alexametrics
32 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Ganjar Pastikan Operasi Minyak Goreng di Jateng Terus Digenjot

SEMARANG – Kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng masih menjadi masalah serius masyarakat. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang terus mendapat keluhan masyarakat menyatakan,operasi pasar untuk minyak goreng masih dilakukan hingga hari ini.

Ganjar mengakui, keluhan dan pertanyaan terkait mahalnya harga minyak goreng banyak disampaikan kepadanya. Baik itu dari kalangan ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM. Terkait hal ini, pijaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk pelaksanaan operasi pasar.

“Banyak sekali yang nanya. Warga nanya, ‘kenapa pak minyak goreng di tempat saya masih langka’. Saya sudah komunikasi dengan pusat juga, dan sudah disiapkan jadwal-jadwalnya (operasi pasar),” ujar Ganjar ditemui di rumah dinasnya, Rabu (23/2).


Jadwal operasi ini, lanjut Ganjar, perlu disampaikan kepada publik agar tidak memunculkan kekhawatiran pada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mengetahui dan mengikuti operasi pasar tersebut. Seperti yang dilakukan sampai hari ini oleh beberapa pihak.

Ganjar mengatakan, sejak 21–23 operasi pasar dilakukan hampir menyeluruh di Jawa Tengah. Misalnya PT Sawit Juara yang mendistribusikan kurang lebih 32 ton minyak di Kota Semarang.

“Ada lagi dari PT PPI, ini tanggal 21 sampai 23. Mereka ada di Purworejo, Kebumen, Kota Semarang, dan Kota Solo. Masing-masing kurang lebih 3.000 liter,” papar Ganjar.

Perum Bulog juga menggelar operasi pasar minyak goreng pada 22–23 Februari. Sasarannya di Batang sebanyak 2.000 liter, Wonosobo 2.000 liter, dan Grobogan 3.000 liter.

Selain itu, PT BES menyiapkan total 123.000 liter atau kurang lebih 10.250 dus untuk operasi pasar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, Salatiga, Jepara, Batang, Magelang, Purbalingga dan beberapa kota lainnya.

“Kalau kita ngelihat kondisi ini, rasa-rasanya publik harus tahu terkait dengan operasi pasar. Karena tadi pagi saya masih ditanyain teman-teman dari demak bahwa kok minyaknya masih mahal dan langka,” ujarnya.

Baca Juga :  Modus Baru, Petugas Lapas Semarang Temukan Bola Tenis Berisi Sabu - Sabu

Ganjar berharap, pemerintah pusat mengambil tindakan tegas terkait kewajiban domestic market obligation (DMO) 20 persen yang harus dibagikan kepada masyarakat. Sehingga masalah minyak goreng dapat segera ditanggulangi.

“Kita lagi berada pada situasi yang tidak menguntungkan hari ini. Maka kepada pemerintah pusat saya harapkan betul untuk mengambil tindakan yang tegas sehingga DMO 20 persen yang mesti dibagi harus dibagi, papar Ganjar.

Di satu sisi, kelangkaan dan naiknya hara minyak goreng yang ini juga telah berdampak pada psikologi masyarakat. Banyak cara dilakukan agar bisa mendapatkan stok minyak goreng lebih dan murah.

Untuk itu, Ganjar benar-benar meminta masyarakat untuk mengikuti operasi pasar dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Artinya, masyarakat tetap tak boleh berlebih agar ketersediaan minyak goreng murah ini bisa diperoleh secara merata.

“Karena situasinya memang tidak menguntungkan, belinya secukupnya dulu. Sehingga semua akan bisa mendapatkan minyak goreng,” tutur Ganjar.

Ganjar juga mengimbau agar tidak ada oknum yang menimbun minyak goreng di Jawa Tengah. Termasuk pada oknum yang melakukan tindakan ilegal dan membahayakan masyarakat terkait ini.

Dia pun memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak kepolisian yang bisa mengungkap kasus pemalsuan minyak goreng di Kudus.

Ganjar berharap masyarakat juga berhati-hati dalam menggunakan minyak goreng. Sebab, pengolahan minyak goreng berulangkali akan berbahaya.

“Jangan sampai nanti karena situasi kondisi seperti ini, dipakai berkali-kali. Ada yang dengan cara ilegal, dibersihkan lagi, dengan treatmen kimia, jangan sampai itu terjadi. Masyarakat harus mendapatkan keamanan pangan yang baik,” tegas dia. (Radar Solo)

SEMARANG – Kelangkaan dan tingginya harga minyak goreng masih menjadi masalah serius masyarakat. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang terus mendapat keluhan masyarakat menyatakan,operasi pasar untuk minyak goreng masih dilakukan hingga hari ini.

Ganjar mengakui, keluhan dan pertanyaan terkait mahalnya harga minyak goreng banyak disampaikan kepadanya. Baik itu dari kalangan ibu rumah tangga hingga pelaku UMKM. Terkait hal ini, pijaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk pelaksanaan operasi pasar.

“Banyak sekali yang nanya. Warga nanya, ‘kenapa pak minyak goreng di tempat saya masih langka’. Saya sudah komunikasi dengan pusat juga, dan sudah disiapkan jadwal-jadwalnya (operasi pasar),” ujar Ganjar ditemui di rumah dinasnya, Rabu (23/2).

Jadwal operasi ini, lanjut Ganjar, perlu disampaikan kepada publik agar tidak memunculkan kekhawatiran pada masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mengetahui dan mengikuti operasi pasar tersebut. Seperti yang dilakukan sampai hari ini oleh beberapa pihak.

Ganjar mengatakan, sejak 21–23 operasi pasar dilakukan hampir menyeluruh di Jawa Tengah. Misalnya PT Sawit Juara yang mendistribusikan kurang lebih 32 ton minyak di Kota Semarang.

“Ada lagi dari PT PPI, ini tanggal 21 sampai 23. Mereka ada di Purworejo, Kebumen, Kota Semarang, dan Kota Solo. Masing-masing kurang lebih 3.000 liter,” papar Ganjar.

Perum Bulog juga menggelar operasi pasar minyak goreng pada 22–23 Februari. Sasarannya di Batang sebanyak 2.000 liter, Wonosobo 2.000 liter, dan Grobogan 3.000 liter.

Selain itu, PT BES menyiapkan total 123.000 liter atau kurang lebih 10.250 dus untuk operasi pasar di Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal, Demak, Salatiga, Jepara, Batang, Magelang, Purbalingga dan beberapa kota lainnya.

“Kalau kita ngelihat kondisi ini, rasa-rasanya publik harus tahu terkait dengan operasi pasar. Karena tadi pagi saya masih ditanyain teman-teman dari demak bahwa kok minyaknya masih mahal dan langka,” ujarnya.

Baca Juga :  Sambut Kontingen PON XX Papua, Jateng Siapkan Tempat Karantina

Ganjar berharap, pemerintah pusat mengambil tindakan tegas terkait kewajiban domestic market obligation (DMO) 20 persen yang harus dibagikan kepada masyarakat. Sehingga masalah minyak goreng dapat segera ditanggulangi.

“Kita lagi berada pada situasi yang tidak menguntungkan hari ini. Maka kepada pemerintah pusat saya harapkan betul untuk mengambil tindakan yang tegas sehingga DMO 20 persen yang mesti dibagi harus dibagi, papar Ganjar.

Di satu sisi, kelangkaan dan naiknya hara minyak goreng yang ini juga telah berdampak pada psikologi masyarakat. Banyak cara dilakukan agar bisa mendapatkan stok minyak goreng lebih dan murah.

Untuk itu, Ganjar benar-benar meminta masyarakat untuk mengikuti operasi pasar dengan sebaik-baiknya dan sebijak-bijaknya. Artinya, masyarakat tetap tak boleh berlebih agar ketersediaan minyak goreng murah ini bisa diperoleh secara merata.

“Karena situasinya memang tidak menguntungkan, belinya secukupnya dulu. Sehingga semua akan bisa mendapatkan minyak goreng,” tutur Ganjar.

Ganjar juga mengimbau agar tidak ada oknum yang menimbun minyak goreng di Jawa Tengah. Termasuk pada oknum yang melakukan tindakan ilegal dan membahayakan masyarakat terkait ini.

Dia pun memberi apresiasi setinggi-tingginya kepada pihak kepolisian yang bisa mengungkap kasus pemalsuan minyak goreng di Kudus.

Ganjar berharap masyarakat juga berhati-hati dalam menggunakan minyak goreng. Sebab, pengolahan minyak goreng berulangkali akan berbahaya.

“Jangan sampai nanti karena situasi kondisi seperti ini, dipakai berkali-kali. Ada yang dengan cara ilegal, dibersihkan lagi, dengan treatmen kimia, jangan sampai itu terjadi. Masyarakat harus mendapatkan keamanan pangan yang baik,” tegas dia. (Radar Solo)


Most Read

Artikel Terbaru

/