alexametrics
29.9 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Ratusan ODGJ di Jateng Berhasil Dibebaskan dari Jerat Pasungan

SOLO – Selama masa pandemi Covid-19, jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Namun, masih banyak orang yang kurang pengtahuan dala menangani ODGJ, sehingga banyak yang masih memasung keluarga mereka yang termasuk ODGJ daripada membawa ke fasilitas kesehatan. Terbukti bahwa selama Januari-Juni 2021, terdapat 390 ODGJ yang dipasung berhasil dibebaskan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan, tahun ini pihaknya sudah menyelamatkan 390 ODGJ yang dipasung oleh keluarga. Mereka tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sedangkan pada 2020, ada 515 ODGJ yang berhasil diselamatkan.

“Itu data dari Januari sampai Juni saja. Saat ini tim kami masih melakukan penyisiran. Data terakhir saya belum dapat,” katanya saat menghadiri Peringatan Hari Jiwa Sedunia di RSJD Dr Arif Zainudin Solo kemarin (10/10).


Yulianto menyebut, problematika pemasungan ini sangat kompleks. Ada yang dipasung oleh pihak keluarga, tidak sedikit yang dipasung atas kesepakatan warga sekitar.

“Hampir yang dipasung semuanya sudah kami bebaskan, tetapi setelah itu dipasung lagi,” ujarnya.

Alasannya karena masih sering ngamuk sehingga membahayakan keselamatan warga. Kemudian ada juga keluarga yang malu ketika akan membawa ODGJ ke rumah sakit jiwa.

Untuk menangani masalah ini, lanjut dia, Dinkes Jateng harus bersama-sama dengan masyarakat. Melalui kerja sama ini, permasalahan jiwa bisa ditangani dengan baik

“Semua komponen harus bersatu padu sehingga angka-angka pengurungan pasung bisa menjadi perhatian kita semua,” ucap dia.

Yulianto mengatakan, pandemi korona yang panjang ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya angka ODGJ. Tidak hanya mereka karena kehilangan pekerjaan  namun juga anggota keluarga.

Kemelut kesehatan jiwa ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemprov Jateng dalam menjalankan misi menjadikan masyarakat Jateng lebih sehat dan berbudaya. Selain itu, mencintai lingkungan kesehatan jiwa menjadi salah satu kebudayaan masyarakat yang terabaikan dan sekarang menjadi lebih penting.

Hal ini diamini oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Kemenkes dr Maxin Rain Rondonuwu yang juga hadir ke lokasi yang sama kemarin. Dia menuturkan peningkatan angka pemasungan terjadi karena masih melekatnya stigma negatif dari sebagian masyarakat. Mereka beranggapan anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa adalah aib, sehingga harus dikucilkan, dengan cara dipasung.

Baca Juga :  Jateng Berangkatkan 10 KK Transmigran Akhir Tahun 2021

Maxin juga menegaskan,  pandemi Covid-19 yang hampir berjalan dua tahun ini, memberikan dampak tekanan mental luar biasa bagi masyarakat di Indonesia. Bahkan, sekitar 20 persen penduduk Indonesia memiliki potensi masalah gangguan jiwa. Ini artinya satu di antara lima penduduk berisiko mengalami gangguan kejiwaan.

“Terutama pada masa pandemi Covid-19 yang memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental warga. Peningkatan tahun ini 6,55 persen atau sekitar 12 juta penduduk,” ujarnya.

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam pidato secara virtual pada peringatan Hari Kesehatan Mental mengatakan, belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Saat ini baru ada 34 RSJ di Indonesia milik pemerintah dan swasta. Sehingga tidak semua orang dengan gangguan jiwa bisa mendapat pengobatan yang semestinya.

“Pemerintah terus memiliki komitmen untuk meningkatkan layanan perawatan, Meski masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat kurang,” ujarnya.

Hingga hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa baru ada 1.053 orang. Satu tenaga psikiater di Indonesia sedikitnya harus menangani 250 warg

Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa mengatakan, pada masa pandemi Covid-19 ini, tekanan mental memang memang menghinggapi warga secara luar biasa, dan ada yang berujung dengan kematian.

“Pada masa pandemi ini, warga isoman di Kota Solo yang meninggal lebih banyak dari pada meninggal karena perawatan. Ini semua karena mereka terkena tekanan mental,” kata Teguh

Kepala Dinkes Kota Surakarta Siti Wahyuningsing menambahkan, sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya warga Kota Bengawan yang dipasung. Dia juga belum mendapat laporan berapa jumlah ODGJ di Kota Bengawan.

Guna pencegahan munculnya ODGJ, lanjut Siti, pemkot terus melakukan upaya pencegahan hingga treatment.

“Sebetulnya di puskesmas itu sudah ada perawat kesehatan jiwa ke arah pendeteksian dini dan penanganan ringam. Setiap kelurahan juga ada dua kader keseharan jiwa, sudah dilatih. Ada RSJ juga. Dan setiap rumah sakit juga ada poli kejiwaan, jadi preventif dan preemtif kami sudah ada,” tandas Siti. (nac)

SOLO – Selama masa pandemi Covid-19, jumlah Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Namun, masih banyak orang yang kurang pengtahuan dala menangani ODGJ, sehingga banyak yang masih memasung keluarga mereka yang termasuk ODGJ daripada membawa ke fasilitas kesehatan. Terbukti bahwa selama Januari-Juni 2021, terdapat 390 ODGJ yang dipasung berhasil dibebaskan.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Tengah Yulianto Prabowo mengatakan, tahun ini pihaknya sudah menyelamatkan 390 ODGJ yang dipasung oleh keluarga. Mereka tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sedangkan pada 2020, ada 515 ODGJ yang berhasil diselamatkan.

“Itu data dari Januari sampai Juni saja. Saat ini tim kami masih melakukan penyisiran. Data terakhir saya belum dapat,” katanya saat menghadiri Peringatan Hari Jiwa Sedunia di RSJD Dr Arif Zainudin Solo kemarin (10/10).

Yulianto menyebut, problematika pemasungan ini sangat kompleks. Ada yang dipasung oleh pihak keluarga, tidak sedikit yang dipasung atas kesepakatan warga sekitar.

“Hampir yang dipasung semuanya sudah kami bebaskan, tetapi setelah itu dipasung lagi,” ujarnya.

Alasannya karena masih sering ngamuk sehingga membahayakan keselamatan warga. Kemudian ada juga keluarga yang malu ketika akan membawa ODGJ ke rumah sakit jiwa.

Untuk menangani masalah ini, lanjut dia, Dinkes Jateng harus bersama-sama dengan masyarakat. Melalui kerja sama ini, permasalahan jiwa bisa ditangani dengan baik

“Semua komponen harus bersatu padu sehingga angka-angka pengurungan pasung bisa menjadi perhatian kita semua,” ucap dia.

Yulianto mengatakan, pandemi korona yang panjang ini menjadi salah satu pemicu meningkatnya angka ODGJ. Tidak hanya mereka karena kehilangan pekerjaan  namun juga anggota keluarga.

Kemelut kesehatan jiwa ini merupakan bagian dari ikhtiar Pemprov Jateng dalam menjalankan misi menjadikan masyarakat Jateng lebih sehat dan berbudaya. Selain itu, mencintai lingkungan kesehatan jiwa menjadi salah satu kebudayaan masyarakat yang terabaikan dan sekarang menjadi lebih penting.

Hal ini diamini oleh Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Kemenkes dr Maxin Rain Rondonuwu yang juga hadir ke lokasi yang sama kemarin. Dia menuturkan peningkatan angka pemasungan terjadi karena masih melekatnya stigma negatif dari sebagian masyarakat. Mereka beranggapan anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa adalah aib, sehingga harus dikucilkan, dengan cara dipasung.

Baca Juga :  Klaten Upayakan PTM Terbatas dengan Prioritaskan Vaksinasi Pelajar

Maxin juga menegaskan,  pandemi Covid-19 yang hampir berjalan dua tahun ini, memberikan dampak tekanan mental luar biasa bagi masyarakat di Indonesia. Bahkan, sekitar 20 persen penduduk Indonesia memiliki potensi masalah gangguan jiwa. Ini artinya satu di antara lima penduduk berisiko mengalami gangguan kejiwaan.

“Terutama pada masa pandemi Covid-19 yang memberikan dampak serius terhadap kesehatan mental warga. Peningkatan tahun ini 6,55 persen atau sekitar 12 juta penduduk,” ujarnya.

Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam pidato secara virtual pada peringatan Hari Kesehatan Mental mengatakan, belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Saat ini baru ada 34 RSJ di Indonesia milik pemerintah dan swasta. Sehingga tidak semua orang dengan gangguan jiwa bisa mendapat pengobatan yang semestinya.

“Pemerintah terus memiliki komitmen untuk meningkatkan layanan perawatan, Meski masalah sumber daya manusia profesional untuk tenaga kesehatan jiwa juga masih sangat kurang,” ujarnya.

Hingga hari ini jumlah psikiater sebagai tenaga profesional untuk pelayanan kesehatan jiwa baru ada 1.053 orang. Satu tenaga psikiater di Indonesia sedikitnya harus menangani 250 warg

Wakil Wali Kota Surakarta Teguh Prakosa mengatakan, pada masa pandemi Covid-19 ini, tekanan mental memang memang menghinggapi warga secara luar biasa, dan ada yang berujung dengan kematian.

“Pada masa pandemi ini, warga isoman di Kota Solo yang meninggal lebih banyak dari pada meninggal karena perawatan. Ini semua karena mereka terkena tekanan mental,” kata Teguh

Kepala Dinkes Kota Surakarta Siti Wahyuningsing menambahkan, sejauh ini pihaknya belum menemukan adanya warga Kota Bengawan yang dipasung. Dia juga belum mendapat laporan berapa jumlah ODGJ di Kota Bengawan.

Guna pencegahan munculnya ODGJ, lanjut Siti, pemkot terus melakukan upaya pencegahan hingga treatment.

“Sebetulnya di puskesmas itu sudah ada perawat kesehatan jiwa ke arah pendeteksian dini dan penanganan ringam. Setiap kelurahan juga ada dua kader keseharan jiwa, sudah dilatih. Ada RSJ juga. Dan setiap rumah sakit juga ada poli kejiwaan, jadi preventif dan preemtif kami sudah ada,” tandas Siti. (nac)

Most Read

Artikel Terbaru

/