Perundingan AS–Iran Buntu, Selat Hormuz Jadi Batu Sandungan Utama

RADAR KUDUS – Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih belum membuahkan hasil konkret.
Salah satu isu krusial yang memicu perbedaan tajam adalah status Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.
Wakil Presiden AS J.D. Vance menyampaikan bahwa dirinya kembali ke Washington tanpa membawa kesepakatan setelah memimpin delegasi AS dalam pertemuan tatap muka dengan Iran yang dimediasi Pakistan.
Pembicaraan bahkan berlanjut hingga hari kedua pada Minggu (12/4) di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang dinilai semakin rapuh.
Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.
Media Iran menilai perbedaan pandangan, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
Laporan CNN yang mengutip pejabat Iran menyebut status selat tersebut tidak akan berubah tanpa adanya “kerangka bersama” antara kedua negara.
Iran juga menilai tuntutan Washington terlalu berlebihan sehingga memperlambat proses perundingan.
Penutupan efektif jalur Selat Hormuz sebelumnya mengguncang pasar global dan memicu lonjakan harga energi.
Jalur sempit ini sangat vital karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintas di sana, termasuk pengiriman minyak mentah, LNG, dan pupuk ke Asia serta kawasan lain.



