alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

19 Remaja di Semarang Diduga Pesta Seks di Hotel

SEMARANG – Sebanyak 19 remaja di Semarang digrebek Team Elang Hebat Polrestabes Semarang. Mereka diduga melakukan pesta seks, berdasarkan pengakuan pihak resepsionis hotel. Mereka menjajakan diri lewat aplikasi MiChat, dan menyewa kamar hotel untuk melayani para hidung belang. Di malam itu, tempat yang digrebek yakni Hotel RedDoorz Jalan Dr Wahidin, Candisari, Semarang ini.

Mereka diduga jaringan prostitusi yang memanfaatkan aplikasi MiChat. Di antara, mereka ada perempuan yang masih berusia 14 tahun. Saat petugas mendatangi lokasi, mendapati empat remaja laki-laki, dan satu perempuan di depan meja resepsionis Hotel RedDoorz Jalan Dr Wahidin.  Salah satu petugas sempat menanyakan usia perempuan tersebut.

“17 tahun,” jawab singkat perempuan yang duduk bersebelahan dengan remaja laki-laki.


Laki-laki itu mengaku kalau perempuan tersebut adalah kekasihnya.

“Ini pacar saya, Pak,” kata remaja tersebut.

Petugas lalu menggeledah isi tas perempuan 17 tahun itu, Di dalam tas, ditemukan rokok. Petugas juga menginterogasi resepsionis hotel.

“Ini tamu. Mereka temannya tamu hotel sini. Tapi di kamar nomor berapa, saya tidak tahu,” kata resepsionis pria itu kepada petugas.

Petugas pun menggeledah kamar-kamar di penginapan tersebut.  Kamar yang kali pertama dituju nomor 203. Di kamar ini, ditemukan dua remaja laki-laki dan satu perempuan. Si perempuan mengenakan rok mini dan jaket jins. Petugas menginterogasi perempuan belia itu.

“Usia saya 14 tahun,” kata perempuan berinisial S ini. Salah satu remaja laki-laki di kamar ini mengklaim kalau perempuan tersebut adalah kekasihnya.

“Pacar saya. Itu teman,” ucapnya.

“Di sini kami hanya nongkrong,” tambahnya.

Selanjutnya, petugas menuju kamar 305. Di kamar ini, petugas, mendapati dua laki-laki dan satu perempuan. Remaja perempuan itu memakai daster, dan mengaku berusia 19 tahun. Di dalam kamar tersebut, K –inisial perempuan itu, berdalih  hanya sebagai teman dua laki-laki itu.

“Temen,” katanya singkat.

Petugas lantas menginterogasi remaja laki-laki berinisial B, 17, dan F, 19, tersebut. Keduanya berdalih, di dalam kamar menunggu rekannya yang lain.

“Ini lagi nungguin motor, ini mau pulang, temenku lagi ambil motor,” kata F.

Di depan kamar 305, petugas juga mendapati sepasang muda-mudi. Saat digerebek, laki-laki tersebut hanya berlilitkan handuk putih. Keduanya tidak bisa menunjukkan buku pasangan nikah. Perempuan muda ini awalnya berdalih sebagai teman.

“Nungguin temen, Pak,” kata perempuan yang mengenakan celana jins pendek, dan baju pendek kotak-kotak.

Di kamar ini, petugas mendapati banyak kondom. Ada yang masih dalam kemasan. Ada yang bekas dipakai. Awalnya, perempuan ini berkelit. Namun akhirnya mengakui habis berhubungan badan dengan tamunya dua kali pakai alat pengaman kondom.

“Dipakai dua kali,” ujarnya.

Perempuan ini mengaku melayani hubungan badan dengan tarif Rp 400 ribu per jam. Namun di dalam kamar, ia dibayar Rp 300 ribu. Malam itu, perempuan ini sudah melayani tiga tamu.

“Yang pertama bayar Rp 300, yang ini Rp 300 ribu, ini sama uangku yang kemarin. Dapat Rp 900 ribu,” katanya.

Baca Juga :  Ganjar Cukur Gundul Dihari Kanker Anak, Warganet: Tetap Ganteng, Pak

Perempuan 18 tahun ini mengatakan, sehari ia mendapatkan dua sampai tiga tamu. Biasanya transaksi dilakukan melalui aplikasi MiChat. Ia mengaku baru terjun di prostitusi online belum sampai satu bulan.

“Yang buka kamar ini saya, sehari Rp 200 ribu,” ucapnya.

Perempuan ini juga mengatakan, ada rekannya menunggu di depan resepsionis, yakni P dan Z.  Uang Rp 300 ribu dari tamu disisihkan Rp 50 ribu untuk operator hotel. Laki-laki ini mengakui baru checking hotel, dan baru sekali melakukan hubungan badan.

Malam itu, petugas juga menggerebek kamar 108. Di dalam kamar, didapati dua laki-laki dan satu perempuan pura-pura tidur. Mereka berinisial K, P, dan Z. Ketiganya mengaku berteman dengan penghuni kamar 303. Ketiganya berdalih kamar tersebut disewa hanya sebagai tempat berkumpul.

“Di sini hanya tempat kumpul. Kalau ada tamu, di kamar lain,” dalihnya.

Di kamar lain, petugas juga mengamankan sepasang muda-mudi dan ditemukan kondom. Ironisnya, si perempuan mengaku mash berusia 16 tahun, warga Pedurungan. Perempuan ini berdalih hanya berteman dengan laki-laki yang ada di dalam kamar itu. Sementara si laki-laki berdalih baru masuk hotel, dan akan berhubungan badan.

“Baru masuk, perjanjiannya bayar Rp 250 ribu. Tapi, saya belum bayar,” jelasnya.

Mereka yang digerebek kemudian dibawa ke lantai bawah depan resepsionis. Total ada 19 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan yang semuanya belum menikah. Mereka juga mendapat pengarahan dan pembinaan sebelum diserahkan ke Polsek Candisari.

Pihak resepsionis dan satpam penginapan juga tak luput mendapatkan pengarahan. Salah satu petugas mengaku, mengetahui pesta seks itu setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. Pihaknya juga menegur resepsionis dan satpam hotel.

“Gimana manajemennya?” tanya petugas ke resespsionis.

“Saya sudah peringatkan, Pak. Ini kan biasanya lewat aplikasi. Kita hanya menerima tamu. Ada KTP atau identitas lainnya,” jawab resepsionis.

Kapolsek Candisari Iptu Suprianto mengakui penggerebekan itu dilakukan Sabtu  (11/9/2021) malam lalu.

“Kejadiannya malam minggu lalu. Itu kan belum sempat terjadi. Dan itu yang mempromosikan dirinya sendiri (perempuan),” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (17/9/2021) kemarin.

Dugaan adanya mucikari, pihaknya mengatakan masih melakukan penyelidikan hal ini.

“Dibilang mucikari, mucikari yang mana? Kalau namanya prostitusi kan harus ada mucikarinya, sudah terjadi transaksi, hubungan, ada yang diuntungkan,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, pasangan yang telah melakukan hubungan badan hanya satu pasangan.

“Cuman satu pasangan saja. Kalau ada beberapa itu kan memang teman-temannya.  Iya, di bawah umur. Anak Semarang,” katanya.

Mereka yang diamankan juga telah mendapat pembinaan dan pengarahan dari kepolisian. Setelah itu, dikembalikan ke orangtua masing-masing.

“Ya, dilakukan adalah pembinaan, dipanggil orang tuanya. Karena mengarah ke sana, kontrol orangtuanya kurang, anak itu kayak salah pergaulan,” ujarnya.

SEMARANG – Sebanyak 19 remaja di Semarang digrebek Team Elang Hebat Polrestabes Semarang. Mereka diduga melakukan pesta seks, berdasarkan pengakuan pihak resepsionis hotel. Mereka menjajakan diri lewat aplikasi MiChat, dan menyewa kamar hotel untuk melayani para hidung belang. Di malam itu, tempat yang digrebek yakni Hotel RedDoorz Jalan Dr Wahidin, Candisari, Semarang ini.

Mereka diduga jaringan prostitusi yang memanfaatkan aplikasi MiChat. Di antara, mereka ada perempuan yang masih berusia 14 tahun. Saat petugas mendatangi lokasi, mendapati empat remaja laki-laki, dan satu perempuan di depan meja resepsionis Hotel RedDoorz Jalan Dr Wahidin.  Salah satu petugas sempat menanyakan usia perempuan tersebut.

“17 tahun,” jawab singkat perempuan yang duduk bersebelahan dengan remaja laki-laki.

Laki-laki itu mengaku kalau perempuan tersebut adalah kekasihnya.

“Ini pacar saya, Pak,” kata remaja tersebut.

Petugas lalu menggeledah isi tas perempuan 17 tahun itu, Di dalam tas, ditemukan rokok. Petugas juga menginterogasi resepsionis hotel.

“Ini tamu. Mereka temannya tamu hotel sini. Tapi di kamar nomor berapa, saya tidak tahu,” kata resepsionis pria itu kepada petugas.

Petugas pun menggeledah kamar-kamar di penginapan tersebut.  Kamar yang kali pertama dituju nomor 203. Di kamar ini, ditemukan dua remaja laki-laki dan satu perempuan. Si perempuan mengenakan rok mini dan jaket jins. Petugas menginterogasi perempuan belia itu.

“Usia saya 14 tahun,” kata perempuan berinisial S ini. Salah satu remaja laki-laki di kamar ini mengklaim kalau perempuan tersebut adalah kekasihnya.

“Pacar saya. Itu teman,” ucapnya.

“Di sini kami hanya nongkrong,” tambahnya.

Selanjutnya, petugas menuju kamar 305. Di kamar ini, petugas, mendapati dua laki-laki dan satu perempuan. Remaja perempuan itu memakai daster, dan mengaku berusia 19 tahun. Di dalam kamar tersebut, K –inisial perempuan itu, berdalih  hanya sebagai teman dua laki-laki itu.

“Temen,” katanya singkat.

Petugas lantas menginterogasi remaja laki-laki berinisial B, 17, dan F, 19, tersebut. Keduanya berdalih, di dalam kamar menunggu rekannya yang lain.

“Ini lagi nungguin motor, ini mau pulang, temenku lagi ambil motor,” kata F.

Di depan kamar 305, petugas juga mendapati sepasang muda-mudi. Saat digerebek, laki-laki tersebut hanya berlilitkan handuk putih. Keduanya tidak bisa menunjukkan buku pasangan nikah. Perempuan muda ini awalnya berdalih sebagai teman.

“Nungguin temen, Pak,” kata perempuan yang mengenakan celana jins pendek, dan baju pendek kotak-kotak.

Di kamar ini, petugas mendapati banyak kondom. Ada yang masih dalam kemasan. Ada yang bekas dipakai. Awalnya, perempuan ini berkelit. Namun akhirnya mengakui habis berhubungan badan dengan tamunya dua kali pakai alat pengaman kondom.

“Dipakai dua kali,” ujarnya.

Perempuan ini mengaku melayani hubungan badan dengan tarif Rp 400 ribu per jam. Namun di dalam kamar, ia dibayar Rp 300 ribu. Malam itu, perempuan ini sudah melayani tiga tamu.

“Yang pertama bayar Rp 300, yang ini Rp 300 ribu, ini sama uangku yang kemarin. Dapat Rp 900 ribu,” katanya.

Baca Juga :  Diduga Korsleting Listrik, Dua Kios di Semarang Dilalap Api

Perempuan 18 tahun ini mengatakan, sehari ia mendapatkan dua sampai tiga tamu. Biasanya transaksi dilakukan melalui aplikasi MiChat. Ia mengaku baru terjun di prostitusi online belum sampai satu bulan.

“Yang buka kamar ini saya, sehari Rp 200 ribu,” ucapnya.

Perempuan ini juga mengatakan, ada rekannya menunggu di depan resepsionis, yakni P dan Z.  Uang Rp 300 ribu dari tamu disisihkan Rp 50 ribu untuk operator hotel. Laki-laki ini mengakui baru checking hotel, dan baru sekali melakukan hubungan badan.

Malam itu, petugas juga menggerebek kamar 108. Di dalam kamar, didapati dua laki-laki dan satu perempuan pura-pura tidur. Mereka berinisial K, P, dan Z. Ketiganya mengaku berteman dengan penghuni kamar 303. Ketiganya berdalih kamar tersebut disewa hanya sebagai tempat berkumpul.

“Di sini hanya tempat kumpul. Kalau ada tamu, di kamar lain,” dalihnya.

Di kamar lain, petugas juga mengamankan sepasang muda-mudi dan ditemukan kondom. Ironisnya, si perempuan mengaku mash berusia 16 tahun, warga Pedurungan. Perempuan ini berdalih hanya berteman dengan laki-laki yang ada di dalam kamar itu. Sementara si laki-laki berdalih baru masuk hotel, dan akan berhubungan badan.

“Baru masuk, perjanjiannya bayar Rp 250 ribu. Tapi, saya belum bayar,” jelasnya.

Mereka yang digerebek kemudian dibawa ke lantai bawah depan resepsionis. Total ada 19 orang, terdiri atas laki-laki dan perempuan yang semuanya belum menikah. Mereka juga mendapat pengarahan dan pembinaan sebelum diserahkan ke Polsek Candisari.

Pihak resepsionis dan satpam penginapan juga tak luput mendapatkan pengarahan. Salah satu petugas mengaku, mengetahui pesta seks itu setelah mendapatkan laporan dari masyarakat. Pihaknya juga menegur resepsionis dan satpam hotel.

“Gimana manajemennya?” tanya petugas ke resespsionis.

“Saya sudah peringatkan, Pak. Ini kan biasanya lewat aplikasi. Kita hanya menerima tamu. Ada KTP atau identitas lainnya,” jawab resepsionis.

Kapolsek Candisari Iptu Suprianto mengakui penggerebekan itu dilakukan Sabtu  (11/9/2021) malam lalu.

“Kejadiannya malam minggu lalu. Itu kan belum sempat terjadi. Dan itu yang mempromosikan dirinya sendiri (perempuan),” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (17/9/2021) kemarin.

Dugaan adanya mucikari, pihaknya mengatakan masih melakukan penyelidikan hal ini.

“Dibilang mucikari, mucikari yang mana? Kalau namanya prostitusi kan harus ada mucikarinya, sudah terjadi transaksi, hubungan, ada yang diuntungkan,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, pasangan yang telah melakukan hubungan badan hanya satu pasangan.

“Cuman satu pasangan saja. Kalau ada beberapa itu kan memang teman-temannya.  Iya, di bawah umur. Anak Semarang,” katanya.

Mereka yang diamankan juga telah mendapat pembinaan dan pengarahan dari kepolisian. Setelah itu, dikembalikan ke orangtua masing-masing.

“Ya, dilakukan adalah pembinaan, dipanggil orang tuanya. Karena mengarah ke sana, kontrol orangtuanya kurang, anak itu kayak salah pergaulan,” ujarnya.

Most Read

Artikel Terbaru

/