alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 20, 2022

Tinjau Sekolah yang PTM 100 Persen, Ganjar: Semua Tetap Wajib Prokes

SEMARANG – Sejumlah sekolah di Kota Semarang, khususnya tingkat SMA/SMK telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sejak kemarin. Pagi ini (4/1), Ganjar pun melalukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMAN 11 Kota Semarang dan SMAN 10 Kota Semarang untuk meninjau pelaksanaan PTM 100 persen tersebut.

Berdasarkan pantauan di dua sekolah tersebut Ganjar memberikan beberapa catatan terkait pelaksanaan PTM 100 persen.

Di SMAN 10 Kota Semarang misalnya. Pembatasan kapasitas siswa dilakukan dengan membagi kelompok belajar menjadi dua. Untuk masing-masing kelas, siswa dibagi 50 persen masuk pagi dan 50 persen lainnya masuk siang.


“Ternyata beberapa di antaranya punya model-model. Satu, modelnya setengah-setengah, jadi 50 persen anak belajar sampai pukul 12.00, terus kemudian setelah pukul 12.00 kelas berikutnya, sehingga kelas hanya diisi setengah (kapasitas),” kata Ganjar.

Model berbeda diterapkan di SMAN 11 Kota Semarang. Di sana, 100 persen siswa belajar di sekolah sejak pukul 07.30-12.00. Sekolah melakukan pengawasan ketat sejak peserta didik memasuki lingkungan sekolah dan masih menutup kantin sekolah.

“Tapi tadi saya melihat ada satu yang full 100 persen sekolahnya sampai pukul 12.00. Meskipun kantin masih tutup dan mereka bawa (bekal) sendiri, tapi jaraknya masih terlalu mepet karena satu bangku ada dua anak. Saya minta nanti untuk dievaluasi,” papar Ganjar.

Bagaimana pelaksanaan protokol kesehatannya? Ganjar melihat prokes dilaksanakan relatif sudah bagus. Siswa dan guru cukup disiplin dari proses awal sampai akhir.

Baca Juga :  Wali Kota Semarang Batasi Mobilitas ASN Saat Natal dan Tahun Baru

Meski demikian, Ganjar tetap menegaskan agar sekolah terus memantau aktivitas siswa selama di sekolah. Ia meminta ada satgas atau pengawas yang rutin berkeliling sekolah untuk mengingatkan warga sekolah, baik siswa maupun guru.

“Misal tadi ada seorang guru lupa copot masker, katanya sebentar. Itu yang kadang-kadang kita lupa, nah itu kita ingatkan. Jadi bukan hanya kepada peserta didik, tetapi gurunya juga mesti diingatkan. Kalau melihat semangat anak-anak sih bagus, mereka merasa ini seperti sudah mendekati normal dan mereka bisa menjaga,” papar Ganjar.

Sejauh ini, lanjut dia, pendataan masih terus berjalan terkait jumlah sekolah di Jateng yang melaksanakan PTM 100 persen. Laporan sementara yang masuk hampir semua sekolah tingkat SMA di Kota Semarang sudah melakukan.

“Saya tengah minta merekap semua jenjang sekolah, termasuk SD-SMP. Masih saya tunggu, mudah-mudahan hari ini sudah ada laporan. Sampai kemarin belum pada melaporkan,” kata Ganjar.

Sementara itu, Kepala SMAN 10 Kota Semarang Sukirna mengatakan, PTM 100 persen sudah dilakukan sejak hari pertama masuk sekolah pascalibur (3/1). Sebelumnya, pihak sekolah sudah memberikan surat edaran kepada orang tua siswa terkait pelaksanaan PTM terbatas dengan prokes ketat.

“Respons orang tua banyak yang senang, selama ini belum ada yang menyatakan keberatan. Siswa juga lebih senang belajar tatap muka daripada PJJ (pembelajaran jarak jauh). Yang agak berat ini guru-gurunya karena mengajar dua kali,” terang Sukirna. (bay/ria)

SEMARANG – Sejumlah sekolah di Kota Semarang, khususnya tingkat SMA/SMK telah melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen sejak kemarin. Pagi ini (4/1), Ganjar pun melalukan inspeksi mendadak (sidak) ke SMAN 11 Kota Semarang dan SMAN 10 Kota Semarang untuk meninjau pelaksanaan PTM 100 persen tersebut.

Berdasarkan pantauan di dua sekolah tersebut Ganjar memberikan beberapa catatan terkait pelaksanaan PTM 100 persen.

Di SMAN 10 Kota Semarang misalnya. Pembatasan kapasitas siswa dilakukan dengan membagi kelompok belajar menjadi dua. Untuk masing-masing kelas, siswa dibagi 50 persen masuk pagi dan 50 persen lainnya masuk siang.

“Ternyata beberapa di antaranya punya model-model. Satu, modelnya setengah-setengah, jadi 50 persen anak belajar sampai pukul 12.00, terus kemudian setelah pukul 12.00 kelas berikutnya, sehingga kelas hanya diisi setengah (kapasitas),” kata Ganjar.

Model berbeda diterapkan di SMAN 11 Kota Semarang. Di sana, 100 persen siswa belajar di sekolah sejak pukul 07.30-12.00. Sekolah melakukan pengawasan ketat sejak peserta didik memasuki lingkungan sekolah dan masih menutup kantin sekolah.

“Tapi tadi saya melihat ada satu yang full 100 persen sekolahnya sampai pukul 12.00. Meskipun kantin masih tutup dan mereka bawa (bekal) sendiri, tapi jaraknya masih terlalu mepet karena satu bangku ada dua anak. Saya minta nanti untuk dievaluasi,” papar Ganjar.

Bagaimana pelaksanaan protokol kesehatannya? Ganjar melihat prokes dilaksanakan relatif sudah bagus. Siswa dan guru cukup disiplin dari proses awal sampai akhir.

Baca Juga :  Soal Regulasi Vaksinasi Booster, Ganjar: Kita Masih Tunggu Pusat

Meski demikian, Ganjar tetap menegaskan agar sekolah terus memantau aktivitas siswa selama di sekolah. Ia meminta ada satgas atau pengawas yang rutin berkeliling sekolah untuk mengingatkan warga sekolah, baik siswa maupun guru.

“Misal tadi ada seorang guru lupa copot masker, katanya sebentar. Itu yang kadang-kadang kita lupa, nah itu kita ingatkan. Jadi bukan hanya kepada peserta didik, tetapi gurunya juga mesti diingatkan. Kalau melihat semangat anak-anak sih bagus, mereka merasa ini seperti sudah mendekati normal dan mereka bisa menjaga,” papar Ganjar.

Sejauh ini, lanjut dia, pendataan masih terus berjalan terkait jumlah sekolah di Jateng yang melaksanakan PTM 100 persen. Laporan sementara yang masuk hampir semua sekolah tingkat SMA di Kota Semarang sudah melakukan.

“Saya tengah minta merekap semua jenjang sekolah, termasuk SD-SMP. Masih saya tunggu, mudah-mudahan hari ini sudah ada laporan. Sampai kemarin belum pada melaporkan,” kata Ganjar.

Sementara itu, Kepala SMAN 10 Kota Semarang Sukirna mengatakan, PTM 100 persen sudah dilakukan sejak hari pertama masuk sekolah pascalibur (3/1). Sebelumnya, pihak sekolah sudah memberikan surat edaran kepada orang tua siswa terkait pelaksanaan PTM terbatas dengan prokes ketat.

“Respons orang tua banyak yang senang, selama ini belum ada yang menyatakan keberatan. Siswa juga lebih senang belajar tatap muka daripada PJJ (pembelajaran jarak jauh). Yang agak berat ini guru-gurunya karena mengajar dua kali,” terang Sukirna. (bay/ria)

Most Read

Artikel Terbaru

/