RADAR KUDUS - Konflik terbuka di Timur Tengah memasuki fase baru setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan dimulainya serangan besar ke Israel.
Gelombang pertama disebut melibatkan rudal balistik jarak menengah dan pesawat tanpa awak (drone) yang diarahkan ke sejumlah target strategis.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip media internasional seperti Times of Israel dan Al Jazeera, IRGC menegaskan operasi tersebut merupakan respons langsung atas apa yang mereka sebut sebagai agresi “kriminal dan bermusuhan” terhadap Republik Islam Iran.
Teheran menilai serangan sebelumnya oleh Israel dan Amerika Serikat telah melewati batas.
Sirene Meraung dari Utara hingga Selatan Israel
Militer Israel melaporkan dalam satu jam terakhir sejumlah rudal terdeteksi meluncur dari wilayah Iran.
Sirene peringatan bahaya berbunyi di berbagai kota, dari kawasan utara dekat perbatasan Lebanon hingga wilayah selatan.
Israel Defense Forces (IDF) langsung mengaktifkan sistem pertahanan udara berlapis, termasuk Iron Dome dan sistem intersepsi lainnya.
Warga diminta tetap berada di dekat bunker atau ruang perlindungan bom sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.
Otoritas medis Israel menyatakan belum menerima laporan korban jiwa akibat hantaman langsung.
Namun, aparat keamanan menegaskan situasi masih berkembang cepat dan potensi gelombang serangan lanjutan tetap ada.
AS Turun Tangan, Targetkan Fasilitas IRGC
Eskalasi meningkat setelah Washington secara resmi terlibat dalam operasi militer terhadap Iran.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan komitmen kuat membela keamanan Israel.
Laporan sejumlah media Barat menyebutkan bahwa kekuatan udara AS di kawasan telah bergabung dengan Angkatan Udara Israel dalam operasi terkoordinasi.
Pesawat tempur jarak jauh dan rudal presisi dikabarkan menargetkan fasilitas militer serta infrastruktur strategis milik IRGC di beberapa wilayah Iran.
Ledakan besar dilaporkan terdengar di sejumlah titik, termasuk pinggiran Teheran.
Penutupan wilayah udara Iran dan peningkatan status siaga militer di Tel Aviv serta kota-kota besar lainnya memperlihatkan betapa seriusnya eskalasi kali ini.
Ancaman Perang Regional Menguat
Keterlibatan langsung Pentagon menandai babak baru konfrontasi terbuka yang sebelumnya lebih banyak berlangsung melalui serangan terbatas dan operasi bayangan.
Analis keamanan menilai situasi ini berpotensi meluas menjadi perang regional jika kelompok sekutu Iran di Lebanon, Suriah, atau Irak ikut terseret.
Pasar global mulai merespons. Harga minyak mentah dilaporkan bergerak naik tajam karena kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dari kawasan Teluk.
Jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz juga menjadi perhatian, mengingat perannya yang vital dalam distribusi energi dunia.
Sejumlah negara mengeluarkan imbauan perjalanan bagi warganya untuk menghindari wilayah konflik.
Maskapai internasional pun mulai mengalihkan rute penerbangan demi alasan keselamatan.
Hingga Sabtu sore waktu setempat, belum ada konfirmasi angka korban dari kedua pihak.
Namun satu hal menjadi jelas: konfrontasi Iran–Israel yang kini melibatkan AS bukan lagi sekadar perang retorika.
Dunia kini menghadapi risiko nyata konflik berskala besar yang bisa mengguncang stabilitas Timur Tengah dan ekonomi global.
Editor : Mahendra Aditya