Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Hezbollah Tegaskan Tak Ikut Perang Jika AS Serang Terbatas Iran, Tapi Khamenei Jadi Garis Merah

M

Bendera Amerika Serikat dan Iran berhadapan di tengah meningkatnya ketegangan menjelang pembicaraan nuklir krusial di Oman.
Bendera Amerika Serikat dan Iran berhadapan di tengah meningkatnya ketegangan menjelang pembicaraan nuklir krusial di Oman.


Advertisement

RADAR KUDUS - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas.

Kelompok milisi Lebanon, Hezbollah, menyatakan tidak akan terlibat langsung apabila Amerika Serikat melancarkan serangan militer yang bersifat “terbatas” ke Iran.

Namun, sikap itu bisa berubah drastis jika serangan menyasar Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Advertisement

Pernyataan tersebut disampaikan seorang pejabat Hezbollah kepada AFP dan dikutip berbagai media internasional.

Intinya jelas: selama operasi militer Washington tidak bertujuan menjatuhkan rezim Tehran atau mengincar figur kunci negara, kelompok tersebut memilih tidak turun tangan secara militer.

Serangan Terbatas, Hezbollah Pilih Menahan Diri

Menurut sumber internal Hezbollah, jika Presiden AS, Donald Trump, benar-benar menginstruksikan serangan dengan skala terbatas, organisasi itu akan menahan diri dari keterlibatan langsung.

Sikap ini dipandang sebagai upaya menghindari perang regional yang lebih luas.

Advertisement

Namun, garis tegas ditarik jika target serangan mengarah pada Khamenei atau upaya nyata menggulingkan pemerintahan Iran.

Dalam skenario tersebut, Hezbollah mengindikasikan akan menggunakan kekuatan militernya.

Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa konflik antara Washington dan Tehran bisa menjalar cepat ke Lebanon, Suriah, hingga Israel.

Situasi menjadi semakin sensitif karena Hezbollah dikenal sebagai sekutu strategis Iran dan memiliki hubungan militer serta ideologis yang kuat dengan Tehran.

Israel Ancam Serang Lebanon Jika Hezbollah Terlibat

Di sisi lain, Israel memberi peringatan keras kepada Lebanon.

Dua pejabat senior Lebanon kepada Reuters menyebutkan bahwa Israel siap memperluas target serangan hingga ke infrastruktur sipil jika Hezbollah ikut campur dalam konflik AS–Iran.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, secara terbuka meminta Hezbollah tidak menyeret negaranya ke dalam “petualangan baru” yang berisiko menghancurkan stabilitas domestik.

Lebanon sendiri masih bergulat dengan krisis ekonomi dan politik berkepanjangan.

Hubungan Israel–Hezbollah memang telah lama diwarnai konflik bersenjata.

Dalam perang singkat pada 2024, Israel melancarkan operasi besar yang menewaskan ribuan pejuang Hezbollah, termasuk mantan sekretaris jenderalnya, Hassan Nasrallah. Sejumlah fasilitas militer dan persenjataan kelompok itu juga dilaporkan hancur.

Meski demikian, para analis menilai kapasitas tempur Hezbollah belum sepenuhnya lumpuh dan masih menjadi ancaman serius bagi Israel jika perang skala penuh pecah kembali.

Trump Tekan Iran Soal Nuklir

Sementara itu, Presiden Trump kembali menekan Iran dalam isu program nuklir.

Dalam pernyataan kepada media, ia menegaskan bahwa Iran menginginkan kesepakatan, tetapi belum bersedia menyatakan komitmen tegas untuk tidak membangun senjata nuklir.

Pernyataan tersebut disampaikan menjelang agenda kenegaraan di Washington dan dilaporkan oleh jurnalis senior Bret Baier dari Fox News.

Trump menyindir bahwa Tehran belum mampu mengucapkan “kalimat suci” yang menyatakan mereka tidak akan mengembangkan senjata nuklir.

Di tengah ketegangan ini, militer AS dilaporkan memperkuat kehadirannya di kawasan Teluk.

Armada laut dan sistem pertahanan tambahan ditempatkan sebagai sinyal kesiapan menghadapi segala kemungkinan.

Sikap Baru Pimpinan Hezbollah

Menariknya, pemimpin baru Hezbollah, Naim Qassem, sebelumnya menyatakan bahwa kelompoknya “tidak netral” dalam konfrontasi antara Washington dan Tehran.

Dalam pidato televisi bulan lalu, ia menegaskan bahwa Hezbollah akan mempertimbangkan langkah yang tepat sesuai perkembangan situasi.

Pernyataan itu menunjukkan adanya ruang fleksibilitas strategi.

Hezbollah tampak berusaha menjaga keseimbangan: tidak langsung memicu perang besar, tetapi tetap menunjukkan loyalitas politik terhadap Iran.

Negosiasi Nuklir Jadi Penentu

Di tengah memanasnya retorika, jalur diplomasi masih terbuka.

Putaran ketiga negosiasi antara AS dan Iran mengenai program nuklir dijadwalkan berlangsung pekan ini.

Sejumlah pengamat menilai, hasil pembicaraan tersebut akan menjadi penentu apakah kawasan bergerak menuju de-eskalasi atau justru konfrontasi militer.

Sejarah panjang konflik antara Iran, Israel, dan kelompok-kelompok bersenjata di Lebanon menjadikan setiap pernyataan politik berdampak besar pada stabilitas regional.

Jika AS benar-benar melancarkan serangan terbatas, respons Hezbollah akan menjadi variabel krusial yang menentukan apakah konflik tetap terkendali atau berubah menjadi perang terbuka.

Untuk saat ini, pesan Hezbollah cukup jelas: mereka memilih menahan diri — tetapi hanya sampai batas tertentu.

Garis merah sudah ditarik, dan dunia menunggu apakah batas itu akan dilewati atau tidak.

Advertisement

Artikel Terkait

AS dan Iran Masih Buntu, Trump Soroti Blokade Selat Hormuz

AS dan Iran Masih Buntu, Trump Soroti Blokade Selat Hormuz

Donald Trump dikabarkan frustrasi karena negosiasi dengan Iran menemui jalan buntu. AS kini mempertimbangkan opsi baru, termasuk operasi militer terkait Selat Hormuz dan program nuklir Iran.

Trump Tutup Pintu Dialog, Iran Siapkan Mode Ofensif: Selat Hormuz Kembali Memanas

Trump Tutup Pintu Dialog, Iran Siapkan Mode Ofensif: Selat Hormuz Kembali Memanas

Trump menegaskan tak ada dialog dengan Iran setelah kesepakatan gencatan senjata berakhir. Teheran merespons dengan postur militer ofensif dan mempertahankan ancaman penutupan Selat Hormuz.

Harga Minyak Dunia Melonjak 10% dalam Dua Hari, Krisis Selat Hormuz Kembali Guncang Pasar Global

Harga Minyak Dunia Melonjak 10% dalam Dua Hari, Krisis Selat Hormuz Kembali Guncang Pasar Global

Harga minyak dunia melonjak lebih dari 10 persen hanya dalam dua hari setelah konflik AS-Iran kembali memanas di Selat Hormuz. Pasar khawatir gangguan pasokan energi global memicu lonjakan harga lebih tinggi.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer