25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

MIRIS! Ibu di Tuban Nekat Jual Ginjal Demi Bayar Hutang Pinjol Anaknya

TUBAN – Seorang Ibu berusia 59 tahun di Kabupaten Tuban, Jawa Timur berinisial ER terlihat di pinggir jalan sambil membentangkan poster berisi tulisan yang bertuliskan pernyataan bahwa yang ia menjual ginjal beserta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Wanita yang diketahui sehari hari menjual gorengan itu mengaku nekat menjual ginjalnya lantaran tak tega melihat anaknya terus-menerus ditagih oleh pihak bank.

Dia mengaku membutuhkan uang dalam jumlah banyak guna melunasi pinjaman online (pinjol) dan utang anak-anaknya di sejumlah bank dengan nilai hampir mencapai Rp200 juta.


Ia juga menyebut anaknya terlilit utang pinjaman online hingga puluhan juta rupiah. Tak berhenti sampai di situ, pria berusia 31 tahun itu kembali meminjam utang sekitar Rp50 juta melalui program kredit usaha rakyat (KUR) BRI Tuban dengan jaminan BPKB motor, serta meminjam uang di koperasi, dan lain sebagainya.

“Terpaksa ingin menjual ginjal saya ini, untuk bayar utang anak-anak saya yang hampir mencapai Rp200 juta. Saya sendiri tahu jika jual ginjal itu dilarang,” ungkap ER, Senin (21/11).

Baca Juga :  Luncurkan Aplikasi Srikandi, Ganjar: UMKM Jadi Lebih Mudah Akses Keuangan

“Suami saya meninggal dunia setahun lalu. Jual ginjal adalah satu-satunya jalan untuk melunasi utang anak-anak saya,” terang ER, dikutip dari akun Instagram @tubannow.

Atas aksinya tersebut ER diamankan pegawai Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A PMD) Kabupaten Tuban yang mempertanyakan aksi ER.

Menurut penuturannya, utang sang anak digunakan untuk bisnis investasi. Nahasnya, uang tersebut habis karena sang anak tertipu investasi bodong.

“Anak saya utang buat investasi. Investasi bodong. Sudah setahun lebih tidak membayar,” terang ibu tiga anak itu, dikutip dari liputan6.com.

Sang anak kemudian kabur karena tidak bisa membayar utang dan bunganya. Akhirnya, ER lah yang harus menanggung semua utang sang anak ketika ada petugas yang datang ke rumah untuk menagih.

“Di tagih utang terus. Angsuran tiap bulan bervariasi, ada delapan ratus sampai satu juta lebih,” jelasnya. (*)

TUBAN – Seorang Ibu berusia 59 tahun di Kabupaten Tuban, Jawa Timur berinisial ER terlihat di pinggir jalan sambil membentangkan poster berisi tulisan yang bertuliskan pernyataan bahwa yang ia menjual ginjal beserta nomor telepon yang bisa dihubungi.

Wanita yang diketahui sehari hari menjual gorengan itu mengaku nekat menjual ginjalnya lantaran tak tega melihat anaknya terus-menerus ditagih oleh pihak bank.

Dia mengaku membutuhkan uang dalam jumlah banyak guna melunasi pinjaman online (pinjol) dan utang anak-anaknya di sejumlah bank dengan nilai hampir mencapai Rp200 juta.

Ia juga menyebut anaknya terlilit utang pinjaman online hingga puluhan juta rupiah. Tak berhenti sampai di situ, pria berusia 31 tahun itu kembali meminjam utang sekitar Rp50 juta melalui program kredit usaha rakyat (KUR) BRI Tuban dengan jaminan BPKB motor, serta meminjam uang di koperasi, dan lain sebagainya.

“Terpaksa ingin menjual ginjal saya ini, untuk bayar utang anak-anak saya yang hampir mencapai Rp200 juta. Saya sendiri tahu jika jual ginjal itu dilarang,” ungkap ER, Senin (21/11).

Baca Juga :  Penyelundupan Narkotika ke Kedungpane via Bola Tenis Digagalkan

“Suami saya meninggal dunia setahun lalu. Jual ginjal adalah satu-satunya jalan untuk melunasi utang anak-anak saya,” terang ER, dikutip dari akun Instagram @tubannow.

Atas aksinya tersebut ER diamankan pegawai Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsos P3A PMD) Kabupaten Tuban yang mempertanyakan aksi ER.

Menurut penuturannya, utang sang anak digunakan untuk bisnis investasi. Nahasnya, uang tersebut habis karena sang anak tertipu investasi bodong.

“Anak saya utang buat investasi. Investasi bodong. Sudah setahun lebih tidak membayar,” terang ibu tiga anak itu, dikutip dari liputan6.com.

Sang anak kemudian kabur karena tidak bisa membayar utang dan bunganya. Akhirnya, ER lah yang harus menanggung semua utang sang anak ketika ada petugas yang datang ke rumah untuk menagih.

“Di tagih utang terus. Angsuran tiap bulan bervariasi, ada delapan ratus sampai satu juta lebih,” jelasnya. (*)


Most Read

Artikel Terbaru

/