PUJA Ratna Sari kini sukses bisnis madu. Perempuan berusia 22 tahunan itu, banyak berinovasi di bidang bisnis.
Sejak tahun 2000 ia bersama keluarga memulai bisnis itu. Ada peternakan lebah hingga produksi madu.
Karena masih muda, ia pun berinovasi mengembangkan bisnisnya itu. Tak banyak usaha mikro yang go digitalisasi.
Dari hal itu, ia berupaya menunjang pasar digital. Selain itu, bikin personal branding.
”Saya membantu memperlancar usaha melalui digitalisasi. Kemudian memberi label dan inovasi lainnya,” terang warga Desa Ngablak, Cluwak itu.
Dia juga mengemas madu itu ke berbagai ukuran. Sehingga harga dan pasarannya terjangkau.
”Ukuran botol sirup Rp 80 ribuan sampai Rp 100 ribuan. Kemudian kemasan 250 mili itu Rp 50 ribuan,” terang lulusan Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang itu.
Ia belajar manajemen bisnis sewaktu kuliah. Bagi Puja, kuliah itu untuk dipraktikkan di kehidupan sehari-harinya.
Tak seperti kebanyakan anak kuliahan pada umumnya.
Bagaimana mengaplikasikan ilmu manajemen marketing untuk bisnis saya. Awalnya bisnis madu itu hanya dijual ke pengepul saja.
Kemudian saya kembangkan. Mulai dari digitalisasi, branding, hingga pengemasan.
”Dari situ mendapat penghargaan dari kampus,” imbuhnya.
Dari inovasinya itu, penjualan madunya tak hanya lokalan saja. Tapi ke berbagai daerah.
Seperti di Jakarta dan beberapa wilayah di Jawa. Madu-madu itu diproduksi dari peternakan lebah sendiri.
Ia bersama ayah dan kakaknya berusaha untuk menciptakan usahanya sendiri.
Perempuan kelahiran 2002 ini tak hanya menjual madu saja. Melainkan, mengedukasi masyarakat akan pentingnya madu ini.
”Manfaatnya banyak. Intinya buat kesehatan. Masyarakat ini kurang paham juga. Ini perlu diedukasi. Salah satunya membedakan yang asli dengan palsu,” tandasnya. (adr/zen)
Editor : Ali Mustofa