yang diciptakan itu sebenarnya di pasaran sudah ada, tetapi harganya lebih mahal sekitar Rp 1 juta hingga Rp 11 juta. Tetapi di tangannya cukup menghabiskan biaya Rp 750 ribu sudah bisa menghasilkan automatic ozone machine yang begitu bermanfaat.

Baca Juga :  Antisipasi Penyakit Mulut dan Kuku, Gubernur Ganjar Instruksikan Siaga di Perbatasan

Cara kerja dari alat itu saat dihidupkan dengan aliran listrik dari genarator yang telah dipasang menghasilkan ozon. Lantas disebarkan melalui kipas agar bisa menyebar ke seluruh ruangan kelas. Ozon yang menyebar itu mengikat virus hingga keakuratan menyampai 90 persen.

“Ada timernya juga dalam pengoperasian alat tersebut. Setidaknya dibutuhkan waktu selama 15 menit,” ujarnya.

Saat dioperasionalkan itu tidak ada siswa maupun guru di rungan karena kalau terlalu banyak menghirup ozon tidak baik untuk organ dalam. Maka setelah alat itu berhenti, pintu dan jendela bisa dibuka lagi agar ada sirkulasi udara.

Dengan adanya alat itu setidaknya bisa semakin memperketat penerapan protokol kesehatan (prokes) di sekolahnya. Selain kewajiban dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Melalui alat itu setidaknya bisa mengurangi dampak penularan terutama kepada para siswa.

“Kenapa kami melibatkan dua siswa ini untuk pembuatan automatic ozone machine.  Sebab, mereka sudah memiliki dasarnya terkait ilmu robotik. Lantas pengetahuan yang mereka dapatkan itu diterapkan dalam merangkai komponen. Kita mendukung sepenuhnya apa yang menjadi kebutuhan untuk membuat alat itu,” ucap Direktur LKP Autobot School Klaten Agur Yake Mulia.

Untuk kendala, memang kedua siswa itu belum bisa membeli langsung komponen yang diperlukan. Maka LKP Autobot School Klaten membantu sekaligus membimbingnya sehingga akhirnya bisa menciptakan alat penetral virus dengan biaya yang terjangkau.

Ke depan, akan dilakukan pengembangan alat tersebut sehingga tidak hanya satu unit saja. Tetapi menyesuaikan dengan jumlah ruangan kelas dan guru yakni terdapat tujuh ruangan. Bahkan dari Pemdes Butuhan juga tertarik untuk bisa memanfaatkan alat ciptaan siswa SD itu untuk bisa dioperasionalkan di kantor desa.

Kreatif. Apa yang dilakukan dua siswa SD ini patut diacungi jempol. Dua siswa SDN 2 Butuhan di Klaten ini berhasil menciptakan automatic ozone machine. Alat ini diklaim mampu menetralkan ruangan dari virus, termasuk Covid-19.

ANGGA PURENDA, Solo, Radar Solo

Kegiatan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas menjadi angin segar bagi siswa yang sudah hampir dua tahun belajar daring. Kondisi ini menginspirasi dua siswa di SDN 2 Butuhan, Kecamatan Delanggu untuk berkarya. Kedua siswa kelas V ini adalah Muhammad Eko Pujiyanto, 11, dan Adiyatma Faturohman, 11.

Mereka menciptakan sebuah alat yang diklaim mampu menetralkan ruangan dari virus termasuk Covid-19 dengan tingkat keakuratan hingga 90 persen. Mengingat anak 12 tahun ke bawah belum menjalani vaksinasi sehingga memiliki resiko untuk terpapar.

Di bawah bimbingan LKP Autobot School, Eko dan Adiyatma lantas mulai menyusun komponen untuk dirangkai. Mulai dari satu bulan lalu dengan merogoh kocek Rp 750 ribu untuk pembelian bahan utama. Seperti generator ozon, kipas hingga timer serta saklar hingga alat pengaman lainnya dari terjadinya hubungan arus pendek.

Mereka berdua mengaku tidak mudah untuk menciptakan alat itu hingga akhirnya dapat dioperasionalkan. Meski begitu, keinginan agar bisa memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 terus bersemangat merangkai komponen. Sekalipun kedua masih duduk di bangku SD tetapi ingin memberikan manfaat bagi siswa dan guru di sekolahnya.

“Titik awalnya tercetus membuat alat ini ya ketika kami hendak masuk sekolah. Kami menginginkan agar ruangan kelas bisa steril dari virus. Soalnya kan saat hendak PTM terbatas itu kondisinya masih pandemi Covid-19,” ucap Adiyatma, Kamis (21/10).

Dia mengungkapkan, alat yang diciptakan itu sebenarnya di pasaran sudah ada, tetapi harganya lebih mahal sekitar Rp 1 juta hingga Rp 11 juta. Tetapi di tangannya cukup menghabiskan biaya Rp 750 ribu sudah bisa menghasilkan automatic ozone machine yang begitu bermanfaat.

Baca Juga :  Tabrakan Beruntun di Tol Jatingaleh Semarang, 3 Orang Luka-luka

Cara kerja dari alat itu saat dihidupkan dengan aliran listrik dari genarator yang telah dipasang menghasilkan ozon. Lantas disebarkan melalui kipas agar bisa menyebar ke seluruh ruangan kelas. Ozon yang menyebar itu mengikat virus hingga keakuratan menyampai 90 persen.

“Ada timernya juga dalam pengoperasian alat tersebut. Setidaknya dibutuhkan waktu selama 15 menit,” ujarnya.

Saat dioperasionalkan itu tidak ada siswa maupun guru di rungan karena kalau terlalu banyak menghirup ozon tidak baik untuk organ dalam. Maka setelah alat itu berhenti, pintu dan jendela bisa dibuka lagi agar ada sirkulasi udara.

Dengan adanya alat itu setidaknya bisa semakin memperketat penerapan protokol kesehatan (prokes) di sekolahnya. Selain kewajiban dalam menggunakan masker, menjaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir. Melalui alat itu setidaknya bisa mengurangi dampak penularan terutama kepada para siswa.

“Kenapa kami melibatkan dua siswa ini untuk pembuatan automatic ozone machine.  Sebab, mereka sudah memiliki dasarnya terkait ilmu robotik. Lantas pengetahuan yang mereka dapatkan itu diterapkan dalam merangkai komponen. Kita mendukung sepenuhnya apa yang menjadi kebutuhan untuk membuat alat itu,” ucap Direktur LKP Autobot School Klaten Agur Yake Mulia.

Untuk kendala, memang kedua siswa itu belum bisa membeli langsung komponen yang diperlukan. Maka LKP Autobot School Klaten membantu sekaligus membimbingnya sehingga akhirnya bisa menciptakan alat penetral virus dengan biaya yang terjangkau.

Ke depan, akan dilakukan pengembangan alat tersebut sehingga tidak hanya satu unit saja. Tetapi menyesuaikan dengan jumlah ruangan kelas dan guru yakni terdapat tujuh ruangan. Bahkan dari Pemdes Butuhan juga tertarik untuk bisa memanfaatkan alat ciptaan siswa SD itu untuk bisa dioperasionalkan di kantor desa.

Most Read

Artikel Terbaru

/