alexametrics
26.9 C
Kudus
Tuesday, August 2, 2022

Musim Kemarau Basah, Dinputaru Demak Mulai Antisipasi

Demak – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinputaru) Pemkab Demak, mulai melakukan antisipasi untuk menghadapi kemarau basah. Dampak kemarau basah ini memiliki karakteristik lebih banyak hujan daripada kemaraunya.

Kondisi tersebut cukup berdampak pada petani, utamanya dalam penanaman palawija. Banyak petani yang gagal tanam, termasuk saat menebar benih kacang hijau di sawah.

Kabid Pengelola Sumber Daya Alam (PSDA) dan Bina Konstruksi, Maheswara Winiati melalui Subkor Operasi dan Pemeliharaan (OP), Suroso mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, utamanya yang tergabung dalam komisi pengairan.


Koordinasi ini dilakukan agar ada antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Menurutnya, komisi pengairan telah merangkum semua hal terkait dampak cuaca kemarau basah tersebut. Komisi irigasi telah memberikan gambaran soal cuaca yang lebih banyak hujannya daripada kemaraunya. Tentu, satu sisi kebutuhan air tercukupi.

Baca Juga :  Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Terapung di Perairan Demak

“Namun, di sisi lain, para petani juga harus bisa mengantisipasi dampak kemarau basah ini, terutama dampaknya bagi tanaman pangan atau pola tanam yang dilakukan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kabupaten Demak menganut pola tanam tiga kali. Yaitu, tanam padi, padi dan palawija. Saat ini yang paling terdampak gangguan cuaca kemarau basah adalah pola tanam palawija, lantaran terlalu banyak air.

Menurutnya, kemarau panas diperkirakan hanya berlangsung antara Agustus hingga September. Selebihnya, akan banyak curah hujannya. (Radar Semarang)

Demak – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (Dinputaru) Pemkab Demak, mulai melakukan antisipasi untuk menghadapi kemarau basah. Dampak kemarau basah ini memiliki karakteristik lebih banyak hujan daripada kemaraunya.

Kondisi tersebut cukup berdampak pada petani, utamanya dalam penanaman palawija. Banyak petani yang gagal tanam, termasuk saat menebar benih kacang hijau di sawah.

Kabid Pengelola Sumber Daya Alam (PSDA) dan Bina Konstruksi, Maheswara Winiati melalui Subkor Operasi dan Pemeliharaan (OP), Suroso mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak terkait, utamanya yang tergabung dalam komisi pengairan.

Koordinasi ini dilakukan agar ada antisipasi terhadap dampak yang ditimbulkan. Menurutnya, komisi pengairan telah merangkum semua hal terkait dampak cuaca kemarau basah tersebut. Komisi irigasi telah memberikan gambaran soal cuaca yang lebih banyak hujannya daripada kemaraunya. Tentu, satu sisi kebutuhan air tercukupi.

Baca Juga :  Mayat Perempuan Tanpa Identitas Ditemukan Terapung di Perairan Demak

“Namun, di sisi lain, para petani juga harus bisa mengantisipasi dampak kemarau basah ini, terutama dampaknya bagi tanaman pangan atau pola tanam yang dilakukan,” ujarnya.

Seperti diketahui, Kabupaten Demak menganut pola tanam tiga kali. Yaitu, tanam padi, padi dan palawija. Saat ini yang paling terdampak gangguan cuaca kemarau basah adalah pola tanam palawija, lantaran terlalu banyak air.

Menurutnya, kemarau panas diperkirakan hanya berlangsung antara Agustus hingga September. Selebihnya, akan banyak curah hujannya. (Radar Semarang)


Most Read

Artikel Terbaru

/