alexametrics
23.8 C
Kudus
Friday, May 27, 2022

Berani Emban Tanggung Jawab

SEJAK 2020, Atmimlana Nurrona, 21, memilih berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPM). Menurutnya, unit kegiatan mahasiswa (UKM) tersebut sinkron dengan program studi yang dia pilih yakni Komunikasi Penyiaran Islam.

Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus kelahiran 11 November 2000 itu mengikuti UKM LPM bernama Paradigma. Saat bergabung, dari situ dia belajar banyak mengenai kepenulisan berita, public speaking serta dunia reporter.

Kabar baiknya, pada 2022 ini, dia terpilih sebagai pemimpin redaksi (Pemred) LPM Paradigma. ”Itu benar, tetapi belum pelantikan. Baru reorganisasi pada Desember 2021 lalu,” katanya.


Hal yang membuatnya berani untuk mengemban tanggung jawab pemimpin LPM ialah karena sebelumnya dia sempat menjadi bagian dari divisi redaksi sebagai redaktur berita. ”Yang membuat saya berani mengemban tanggung jawab sebagai Pemred adalah dukungan dari teman-teman saya,” ujarnya.

Saat diberi amanah, kata dia, maka harus berani untuk bertanggung jawab dan dia juga mengaku merasa tertantang dengan tanggung jawab itu.

Ditanya soal pandangan seorang perempuan di dunia pers, dengan penuh keyakinan dia menjawab bahwa perempuan di dunia pers tentunya lebih baik. Menurutnya, kaum perempuan dapat memperjuangkan kesetaraan gender dan berani untuk mengkritisi hal-hal yang berbentuk diskriminasi terhadap perempuan lewat tulisan. Seperti pahlawan emansipasi wanita, RA. Kartini yang berani mengkritik hal-hal yang menurutnya tidak adil bagi perempuan di ranah masyarakat, budaya, bahkan politik.

Baca Juga :  Pecah Rekor seperti Mama

Tetapi kebanyakan media menggambarkan sosok kartini adalah perempuan yang sopan dan kalem, dengan kebaya dan kondenya saja. Sementara kritik-kritik tajamnya tidak muncul bahkan terkesan dilupakan. Hal itu sesuai dengan buku yang pernah dia baca yakni Kartini The Complet Writings 1898-1904.

Lebih lanjut, dia mengatakan, persma itu perlu untuk meningkatkan kualitas produk jurnalistik. Mengingat kinerja wartawan kampus sangat dibutuhkan warga kampus sebagai penyedia informasi, wartawan diharuskan menyajikan berita akurat dan terpercaya. Menyajikan berita yang berimbang dan tidak memihak, misalnya berani mengkritik saat birokrasi kampus tengah menyeleweng.

”Selain itu, saya berharap LPM lebih berani untuk mengepakkan sayap lebih lebar lagi, persma tidak hanya meliput isu seputar kampus tetapi juga kritis terhadap isu yang sedang terjadi di luar,” tambahnya. (ark/zen)

SEJAK 2020, Atmimlana Nurrona, 21, memilih berkecimpung di lembaga pers mahasiswa (LPM). Menurutnya, unit kegiatan mahasiswa (UKM) tersebut sinkron dengan program studi yang dia pilih yakni Komunikasi Penyiaran Islam.

Mahasiswi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus kelahiran 11 November 2000 itu mengikuti UKM LPM bernama Paradigma. Saat bergabung, dari situ dia belajar banyak mengenai kepenulisan berita, public speaking serta dunia reporter.

Kabar baiknya, pada 2022 ini, dia terpilih sebagai pemimpin redaksi (Pemred) LPM Paradigma. ”Itu benar, tetapi belum pelantikan. Baru reorganisasi pada Desember 2021 lalu,” katanya.

Hal yang membuatnya berani untuk mengemban tanggung jawab pemimpin LPM ialah karena sebelumnya dia sempat menjadi bagian dari divisi redaksi sebagai redaktur berita. ”Yang membuat saya berani mengemban tanggung jawab sebagai Pemred adalah dukungan dari teman-teman saya,” ujarnya.

Saat diberi amanah, kata dia, maka harus berani untuk bertanggung jawab dan dia juga mengaku merasa tertantang dengan tanggung jawab itu.

Ditanya soal pandangan seorang perempuan di dunia pers, dengan penuh keyakinan dia menjawab bahwa perempuan di dunia pers tentunya lebih baik. Menurutnya, kaum perempuan dapat memperjuangkan kesetaraan gender dan berani untuk mengkritisi hal-hal yang berbentuk diskriminasi terhadap perempuan lewat tulisan. Seperti pahlawan emansipasi wanita, RA. Kartini yang berani mengkritik hal-hal yang menurutnya tidak adil bagi perempuan di ranah masyarakat, budaya, bahkan politik.

Baca Juga :  Pecah Rekor seperti Mama

Tetapi kebanyakan media menggambarkan sosok kartini adalah perempuan yang sopan dan kalem, dengan kebaya dan kondenya saja. Sementara kritik-kritik tajamnya tidak muncul bahkan terkesan dilupakan. Hal itu sesuai dengan buku yang pernah dia baca yakni Kartini The Complet Writings 1898-1904.

Lebih lanjut, dia mengatakan, persma itu perlu untuk meningkatkan kualitas produk jurnalistik. Mengingat kinerja wartawan kampus sangat dibutuhkan warga kampus sebagai penyedia informasi, wartawan diharuskan menyajikan berita akurat dan terpercaya. Menyajikan berita yang berimbang dan tidak memihak, misalnya berani mengkritik saat birokrasi kampus tengah menyeleweng.

”Selain itu, saya berharap LPM lebih berani untuk mengepakkan sayap lebih lebar lagi, persma tidak hanya meliput isu seputar kampus tetapi juga kritis terhadap isu yang sedang terjadi di luar,” tambahnya. (ark/zen)

Most Read

Artikel Terbaru

/