alexametrics
31 C
Kudus
Saturday, June 4, 2022

Dapat Pendampingan Pemprov Jateng, Desa Bojongnangka Raup Ratusan Juta

PEMALANG – Desa Bojongnangka, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, yang pernah menyandang predikat desa miskin, kini telah berkembang dan memiliki edukasi wisata. Hal itu berkat pendampingan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) melalui program Satu OPD Satu Desa.

Di tahun 2020, Desa Bojongnangka menjadi binaan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jateng. Selama dua tahun berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat potensi desa. Hingga akhirnya mampu lepas dari jeratan kemiskinan.

Kepala Desa Bojongnangka Wahmu mengatakan desanya masuk dalam kategori miskin di Kabupaten Pemalang. Sehingga mendapat pendampingan dari Pemprov Jateng di tahun 2020 sampai 2021. ”Kenapa kami ada pendampingan dari BKD? Karena di Pemalang ada beberapa desa miskin, di antaranya Desa Bojongnangka,” ujarnya Minggu (15/5).


Pendampingan itu, menurutnya, dilakukan untuk mengangkat desa dari jeratan kemiskinan. Dengan cara, pendataan potensi dan dicarikan solusinya. Jumlah penduduk Desa Bojongnangka sekitar 9.600 jiwa lebih dengan 3.500 kepala keluarga (KK). Dan 99 persen bekerja sebagai petani dan buruh tani. ”Kami masih dalam tahap meningkatkan perekonomian khususnya petani,” paparnya.

 

Di tahun 2019, Pemerintah Desa (Pemdes) setempat berinisiasi untuk membangun rumah produksi pupuk organik. Namun, karena keterbatasan anggaran, sehingga hanya mampu membeli mesin pencacah sampah.

Bukan hanya itu, pendampingan itu juga dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan. ”Di tahun 2020 itu ada pendampingan dari BKD dan kerja sama Bank Jateng memberikan bantuan alat pengayak sampah, bangunan rongga untuk fermentasi, tempat sampah dan becak pengangkut sampah. Nah, saat itu produksi pupuk organik bisa beroperasi,” ungkap Wahmu.

Baca Juga :  Perubahan Retribusi Tak Bisa Dieksekusi, Dinas Minta Konfirmasi Provinsi

Sejauh ini, mesin pembuat pupuk organik tersebut mampu menghasilkan sekitar satu ton dalam sebulan. ”Hasil pembuatan kompos tidak dijualbelikan, tapi diberikan ke petani secara gratis dalam rangka membantu mengurangi kebutuhan pupuk,” terang Kades.

Keberhasilan dalam mengelola pupuk berbahan sampah organik dari warga itu, kemudian dikembangkan menjadi eduwisata sawah. Selain bisa belajar mengelola pertanian dengan pupuk organik, pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas desa dan berswafoto.

”Sekarang saya mengembangkan menjadi wisata edukasi sawah yang kami namakan Gatra Kencana. Beberapa daerah datang kesini untuk studi banding seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Demak. Sejak dibuka Desember lalu, kini sudah mampu memberi pemasukan Rp 500 juta,” jelasnya.

Ditambahkannya, saat proses pendampingan Pemprov Jateng juga memberikan bantuan pembangunan RTLH bagi tiga warga. ”Iya, ada tiga rumah warga yang mendapat bantuan renovasi,” imbuhnya.

Sementara, Carmo, seorang petani Desa Bojongnangka mengaku senang bahwa desanya telah mampu memproduksi pupuk organik sendiri. ”Iya senang, karena kalau mau menanam tinggal minta ke Pak Lurah, dan ambil sendiri,” katanya.

Pupuk organik tersebut, disampaikannya, kualitasnya bagus buat tanaman. ”Kalau ditabur itu bisa merata. Hasilnya bagus. Saya punya satu hektare sawah, ditanami padi dan jagung,” tandasnya.

Dari data yang ada, sudah sebanyak 172 desa di Jateng yang mendapatkan pendampingan sejak 2019. Setidaknya ada 48 OPD yang terlibat dalam program tersebut. Mulai dari pemberdayaan, RTLH, jambanisasi, dan lainnya. (akr/ida/zen)

PEMALANG – Desa Bojongnangka, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, yang pernah menyandang predikat desa miskin, kini telah berkembang dan memiliki edukasi wisata. Hal itu berkat pendampingan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah (Jateng) melalui program Satu OPD Satu Desa.

Di tahun 2020, Desa Bojongnangka menjadi binaan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jateng. Selama dua tahun berbagai upaya dilakukan untuk mengangkat potensi desa. Hingga akhirnya mampu lepas dari jeratan kemiskinan.

Kepala Desa Bojongnangka Wahmu mengatakan desanya masuk dalam kategori miskin di Kabupaten Pemalang. Sehingga mendapat pendampingan dari Pemprov Jateng di tahun 2020 sampai 2021. ”Kenapa kami ada pendampingan dari BKD? Karena di Pemalang ada beberapa desa miskin, di antaranya Desa Bojongnangka,” ujarnya Minggu (15/5).

Pendampingan itu, menurutnya, dilakukan untuk mengangkat desa dari jeratan kemiskinan. Dengan cara, pendataan potensi dan dicarikan solusinya. Jumlah penduduk Desa Bojongnangka sekitar 9.600 jiwa lebih dengan 3.500 kepala keluarga (KK). Dan 99 persen bekerja sebagai petani dan buruh tani. ”Kami masih dalam tahap meningkatkan perekonomian khususnya petani,” paparnya.

 

Di tahun 2019, Pemerintah Desa (Pemdes) setempat berinisiasi untuk membangun rumah produksi pupuk organik. Namun, karena keterbatasan anggaran, sehingga hanya mampu membeli mesin pencacah sampah.

Bukan hanya itu, pendampingan itu juga dilakukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan. ”Di tahun 2020 itu ada pendampingan dari BKD dan kerja sama Bank Jateng memberikan bantuan alat pengayak sampah, bangunan rongga untuk fermentasi, tempat sampah dan becak pengangkut sampah. Nah, saat itu produksi pupuk organik bisa beroperasi,” ungkap Wahmu.

Baca Juga :  Pemprov Jateng Cairkan Hibah Lembaga Keagamaan Senilai Rp 31 Miliar

Sejauh ini, mesin pembuat pupuk organik tersebut mampu menghasilkan sekitar satu ton dalam sebulan. ”Hasil pembuatan kompos tidak dijualbelikan, tapi diberikan ke petani secara gratis dalam rangka membantu mengurangi kebutuhan pupuk,” terang Kades.

Keberhasilan dalam mengelola pupuk berbahan sampah organik dari warga itu, kemudian dikembangkan menjadi eduwisata sawah. Selain bisa belajar mengelola pertanian dengan pupuk organik, pengunjung juga bisa menikmati kuliner khas desa dan berswafoto.

”Sekarang saya mengembangkan menjadi wisata edukasi sawah yang kami namakan Gatra Kencana. Beberapa daerah datang kesini untuk studi banding seperti Brebes, Tegal, Pekalongan, dan Demak. Sejak dibuka Desember lalu, kini sudah mampu memberi pemasukan Rp 500 juta,” jelasnya.

Ditambahkannya, saat proses pendampingan Pemprov Jateng juga memberikan bantuan pembangunan RTLH bagi tiga warga. ”Iya, ada tiga rumah warga yang mendapat bantuan renovasi,” imbuhnya.

Sementara, Carmo, seorang petani Desa Bojongnangka mengaku senang bahwa desanya telah mampu memproduksi pupuk organik sendiri. ”Iya senang, karena kalau mau menanam tinggal minta ke Pak Lurah, dan ambil sendiri,” katanya.

Pupuk organik tersebut, disampaikannya, kualitasnya bagus buat tanaman. ”Kalau ditabur itu bisa merata. Hasilnya bagus. Saya punya satu hektare sawah, ditanami padi dan jagung,” tandasnya.

Dari data yang ada, sudah sebanyak 172 desa di Jateng yang mendapatkan pendampingan sejak 2019. Setidaknya ada 48 OPD yang terlibat dalam program tersebut. Mulai dari pemberdayaan, RTLH, jambanisasi, dan lainnya. (akr/ida/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/