alexametrics
26.8 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Lawan Ego Kala Jadi Relawan

Yuni Prastika Miftakhul Jannah mengabdi menjadi relawan di komunitas Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) sejak 2018.

Perempuan asal Desa Gribig, Gebog, Kudus itu mengaku motivasi menjadi relawan muncul semenjak dia duduk di bangku SMP. Setiap kali dia melihat orang yang kondisinya dalam keadaan membutuhkan, dia merasa ingin segera melakukan sesuatu.

”Sejak jadi relawan, hampir setiap hari saya bertemu dengan wajah baru, cerita baru, senyuman, serta tangis bahagia. Bagiku, hal itu ada kepuasan tersendiri,” ucapnya.


Perempuan yang sering disapa MJ itu menyampaikan menjadi relawan harus kuat melawan ego. Serta harus memiliki jiwa sukarela dan semangat tinggi dalam melakukan hal baik bagi sesama.

”Dasaran penting ketika menjadi relawan semata-mata untuk membantu orang lain. Dan bukan untuk dipuji,” ujarnya.

Dia pun masih mengingat momen-momen paling berkesan saat berkolaborasi bersama komunitas lain untuk program penggalangan dana gempa di Lombok Tahun 2018.

”Kami berkonsolidasi dan membuat panggung seni bersama dimana banyak beberapa komunitas yang bergabung. Saat itu, nyaris membuat rumah saya penuh karena waktu itu kami belum punya basecamp sendiri di Kudus, jadi rumah saya dulu dijadikan sebagai posko transit donasi,” ucap MJ.

Dalam pengalamannya, dia juga pernah mengajak berbagai aliansi mahasiswa muslim. Beberapa sekolah dan komunitas untuk turut berkolaborasi membantu saudara muslim di Palestina.

Baca Juga :  Tak hanya Jadi Bidan, Dwi Putri Puspitasari juga Kuasai 30 Menu Kopi

”Pada saat itu mereka yang ikut membantu nyaris ratusan orang. Mereka menggalangkan donasi bagi saudara muslim di Palestina,” imbuhnya.

Dia juga menceritakan, selain momen suka cita yang dirasakan ketika menjadi relawan. Di sisi lain juga ada hal yang terkadang tidak sesuai ekspektasi.

Misalnya, suatu waktu ketika sedang membutuhkan banyak relawan yang harus diterjunkan ke daerah banjir di Setrokalangan, kebetulan banyak relawan yang berhalangan. Jadi pada saat itu juga butuh effort double. Dan baginya itu cukup menguras tenaga.

Menurutnya, menjadi relawan bukan hanya modal nekat, tapi juga harus pintar meng-upgrade diri dengan berbagai skill agar bisa mendukung kegiatan kerelawanan.

”Kebetulan di komunitas saya itu ada akademi relawan Indonesia yang merupakan tempat mengupgrade skill. Kami banyak belajar tentang cluster filantropi, cluster medis, cluster humanity program, cluster penanganan kebencanaan, pelatihan leadership, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Perempuan yang sekarang menjadi Ketua Bidang Filantropi Daerah Perwakilan Wilayah (DPW) MRI Jateng itu berharap keistiqomahan dalam dunia kerelawanan dapat terus terjaga. Karena menjadi relawan membawa harapan di tengah masyarakat serta memperluas kebermanfaatan untuk orang-orang yang membutuhkan. (ark/zen)

Yuni Prastika Miftakhul Jannah mengabdi menjadi relawan di komunitas Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) sejak 2018.

Perempuan asal Desa Gribig, Gebog, Kudus itu mengaku motivasi menjadi relawan muncul semenjak dia duduk di bangku SMP. Setiap kali dia melihat orang yang kondisinya dalam keadaan membutuhkan, dia merasa ingin segera melakukan sesuatu.

”Sejak jadi relawan, hampir setiap hari saya bertemu dengan wajah baru, cerita baru, senyuman, serta tangis bahagia. Bagiku, hal itu ada kepuasan tersendiri,” ucapnya.

Perempuan yang sering disapa MJ itu menyampaikan menjadi relawan harus kuat melawan ego. Serta harus memiliki jiwa sukarela dan semangat tinggi dalam melakukan hal baik bagi sesama.

”Dasaran penting ketika menjadi relawan semata-mata untuk membantu orang lain. Dan bukan untuk dipuji,” ujarnya.

Dia pun masih mengingat momen-momen paling berkesan saat berkolaborasi bersama komunitas lain untuk program penggalangan dana gempa di Lombok Tahun 2018.

”Kami berkonsolidasi dan membuat panggung seni bersama dimana banyak beberapa komunitas yang bergabung. Saat itu, nyaris membuat rumah saya penuh karena waktu itu kami belum punya basecamp sendiri di Kudus, jadi rumah saya dulu dijadikan sebagai posko transit donasi,” ucap MJ.

Dalam pengalamannya, dia juga pernah mengajak berbagai aliansi mahasiswa muslim. Beberapa sekolah dan komunitas untuk turut berkolaborasi membantu saudara muslim di Palestina.

Baca Juga :  Wisata untuk Identitas Kota

”Pada saat itu mereka yang ikut membantu nyaris ratusan orang. Mereka menggalangkan donasi bagi saudara muslim di Palestina,” imbuhnya.

Dia juga menceritakan, selain momen suka cita yang dirasakan ketika menjadi relawan. Di sisi lain juga ada hal yang terkadang tidak sesuai ekspektasi.

Misalnya, suatu waktu ketika sedang membutuhkan banyak relawan yang harus diterjunkan ke daerah banjir di Setrokalangan, kebetulan banyak relawan yang berhalangan. Jadi pada saat itu juga butuh effort double. Dan baginya itu cukup menguras tenaga.

Menurutnya, menjadi relawan bukan hanya modal nekat, tapi juga harus pintar meng-upgrade diri dengan berbagai skill agar bisa mendukung kegiatan kerelawanan.

”Kebetulan di komunitas saya itu ada akademi relawan Indonesia yang merupakan tempat mengupgrade skill. Kami banyak belajar tentang cluster filantropi, cluster medis, cluster humanity program, cluster penanganan kebencanaan, pelatihan leadership, dan lain sebagainya,” ujarnya.

Perempuan yang sekarang menjadi Ketua Bidang Filantropi Daerah Perwakilan Wilayah (DPW) MRI Jateng itu berharap keistiqomahan dalam dunia kerelawanan dapat terus terjaga. Karena menjadi relawan membawa harapan di tengah masyarakat serta memperluas kebermanfaatan untuk orang-orang yang membutuhkan. (ark/zen)


Most Read

Artikel Terbaru

/