5 Figur yang Berpeluang Menggantikan Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Mahendra Aditya Restiawan• Minggu, 1 Maret 2026 | 12:51 WIB
Iran
TEHERAN - Wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pascaserangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026 mengguncang struktur politik Republik Islam Iran.
Konfirmasi kematian disampaikan media pemerintah Iran dan diperkuat oleh pernyataan pejabat tinggi di Washington serta Tel Aviv.
Dalam pernyataan resminya, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyebut Khamenei “meraih kesyahidan” setelah serangan udara besar yang menyasar fasilitas strategis di Teheran.
Kematian pemimpin yang berkuasa sejak 1989 itu memicu babak baru dalam politik Iran: proses suksesi.
Sesuai konstitusi, penentuan pemimpin tertinggi berada di tangan Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama senior.
Namun, situasi keamanan yang belum stabil dan gugurnya sejumlah elite militer membuat proses ini diprediksi berlangsung dalam tekanan besar.
Berikut lima nama yang kerap disebut analis dan media internasional sebagai kandidat potensial penerus Khamenei:
1. Mojtaba Khamenei (56 Tahun)
Putra kedua Khamenei ini lama disebut memiliki pengaruh kuat di lingkaran dalam kekuasaan.
Meski tidak memegang jabatan resmi negara, Mojtaba diyakini punya relasi dekat dengan IRGC dan milisi Basij—dua pilar keamanan utama Iran.
Kedekatannya dengan aparat keamanan bisa menjadi modal penting.
Namun, ada hambatan besar: tradisi pewarisan dari ayah ke anak bertentangan dengan semangat Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan monarki.
Selain itu, ia bukan ulama berpangkat tinggi dan pernah masuk daftar sanksi AS pada 2019.
2. Alireza Arafi (67 Tahun)
Sebagai wakil ketua Majelis Ahli dan tokoh penting dalam Dewan Garda, Arafi memiliki pengalaman birokrasi dan keagamaan yang solid.
Ia juga memimpin jaringan seminari (hawzah) di Iran, menjadikannya figur yang kuat secara institusional.
Sejumlah pengamat menilai penempatannya di berbagai posisi strategis menunjukkan kepercayaan besar dari Khamenei semasa hidupnya.
Namun, Arafi tidak dikenal memiliki pengaruh kuat di kalangan militer atau IRGC, yang sering menjadi faktor penentu dalam dinamika kekuasaan Iran.
3. Mohammad Mehdi Mirbagheri (Awal 60-an)
Mirbagheri dikenal sebagai ulama garis keras dan salah satu representasi kubu paling konservatif di Iran.
Ia merupakan anggota Majelis Ahli dan memimpin lembaga pendidikan agama di Qom.
Pandangan ideologisnya tegas anti-Barat dan mendukung garis konfrontatif terhadap Amerika Serikat dan sekutunya.
Jika terpilih, banyak analis memprediksi kebijakan luar negeri Iran akan semakin keras, yang berpotensi memperdalam isolasi internasional negara tersebut.
4. Hassan Khomeini (Awal 50-an)
Sebagai cucu pendiri Republik Islam, Ruhollah Khomeini, Hassan Khomeini memiliki legitimasi historis yang kuat.
Ia saat ini mengelola mausoleum kakeknya dan aktif dalam kegiatan keagamaan.
Meski demikian, ia tidak memiliki jabatan strategis dalam struktur pemerintahan dan dinilai kurang memiliki dukungan dari elite keamanan.
Sikapnya yang relatif moderat juga membuatnya kurang diterima di kalangan garis keras.
Pada 2016, pencalonannya sebagai anggota Majelis Ahli bahkan pernah didiskualifikasi.
5. Hashem Hosseini Bushehri (Akhir 60-an)
Bushehri menjabat sebagai wakil ketua pertama Majelis Ahli.
Posisinya dalam lembaga yang menentukan suksesi memberi keuntungan prosedural dalam proses pemilihan.
Ia dikenal dekat dengan lingkaran ulama senior dan memiliki reputasi sebagai tokoh religius yang berpengalaman.
Namun, pengaruh politiknya dinilai tidak sekuat kandidat lain, terutama dalam relasinya dengan IRGC.
Dinamika Suksesi dan Masa Depan Iran
Proses pergantian pemimpin tertinggi kali ini terjadi dalam situasi luar biasa: serangan militer, tekanan internasional, serta respons balasan Iran ke berbagai titik strategis di kawasan.
Selain pertimbangan keagamaan, faktor stabilitas keamanan dan dukungan militer akan sangat menentukan.
Banyak pengamat menilai bahwa siapa pun yang terpilih akan menghadapi tantangan berat: menjaga konsolidasi internal, merespons tekanan global, serta menentukan arah kebijakan nuklir dan pertahanan Iran ke depan.
Suksesi ini bukan hanya soal pergantian figur, tetapi juga arah masa depan Republik Islam—apakah akan tetap mempertahankan garis keras konfrontatif, atau membuka peluang perubahan kebijakan di tengah krisis regional yang semakin kompleks.