Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Netanyahu Dikritik Usai Gagal Wujudkan Target Penggulingan Iran

A
Penulis: Ali Mustofa❯

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Benjamin Netanyahu (X: _GlobeObserver)
Benjamin Netanyahu (X: _GlobeObserver)

RADAR KUDUS – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut berada dalam posisi sulit setelah tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada Rabu (8/4/2026).

Kesepakatan tersebut dinilai membuat Israel menjadi pihak yang paling dirugikan dalam konflik terbaru ini.

Meski kesepakatan damai telah diumumkan, Netanyahu tidak menyinggung kegagalan Israel dalam mewujudkan target perang yang sebelumnya dicanangkan.

Sasaran tersebut meliputi penggulingan pemerintahan Iran, penghancuran kemampuan produksi dan peluncuran rudal balistik, hingga penghapusan ancaman nuklir Teheran, sebagaimana dilaporkan France 24.

Kritik Oposisi Menguat

Pemimpin oposisi utama Yair Lapid menyebut situasi ini sebagai kegagalan diplomatik dan keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Mengutip The Guardian, Lapid menilai Israel bahkan tidak dilibatkan dalam perundingan yang menyangkut kepentingan keamanan nasionalnya.

Ia mengakui militer telah menjalankan tugas dengan baik dan masyarakat menunjukkan ketahanan, namun menurutnya kegagalan terjadi di tingkat politik dan strategi.

Lapid menegaskan bahwa dampak dari kesalahan tersebut akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Partai Demokrat Israel Yair Golan yang menilai gencatan senjata tersebut sebagai kegagalan besar yang berpotensi membahayakan masa depan negara.

Ia menilai janji kemenangan besar yang disampaikan Netanyahu tidak terwujud.

Israel Dinilai Terpinggirkan

Laporan intelijen AS sebelumnya bahkan menyebut prediksi Israel soal kemungkinan pergantian rezim di Iran sebagai hal yang tidak realistis.

Kenyataannya, pemerintahan di Teheran tetap bertahan setelah satu bulan konflik berlangsung.

Netanyahu juga dilaporkan sempat mendesak Presiden AS Donald Trump agar tidak menyetujui gencatan senjata.

Namun, keberatan tersebut diabaikan sehingga memperkuat kesan bahwa Israel tersisih oleh sekutu utamanya.

Koresponden militer Haaretz, Amos Harel, menilai kelemahan strategi perang sudah terlihat sejak awal.

Ia menyoroti kecenderungan pengambilan keputusan yang dinilai terlalu spekulatif dan kurang matang.

Dampak Internasional

Di panggung global, posisi Israel disebut semakin tertekan di tengah sorotan internasional atas konflik di Gaza yang memicu tuduhan genosida.

Sementara itu, kekuatan Korps Garda Revolusi Iran justru dinilai semakin menguat setelah mampu bertahan dari serangan.

Kesepakatan gencatan senjata yang tercapai kini disebut lebih mendekati kerangka perjanjian nuklir era Barack Obama, sesuatu yang selama bertahun-tahun berusaha digagalkan oleh Netanyahu.

Advertisement

Artikel Terkait

Trump Pertimbangkan Ganti Nama Samudra Atlantik atau Pasifik Menjadi Samudra Amerika

Trump Pertimbangkan Ganti Nama Samudra Atlantik atau Pasifik Menjadi Samudra Amerika

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan gagasan untuk mengubah nama sejumlah wilayah perairan.

Katy Perry Kecam Penggunaan Firework dalam Video Serangan Iran, Tegaskan Musiknya Bukan untuk Perang

Katy Perry Kecam Penggunaan Firework dalam Video Serangan Iran, Tegaskan Musiknya Bukan untuk Perang

Katy Perry mengecam penggunaan lagu Firework dalam video bernuansa militer yang diunggah akun resmi Gedung Putih. Ia menegaskan karya tersebut dibuat untuk membawa harapan dan persatuan, bukan perang.

AS–Iran Capai Terobosan di Swiss: Kesepakatan Jalur Koordinasi Redakan Konflik Lebanon dalam 60 Hari

AS–Iran Capai Terobosan di Swiss: Kesepakatan Jalur Koordinasi Redakan Konflik Lebanon dalam 60 Hari

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat hanya beberapa jam sebelum dimulainya perundingan tingkat tinggi di Swiss.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer